Bab 5

3244 Words
“Mereka yang biasa menonton pertandingan kita kan?” tanya Doni. “Mana gue hapal sih siapa aja yang rajin datang ke pertandingan kita, Don,” jawab Rehan yang tak peduli dengan gadis yang datang ke pertandingan sepak bola mereka. “Gue juga awalnya kayak Lu enggak hapal, tapi setelah gue tahu kalau sahabat kita ada yang suka sama salah satu diantara mereka sekarang jadi hapal deh.” Celetuk Doni sambil menyenggol bahu Bintang yang sedang menikmati makanannya karena tak ingin terjebak dengan obrolan kedua sahabatnya. “Hah? Sih Bintang?” kata Rehan terkejut dengan nada meninggi hingga terdengar oleh Bintang dan seluruh siswa- siswi yang berada di Kantin. Kini sorot mata mereka tertuju pada ketiga pemuda tersebut yang begitu penasaran apa yang sedang mereka obrolkan terutama para kaum hawa. “Lu bisa jaga suara lu enggak sih.” Kata Bintang yang langsung membekap mulut Rehan karena ia takut kalau Rehan kembali bertanya siapa gadis yang dimaksud oleh Doni. Kini Bintang tersenyum tipis ke arah mereka yang sedang memperhatikan obrolan mereka. “Lanjutkan saja makan kalian,” seru Doni sambil mengalihkan perhatian. Bintang menjauhkan tangannya dari mulut Rehan. “Maaf gue refleks karena kaget tahu lu akhirnya suka sama cewek juga,” kata Rehan sambil tersenyum manis ke arah Bintang agar sahabatnya tak marah kepadanya. Bintang pun menenggak minuman miliknya dan bangkit dari tempat duduknya sambil meraih dompet yang sudah ada di hadapannya sejak tadi yang sepertinya milik salah satu dari gadis yang semeja dengan mereka. Bintang pun pergi meninggalkan kedua sahabatnya. “Lu sih Re..” kata Doni sebelum ia mengejar Bintang yang sudah pergi. “Ya kan gue enggak sengaja..” gumam Rehan lalu ia mengejar Bintang dan juga Doni. Bintang pun duduk sejenak di salah satu bangku kosong yang menghadap ke lapangan yang di ikuti oleh kedua sahabatnya. “Tapi gue penasaran siapa cewek yang bisa meluluhkan hati Bintang sih Bintang sekolah,” seru Rehan yang membuat Bintang menatapnya dengan tatapan malas. “Don, lu kasih tahu deh ke Rehan..” “Mau gue kasih tahu cerita panjangnya apa ke intinya aja nih?” goda Doni yang iseng ingin membuat Rehan semakin penasaran. “Intinya aja Doni.” Ucap Rehan kesal karena Doni mengulur waktu. “Jadi yang Bintang suka itu..” “Raina Pratama..” potong Bintang yang gemas karena Doni sengaja mengulur waktu. “Hah? Raina Pratama?” kata Rehan yang kembali terkejut dengan suaranya yang kembali meninggi hingga beberapa siswa dan siswi di sekitar mereka menoleh ke arahnya. “Sekali lagi lu enggak bisa jaga suara lu, tangan gue melayang nih ke muka lu!” ancam Bintang sambil menarik kerah seragam milik Rehan. Dan tangannya yang lain terlihat mengepal di hadapan wajah Rehan. “Oke.. Oke.. kali ini gue jaga suara gue.” Kata Rehan. Bintang pun melepaskan kerah seragam Rehan. “Lu sih, kebanyakan makan toa Masjid.” Seru Doni sambil memukul kepala Rehan dari belakang. “Sakit bego..” lirih Rehan yang meringis kesakitan. “Terus itu dompet siapa?” tanya Doni sambil menunjuk sebua dompet berwarna merah muda bergambar beruang yang jatuh ke tanah tepat di bawah kaki Bintang. Bintang pun segera meraih dompet tersebut dan membersihkannya. “Kayaknya punya salah satu diantara mereka deh, mau gue balikin nih.” Seru Bintang sambil beranjak dari tempat duduknya. “Coba gue lihat deh, punya siapa sih?” tanya Rehan sambil merebut dompet tersebut dan membukanya untuk mencari informasi sih pemilik dompet. Rehan pun menemukan sebuah kartu pelajar yang bertuliskan nama Raina Pratama. “Wah, beruntung lu Tang ini punya Rain.” Kata Rehan sambil menoleh ke arah Bintang. “Ya sudah sini biar gue balikin ke kelasnya.” Kata Bintang sambil merebut dompet dan kartu pelajar milik Raina dari tangan Rehan. Sekilas Bintang melihat kartu pelajar milik Karin lalu mengembalikannya ke dalam dompet dan bersiap menuju lantai tiga namun Doni menarik lengannya hingga Bintang menoleh ke arah Doni yang bersamaan dengan bunyi bel istirahat yang telah berakhir. “Baru mau gue kasih tahu tapi bel sudah bunyi.” Kata Doni sambil tertawa dengan jari telunjuk kanannya menunjuk ke arah langit. “Balik ke kelas dulu yuk, usul gue sih lu balikin nanti aja saat pertandingan sepak bola kan kata Doni mereka sering datang buat nonton kita tanding. Siapa tahu nanti bisa mengobrol kan?” ajak Rehan sambil merangkul bahu Bintang. Usul Rehan barusan terdengar lebih baik untuk Bintang hingga pemuda tampan tersebut mengangguk. Mereka pun akhirnya memutuskan untuk kembali ke kelas sebelum guru yang mengajar di jam mata pelajaran terakhir masuk terlebih dahulu. * * * Tepat pukul tiga sore Kai sudah berada di depan gerbang sekolah Rain. Lelaki itu bersandar di samping mobilnya dengan kedua tangannya di lipat di depan d**a. Penampilan Kai semakin keren saat menggunakan kacamata hitam hingga membuat kaum hawa muda terpesona saat melihatnya. Sementara Rain dan kedua sahabatnya baru saja sampai di lantai dasar setelah menuruni beberapa anak tangga. “Eh kamu tahu enggak kata Retno di depan gerbang ada cowok tampan plus tajir loh.” Seru seorang siswi kepada temannya saat melewati Rain dan kedua sahabatnya. “Ah yang benar kamu? Kalau begitu kita ke sana yuk sekalian cuci mata sebelum dia pergi.” Seru temannya antuasias sambil berlari ke arah pintu gerbang. “Cowok yang mereka bicarakan tadi bukannya Om kamu ya Rain?” tanya Tasya. Dan Rain pun menjawabnya dengan mengangkat kedua bahunya serta menyatukan kedua alisnya karena tidak tahu. “Tapi bisa jadi sih karena aku sendiri aja tadi pagi terpesona dengan ketampanan Om kamu itu.” Tambah Lula yang terdengar masuk akal oleh Rain dan juga Tasya. Rain pun segera berlari menuju pintu gerbang sekolah untuk mengeceknya. “Om Kai..” pekik Rain saat melihat Kai di tengah siswi yang sedang memperhatikannya, bak kupu- kupu yang sedang berada di tengah bunga- bunga yang sedang bermekaran. Rain pun melangkah maju untuk mendekati Kai. “Om kenapa ada di sini sih?” tanya Rain ketus. “Ya jemput kamulah Rain, memang tadi kamu enggak baca pesan Om?” kata Kai balik sambil membuka kacamatanya dan meletakkannya di saku kantung celananya. “Hari ini aku enggak bisa pulang bareng Om Kai karena harus mengerjakan tugas kelompok dari guru di rumah Lula.” Jawab Rain. “Ya kamu kerjakan di rumah saja Rain, ajak teman- temanmu ke rumah.” Suruh Kai sambil berjalan masuk ke dalam mobil. Rain sendiri bingung mau mencari alasan apa untuk lolos dari perintah Om Kai. “Pokoknya enggak bisa Om..” tolak Rain yang langsung membuat Kai tak jadi masuk ke dalam mobilnya. “Kenapa? Udah deh Rain jangan cari masalah Om sibuk dan harus kembali ke rumah sakit.” kata Kai yang kini terlihat kesal karena Rain menolaknya. “Materi yang untuk tugas kali ini hanya ada di rumah Lula, kalau ke rumah dulu akan buang- buang waktu Om.” Dusta Rain begitu saja yang membuat Kai berpikir masuk akal. “Oke kali ini Om ijinkan tapi ingat jangan pulang malam- malam.” Kata Kai mengingatkan dan membuat Rain menarik garis senyum di wajahnya. “Siap Om..” seru Rain sambil memberi hormat kepada Kai. “Ingat jam tujuh malam kamu sudah harus ada di rumah.” Perintah Kai yang tak di gubris oleh Rain. “Salam buat Kakek ya Om.” Kata Rain sambil mendorong Kai untuk masuk ke dalam mobil dan segera meninggalkan area sekolah. Tasya dan Lula pun menghampiri Rain saat Kai sudah mengendarai mobil dan berjalan menjauh dari sekolah. “Bagaimana Rain? Kelihatannya Om kamu percaya ya.” Tebak Tasya setelah melihat raut wajah Rain yang nampak berseri. “Iya dia percaya saat aku bilang materi tugas kita ada di rumah Lula.” Kata Rain sambil tersenyum penuh kemenangan dengan apa yang baru ia raih. “Syukurlah kalau begitu sekarang kita langsung berangkat ke tempat pertandingan olahraga sepak bola yuk.” Ajak Lula yang tidak sabar ingin segera berada di sana. “Tapi sebelum itu kita beli cemilan dan minuman dulu ya karena perut aku sudah kembali lapar.” Pinta Tasya yang di jawab anggukkan oleh Rain dan juga Lula. * * * Ketiga sahabat itu baru saja sampai di tempat pertandingan sepak bola dimana Bintang Cs akan bertanding. Baru sepuluh menit pertandingan akan di mulai namun kursi penonton yang mayoritas adalah kaum hawa tersebut sudah hampir penuh di bagian depan dan menyisakan beberapa deret di bagian atas. Rain dan kedua sahabatnya tersebut langsung mengisi deretan kursi tersebut. “Kamu sih Sya, aku usul pakai delivery enggak mau jadi kita nonton dari jauh kan.” Gerutu Lula yang merasa kesal karena harus menonton pertandingan sepak bola heem tepatnya melihat Rehan sang pujangga dari jarak jauh. “Bukannya malah bagus dari sini jadi kelihatan semua pemain bola sekolah kita.” Timpal Tasya yang tak mau kalah. “Bodo amat ah..” ucap Lula ketus namun Rain hanya bis tertawa dalam hati karena ulah kedua temannya. Rain membuka kantung makanan yang baru saja ia beli karena perutnya sudah merasa lapar sekali. “Raina Pratama,” panggil seseorang yang suaranya tak asing baginya dan kedua sahabatnya hingga mereka bertiga menoleh ke arah suara tersebut secara bersamaan. Ya itu adalah sosok Bintang yang tengah menghampiri mereka. Sungguh mereka bertiga hampir tak percaya untuk kedua kalinya mereka bisa bertemu dengan sosok Bintang lebih dekat. Apalagi Rain merasa jantungnya berdebar saat mendengar namanya di sebut. “Bintang, ada apa?” tanya Rain yang bersusah payah mengatakan hal tersebut saat lidahnya hampir kaku karena merasa terkejut dengan sosok Bintang yang memanggil namanya. “Maaf mengganggu tapi aku hanya ingin mengembalikan ini.” kata Bintang sambil memberikan dompet milik Rain yang tertinggal di Kantin tadi. Rain pun bangkit dari tempat duduknya untuk mensejajarkan posisinya dengan Bintang serta meraih dompet tersebut. Rain pun sempat melirik ke sekeliling, tampak semua gadis sedang menatap iri padanya yang bisa mengobrol dengan sosok Bintang. “Oh terima kasih Bintang, aku hampir lupa tapi dimana kamu menemukan dompet ini?” tanya Rain basa- basi yang ingin terus mengobrol dengan pemuda tampan tersebut. “Aku menemukannya di Kantin sepertinya tak sengaja tertinggal,” jawab Bintang. “Bintang..” panggil Rehan yang sambil menunjuk jam di tangan kirinya agar Bintang segera turun dan melakukan pemanasan sebelum bertanding. “Kalau begitu aku ke sana ya,” pamit Bintang. “Iya,, sekali lagi terima kasih ya kamu sudah mengembalikan dompetku dan semangat untuk pertandingan kali ini.” kata Rain tersenyum untuk menyemangati. “Terima kasih juga Rain...” balas Bintang sambil tersenyum lalu berbalik meninggalkan Rain tapi baru selangkah saja Bintang kembali berbalik. “Rain..” panggil Bintang lagi yang membuat Rain tadinya ingin duduk kembali bangkit. “Iya ada apa Bintang?” tanya Rain penasaran karena menurutnya urusan mereka sudah selesai. “Maaf ya..” kata Bintang lagi yang mendekati Rain dan tangannya mendekati wajah gadis itu untuk membersihkan bibir Rain dengan menggunakan ibu jarinya karena ada makanan yang menempel. Hal itu sontak saja kembali membuat iri serta kagum semua gadis serta teman- teman Bintang yang melihatnya. Rain pun hampir mati lemas karena Bintang melakukan hal tersebut. “Ada sisa makanan yang menempel tapi sudah hilang kok.” Ucap Bintang lagi sambil tersenyum. “Sekali lagi terima kasih..” Kata Rain singkat sebelum lidahnya kembali kaku. “Kali ini aku pergi ya, kamu jangan lupa dukung aku di sini.” Kata Bintang untuk terakhir kalinya sebelum pergi dan bergabung dengan tim sepak bolanya. Rain pun langsung dudu di kursi begitu saja seakan kedua kakinya saat ini benar- benar lemas. “Rain sini wajahmu aku mau pegang bekas tangan Bintang siapa tahu nular juga,” ucap Lula yang tak masuk akal hingga Rain dengan sigap menutup mulutnya. “Apa- apaan sih Lula, sembarang deh.” Seru Rain yang tak ingin Lula menyentuh wajahnya. “Sumpah ya Rain, kamu benar- benar beruntung diantara semua gadis yang ada di sini.” Kata Tasya sambil memeluk Rain. Sementara sorot mata Rain masih tertuju pada Bintang yang tengah menjadi bahan tertawa teman satu timnya. Namun gadis itu kembali tersenyum saat Bintang kembali menoleh ke arahnya. “Andai Rehan melakukan hal itu mungkin aku enggak akan cuci muka selama seminggu bahkan sebulan.” Kata Lula berandai- andai yang membuat Rain dan Tasya bergidik merasa jijik dengan sifat sahabatnya yang satu ini. “Kalau kamu sampai lakukan hal itu sumpah aku enggak akan dekat dengan kamu lagi, La.” Ucap Tasya. “Iya benar aku juga,” tambah Rain yang menjauhkan tubuhnya dari Lula. “Ihh kalian jahat,” kata Lula kesal yang membuat gadis itu memanyunkan bibirnya. Tasya dan Rain pun saling melirik dan tertawa lebar kala melihat Lula yang sedang kesal sendiri. “Bercanda Lula Sayang, ya sudah yuk kita makan sambil menonton pertandingannya karena sudah mulai.” Ajak Rain sambil melanjutkan makannya sambil menikmati pertandingan sepak bola yang baru saja di mulai. Namun kali ini sorot mata Rain tak pernah lepas dari Bintang yang tengah bergelut dengan sih kulit bundar. Terkadang Rain pun tersenyum sendiri saat kembali mengingat apa yang Bintang lakukan padanya hingga membuat para gadis iri kepadanya. * * * Satu jam tak terasa hingga pertandingan sepak bola berlalu sampai cemilan serta minuman yang di beli Rain dan kedua sahabatnya itu pun habis tak bersisa. Suara mereka hampir serak karena sedari tadi berteriak memberi semangat untuk para pemain dan hal itu pun terbayar dengan sebuah kemenangan yang di raih oleh tim Bintang. “Habis ini kita mau kemana?” tanya Tasya. “Aaahhh..” seru Lula sambil meregangkan otot tubuhnya yang hampir kaku karena terus duduk sedari tadi. “Kayaknya aku langsung pulang deh, soalnya takut di cariin Om Kai.” Jawab Rain sambil merapihkan barang- barang miliknya. “Aku juga mau pulang aja soalnya badanku lelah dan mengantuk.” Tambah Lula. “Ya sudah aku kalau begitu kita pula, kalian mau pulang bareng aku enggak?” tawar Lula yang kebetulan Sopirnya masih menunggu di luar karena tadi sempat mengantar ketiganya. “Aku mau, kan kita searah..” kata Lula sambil tersenyum yang memang kebetulan mereka satu arah. “Aku pulang sendiri aja naik ojek online,” tolak Rain yang memang berbeda arah. Ketiganya pun berjalan menuju pintu keluar. “Kamu yakin enggak mau pulang bareng aku?” tawar Tasya lagi. “Iya yakin kok, sudah kalian pulang hati- hati ya, aku mau pesan ojek online dulu.” Kata Rain sambil mendorong tubuh kedua sahabatnya agar segera pergi ke mobil. “Baiklah, kasih tahu ya kalau sudah sampai rumah nanti.” Kata Tasya mengingatkan sambil berjalan menuju mobilnya. “Daa Rain..” seru Lula sambil melambaikan tangan ke arahnya. “Daa Tasya.. Daa Lula..” kata Rain sambil melambaikan tangannya ke arah kedua sahabatnya. Setelah kedua sahabatnya benar- benar masuk, barulah Rain meraih ponselnya namun sayang daya ponselnya habis dan ia tak membawa power bank. “Haduh masa ia aku masuk lagi buat nge-charge ponsel doang,” gumam Rain yang bingung namun ia tak ada pilihan karena ia butuh walau hanya beberapa menit. Rain pun akhirnya kembali masuk ke dalam gedung untuk menghampiri meja kasir. “Rain, kamu belum pulang?” tanya Bintang yang melihat Rain kembali masuk seorang diri. Gadis itu tersenyum tipis sambil menggeleng. “Eh Bintang gue sama yang lain dulu ya.” Pamit Doni yang berjalan bergerombol dengan teman satu timnya. Mereka semua seakan mengerti dan memberi waktu untuk Bintang berbicara dengan Rain. “Kamu kalau mau pulang, duluan saja enggak apa- apa.” Seru Rain. “Tapi kamu bagaimana ada yang ketinggalan? Mau aku bantu ambilkan?” tawar Bintang. “Ah sebenarnya baterai ponselku habis dan mau ke kasir untuk numpang nge-charge sebentar karena mau pesan ojek online.” Jelas Rain sambil menunjukkan ponselnya yang sudah mati total ke arah Bintang. “Bagaimana kalau aku antar pulang? Itu pun kalau kamu enggak keberatan.” Tawar Bintang sedikit ragu karena ia takut Rain menolaknya. “Sebenarnya sih mau..” kata Rain sedikit berhati- hati. “Tapi aku takut kalau cewek kamu marah nanti.” Kata Rain sambil memperhatikan ke sekeliling takut pacar Bintang ada diantara mereka berdua. Bintang pun tersenyum karena ia merasa tidak memiliki pacar dari awal masuk sekolah hingga saat ini. “Kenapa tertawa? Ada yang lucu?” tanya Rain setelah melihat ekspresi wajah Bintang. “Bukan itu, tapi aku memang belum punya pacar Rain.” Jawab Bintang yang terdengar mustahil untuk Rain. “Hah? Serius?” “Serius kok, apa kamu mau meledek aku seperti teman- teman yang lain?” tanya Bintang sambil tersenyum ke arah Rain yang masih tidak percaya. Rain sendiri juga tak pernah mendengarkan kabar kalau Bintang mempunyai pacar atau sempat berkencan dengan wanita lain jauh berbeda dengan dua sahabatnya apalagi Rehan yang notabennya adalah Playboy. “Bukan begitu tapi..” Rain enggan melanjutkan ucapannya karena takut membuat Bintang tersinggung dengannya. “Kalau kamu mau daftar jadi pacar aku, aku terima kok Rain.” Seru Bintang yang membuat Rain terkejut mendengarnya hingga gadis itu kembali mengulangi kalimat yang ia dengar. “Aku bercanda Rain, jadi bagaimana kamu mau diantar pulang sama Jomblo ngenes ini?” tawar Bintang lagi sambil meledek dirinya sendiri yang membuat Rain tertawa. “Boleh..” jawab Rain. “Boleh untuk apa? Aku antar pulang atau mau mendaftar jadi pacarku?” canda Bintang lagi yang kembali membuat Rain terkejut dan membuat debaran jantung Rain semakin tak menentu karena ulah Bintang. “Lagi- lagi aku hanya bercanda, ayo kita pulang sekarang sebelum malam.” Ajak Bintang sambil menarik tangan Rain dan membawa gadis itu menuju parkiran. “Oh aku sampai lupa kalau kita pulang naik motor dan bukan mobi, enggak apa- apa kan Rain?” tanya Bintang sambil menoleh ke arah Rain dan masih memegang tangannya. Wajah Rain nyaris pucat karena debaran jantungnya berdetak kencang dan rasa terkejutnya hari ini. “Kamu sakit Rain?” tanya Bintang sambil memeriksa suhu tubuh Rain dengan menempelkan punggung tangan Bintang di dahinya. Namun suhu badan Rain sangatlah normal. “Aku enggak sakit kok Bintang Cuma mungkin agak lapar saja,” canda Rain yang berusaha mengalihkan pembicaraan. Bintang pun kembali tersenyum. “Bagaimana kalau sebelum pulang kita makan dulu takut kamu sakit karena telat makan,” tawar Bintang lagi yang membuat Rain kembali senang mendengarnya. “Boleh kalau kamu enggak keberatan.” Jawab Rain cepat karena tak ingin menyia- nyiakan momen bersama Bintang yang sudah tertata rapih oleh alam. Bintang pun kembali tersenyum karena Rain mau menerima tawarannya dan mengambil helm serta memakaikannya untuk Rain. “Pakai Helm dulu ya supaya aman.” Kata Bintang setelah mengaitkan pengait helm milik Rain. Rain pun tersenyum dan masih tidak percaya dengan apa yang terjadi. Apakah ini mimpi atau nyata? “Ayo Rain naik..” kata Bintang yang sudah memakai jaket dan menggunakan helm serta sudah menyalakan mesin motornya. Rain pun naik ke atas motor dan duduk di belakang Bintang.. “Rain, jangan lupa pegangan ya nanti takut jatuh,” kata Bintang sambil meraih kedua tangan Rain dan melingkarkan nya ke pinggang Bintang serta menyatukannya tepat di depan perut pemuda itu hingga terlihat seperti Rain yang memeluknya. “Oke..” jawab Rain yang khawatir kalau Bintang mendengar detak jantungnya saat ini karena kini antara ia dan Bintang tak menyisakan jarang apa pun. Rain merasa sangat senang hingga ingin sekali berteriak saat ini juga tapi masih harus ia tahan karena takut kalau Bintang terkejut mendengarnya. Rain juga ingin sekali menceritakan semua ini kepada kedua sahabatnya dan membuat mereka iri atas perlakuan manis yang Rain dapatkan dari Bintang. Bintang pun mulai melajukan motornya, dan Rain tetap memeluk tubuh Bintang dari belakang. Mereka pun berjalan menyusuri jalan dalam keadaan yang semakin gelap, mungkin saat ini sudah pukul enam sore karena ia bisa mendengar suara adzan yang berkumandang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD