Bab 6. Pemecatan dan Perjodohan

1427 Words
Langkah kaki Revan menyusuri koridor lantai basement dengan tenang, meskipun pikirannya masih dipenuhi dengan berbagai hal yang belum tuntas. Pertemuannya dengan kolega di luar kantor berlangsung singkat namun melelahkan. Dan sekarang, ia hanya ingin kembali ke ruangannya, menyelesaikan laporan mingguan, serta—yang paling penting—menghadapi dua orang yang jadi sumber kekacauan besar di kantornya. Tapi belum sempat ia menekan tombol lift, pandangannya tertumbuk pada dua sosok yang duduk di bangku panjang dekat pilar parkiran. Aldo dan Gita. Mereka tampak kusut. Wajah Gita sembab, dan Aldo menatap kosong ke lantai semen, seperti sedang menghindari realitas yang terus menamparnya dari segala arah. Revan melangkah mendekat. Suaranya tenang, tapi mengandung tekanan yang membuat udara terasa lebih berat dari biasanya. “Kalian ikut saya ke ruangan,” ucapnya tegas dan dingin. Aldo dan Gita tersentak. Tapi mereka tahu, tidak ada ruang untuk penolakan. Tanpa bicara, keduanya berdiri dan mengikuti Revan menuju lift yang membawa mereka ke lantai tujuh. Pintu ruang kerja Revan terbuka. Di dalamnya, duduk seorang wanita dengan aura berkelas yang bahkan bisa membuat siapa pun merasa kecil hanya dengan tatapan matanya—Regina, ibunda Revan. Wanita itu tengah sibuk dengan ponselnya, jemarinya bergerak lincah mengetik sesuatu sebelum akhirnya menatap Revan yang baru masuk. “Mama kenapa ke sini?” tanya Revan, meski tak terdengar kaget. Nada suaranya tetap datar. Regina menaruh ponselnya di samping dan mengangkat wajah. “Ada yang harus Mama bicarakan,” ucapnya ringan, seperti sedang membahas jadwal makan siang. Revan menghela napas tipis. “Aku juga ada urusan penting dengan karyawanku. Mama bisa keluar dulu?” Regina sempat memicingkan mata. Pandangannya beralih ke arah dua anak muda di belakang Revan yang menunduk dalam diam. “Ada apa dengan mereka?” tanyanya. Revan menjawab cepat, “Aku akan cerita nanti.” Regina menatap anaknya beberapa detik sebelum akhirnya berdiri. “Ya udah, jangan lama-lama,” katanya sembari melangkah keluar ruangan, membiarkan pintu tertutup di belakangnya. Di dalam ruangan, atmosfer terasa lebih mencekik. Revan duduk perlahan di kursi kerjanya. Tangannya terlipat di atas meja, matanya tertuju lurus ke arah Aldo dan Gita yang berdiri seperti terdakwa di hadapan hakim. “Siapa yang akan menjelaskan semuanya?” tanyanya, dingin. Tidak ada emosi. Tidak ada ampun. Sunyi. Bahkan suara detik jam nyaris terdengar keras di tengah kesunyian itu. “Saya, Pak,” sahut Aldo pelan. Ia menarik napas panjang, mencoba menyusun kata-kata. “Saya minta maaf atas apa yang terjadi. Saya tahu bahwa saya sudah membuat suasana kantor menjadi tidak kondusif. Ini semua memang salah saya, Pak. Saya tidak bisa bersikap bijak terhadap hubungan pribadi saya.” Suaranya terdengar datar dan ragu. Gita yang berdiri di sebelahnya menghela napas panjang. “Kelamaan, Mas,” desisnya sinis. Dia melangkah setengah maju, menatap Revan dengan mata merah. “Seperti yang Bapak tahu, saya hamil. Dan itu anak Mas Aldo. Dia sudah selingkuh sama saya selama dua bulan. Saya membongkar semuanya karena Mas Aldo nggak mau tanggung jawab,” ucapnya lugas. Lelah, tapi mantap. Revan mendengarkan dengan tenang. Tidak ada reaksi emosional, hanya anggukan pelan. “Jadi ini sepenuhnya masalah pribadi,” katanya. “Lalu kenapa kamu mengirim semua itu ke grup kantor?” Mendadak Gita terlihat gugup. Tatapan Revan seolah menguliti dirinya, dan ia menunduk perlahan. “Maaf, Pak… saya tahu saya salah. Tapi itu satu-satunya cara supaya Mas Aldo mau tanggung jawab. Saya udah beberapa hari minta dia bicara, tapi dia selalu menghindar. Saya kesal. Kenapa saya yang menderita, sementara dia masih jalan sama Mbak Ina kayak nggak terjadi apa-apa…” Revan kembali mengangguk, datar. Suaranya terdengar rendah, tapi keras seperti palu godam. “Semua perbuatan pasti datang dengan konsekuensi. Dan saya tidak bisa mentoleransi kejadian ini sama sekali, meskipun ini adalah kesalahan pertama kalian.” Diam. Gita menahan napas. Aldo mulai gelisah, tangannya mengepal. “Ini adalah hari terakhir kalian bekerja di sini. Silakan kemasi barang-barang kalian sebelum pergi.” Seperti terdengar bunyi runtuh dalam kepala Aldo. Ia membeku. Jantungnya berdetak terlalu kencang. Pikirannya langsung melayang ke cicilan motor, biaya kos, dan saldo rekening yang tidak cukup untuk hidup sebulan ke depan. “P-Pak?” suaranya gemetar. “Tolong… saya cuma punya pekerjaan ini…” Revan tidak bergeming. “Itu sudah menjadi keputusan saya. Anda bisa mengambil pesangon Anda, Mas Aldo. Silakan ke ruang HR.” Kemudian ia menoleh kepada Gita. “Terima kasih atas kerja keras kalian selama ini. Kalian sudah boleh pergi.” Tak ada protes. Tak ada pembelaan. Hanya wajah-wajah hancur yang perlahan membalik badan, meninggalkan ruangan dengan langkah berat. Pintu tertutup pelan, tapi dampaknya terasa seperti gemuruh besar di dalam kepala mereka. Revan menghembuskan napas pelan. Di luar, masalah mungkin baru dimulai. Setelah pintu tertutup di belakang Aldo dan Gita, suasana di ruang kerja Revan kembali sunyi. Sunyi yang berbeda. Bukan karena tidak ada suara, tapi karena ruangan itu seakan menyimpan bekas letupan emosi dan keputusan yang baru saja diambil—keputusan yang tidak bisa dibatalkan. Beberapa detik kemudian, pintu kembali terbuka. Regina masuk dengan langkah mantap. Wajahnya datar, tapi sorot matanya menilai dengan cermat. Ia berdiri sejenak di ambang pintu, sebelum akhirnya menutup pintu perlahan dan berjalan masuk. “Apa yang terjadi? Kayaknya serius banget,” tanyanya. Revan hanya menghela napas panjang. Tubuhnya masih sedikit condong ke belakang di kursi, satu tangan menekan pelipisnya. “Cuma beberapa karyawan yang mencampuri urusan pribadi dan profesional. Aku pecat,” jawabnya singkat. Regina tidak menunjukkan keterkejutan sedikit pun. Dia tahu persis siapa anaknya. Revan adalah pria yang tak pernah mencampur aduk urusan hati dan pekerjaan. Tegas. Kaku. Bahkan dingin. Jadi keputusan memecat karyawan bukan hal yang mengagetkan baginya. Dia hanya mengangguk pelan dan duduk di sofa hitam besar di sudut ruangan itu, menyilangkan kaki dengan anggun. “Duduk di sini. Ada yang harus Mama bicarakan,” katanya sambil menepuk permukaan sofa di seberangnya. Revan menatap ibunya sejenak, lalu bangkit dari kursinya dan menurut. Ia duduk tepat di hadapan wanita yang sudah melahirkannya itu, bersandar pelan, seolah bersiap untuk perbincangan panjang yang melelahkan. “Kalau ini masalah perjodohan lagi, aku tidak mau. Aku capek, Ma,” ucapnya datar. Regina memajukan tubuhnya sedikit, dagunya terangkat, dan sorot matanya tajam. “Kamu capek kenapa?” tanyanya, nada suaranya pelan namun menusuk. “Capek dijodohin karena sebenarnya sudah punya hubungan dengan perempuan lain?” Revan mengernyit. “Maksud Mama?” tanyanya, raut wajahnya benar-benar tak mengerti arah pembicaraan. Regina tersenyum tipis, senyum yang mengandung banyak arti. “Sudah ada penumpang di sebelah kursi kemudi,” katanya pelan, namun jelas. “Ina? Kenapa kamu tidak bilang kalau kekasih kamu karyawan kamu sendiri?” ucapnya lagi, sambil memainkan ujung scarf-nya dengan jari telunjuk. “Kalau tahu begitu, Mama juga nggak perlu repot menjodohkan kamu dengan anak teman Mama.” Revan memejamkan matanya sejenak, menghela napas lebih berat dari sebelumnya. Jadi gosip itu sudah sampai ke telinga ibunya. Soal Ina duduk di kursi depan mobilnya. Kursi yang selama ini tak pernah diisi siapa pun, kecuali orang yang benar-benar dekat dengannya. “Mama dengar rumor dari mana?” tanyanya. “Aku tidak punya hubungan apa pun dengan Ina,” lanjutnya dengan nada tegas. Regina mengangguk pelan, namun pandangannya sulit diartikan. Ada sinis, ada ragu, ada penilaian. “Kamu yakin, tidak punya hubungan apa pun?” “Selain hubungan profesional, aku tidak ada hubungan apa pun dengan Ina,” tegas Revan, kali ini dengan suara lebih mantap. Regina kembali mengangguk. Lalu ia mengubah posisinya duduk, menyandarkan tubuhnya ke sofa dengan elegan. “Kalau gitu, kamu nggak punya alasan untuk menolak kencan buta kali ini.” Revan langsung mengerutkan dahinya. “Ma…” “Anak teman Mama kali ini baru saja pulang dari Korea,” lanjut Regina tanpa menggubris nada penolakan Revan. “Fresh graduate dari kampus terkenal. Valuenya juga sudah jelas. Bagus.” Revan mendesah. “Baru lulus S1? Jarak umurnya terlalu jauh, Ma.” Regina menoleh dengan pandangan datar. “Coba saja dulu. Kamu itu sudah mapan, value kamu juga tinggi. Kalian pasti lebih mudah akrab.” Revan hanya menggeleng pelan. Ada rasa lelah yang tiba-tiba merambat di bahunya. Bukan hanya karena jadwalnya yang padat, tapi karena percakapan seperti ini sudah terlalu sering terjadi. Dan anehnya, hari ini terasa lebih berat dari sebelumnya. Mungkin karena… untuk pertama kalinya, dia ingin sekali punya alasan kuat untuk menolak tanpa harus beralasan lagi. Ia menatap ibunya. Dan untuk sesaat, wajah Ina terlintas dalam bayangannya—duduk di sebelahnya di dalam mobil, diam namun menenangkan, meski dengan mata sembab. Dan Revan menghela napas dalam hati. “Apa seharusnya tadi aku pura-pura mengiyakan punya hubungan dengan Ina?” pikirnya. “Agar Mama berhenti menjodohkan aku?” Tapi itu berarti mencampuradukkan personal dan profesional—sesuatu yang selalu ia hindari.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD