Bab 4. Firasat Buruk Gosip Baru

1383 Words
“Apa yang kalian lakukan?” suara Revan menggelegar, menampar udara basement yang sunyi. Suasana mendadak mencekam. Bahkan langkah-langkah kecil semut pun terasa nyaring jika melintas. Cahaya lampu neon yang redup di parkiran basement itu justru menambah kesan horor. Ina tidak tahu sejak kapan Revan muncul di tempat itu. Pria itu seolah datang dari kegelapan, tiba-tiba saja sudah berdiri di belakang mereka dengan sorot mata tajamnya. “Pa-pak Revan?” suara Aldo terdengar tergagap, seperti anak kecil yang tertangkap basah mencuri permen. Revan melepas cekalannya dari pergelangan tangan Aldo. Tatapannya tak lepas dari pria itu. “Saya menunggu kamu di ruang meeting. Apa yang kamu lakukan di sini?” tanyanya, nada suaranya tetap datar tapi mengandung tekanan. Aldo menelan ludahnya. Posisinya benar-benar buruk sekarang. Ia tidak hanya dipergoki sedang mencekal mantan kekasihnya di basement kantor, tapi juga oleh atasan tertinggi di perusahaan itu. Ia berusaha berkata sesuatu, tapi lidahnya kelu. “Dan apa yang kamu lakukan sekarang?” lanjut Revan, lebih dingin, lebih mengintimidasi. Bahunya tegang, sorot matanya menusuk. Aldo menunduk. Tidak ada satu kata pun yang sanggup keluar dari mulutnya. Revan menghela napas, panjang. “Mbak Ina,” panggilnya tanpa menoleh. “Ikut saya.” Ina berdiri ragu. Kakinya masih bergetar karena kejadian tadi. Tapi suara Revan seolah menjadi pegangan satu-satunya yang bisa dia pegang saat ini. Dengan langkah pelan, ia mengikuti Revan yang berjalan menuju mobil hitam mewah miliknya. Revan membuka pintu belakang mobil dan mengisyaratkan Ina untuk masuk. Wanita itu sempat menoleh ke belakang, memastikan Aldo tidak mengikuti, lalu masuk dengan ragu ke dalam kendaraan itu. Suasana dalam mobil hening. Sunyi yang berbeda dari heningnya ruang rapat atau suasana kantor. Revan menyalakan mesin mobilnya dengan tenang, menunggu hingga ia melihat dari spion bahwa Aldo telah naik ke lantai atas. Baru setelah itu mobil melaju perlahan keluar dari basement. Hening tetap menyelimuti mereka. Ina duduk kaku, matanya lurus ke depan, dadanya masih sesak, belum sepenuhnya bisa bernapas lega. Ia tidak tahu ke mana Revan akan membawanya, tapi mulutnya terlalu kaku untuk bertanya. Jalanan kota siang itu macet. Klakson mobil bersahutan, motor-motor menyelinap di antara celah, pejalan kaki menyeberang sembarangan. Tapi mobil Revan tetap melaju perlahan, tenang, kontras dengan kekacauan di dalam hati Ina. Hingga akhirnya mereka berhenti di depan sebuah kafe kecil dengan papan nama bertuliskan Vanilla by SeleraKita. Ina tahu tempat ini. Ini adalah salah satu dessert café yang diakuisisi perusahaan dan didesain ulang langsung oleh Revan. Banyak yang bilang tempat ini adalah ‘anak kesayangan’ sang CEO. Revan turun tanpa bicara. Ina buru-buru mengikuti, berjalan sedikit lebih cepat agar tidak tertinggal. Langkah mereka masuk ke dalam kafe disambut aroma manis vanilla dan kayu manis yang menenangkan. Tapi tidak cukup kuat untuk menenangkan hati Ina. Pria itu memilih salah satu meja kosong di pojok, agak jauh dari jendela dan pengunjung lainnya. Setelah duduk, ia menatap Ina yang masih berdiri. “Duduk,” perintahnya, dingin. Ina menelan ludah. Ia menunduk sedikit, lalu duduk di hadapan pria itu dengan gugup. Tangannya mengepal di atas pangkuannya, berusaha keras untuk tidak gemetar. Hening kembali tercipta. Tapi ini bukan hening yang nyaman. Hening itu seperti pusaran air yang menarik semua suara, semua keberanian, semua kata-kata. Ina tidak berani bertanya, tidak tahu harus memulai dari mana. Revan hanya menatapnya. Lama. Revan mengangkat tangannya pelan, memanggil pelayan yang sejak tadi berdiri tak jauh dari meja mereka. “Satu teh hangat,” pesannya singkat. Tak butuh waktu lama, teh itu datang di atas nampan kecil bersama sendok teh dan selembar tisu. Revan menyodorkannya ke arah Ina. “Minum,” ucapnya, pelan namun tetap terdengar sebagai perintah. Ina menyambut cangkir itu dengan kedua tangan yang sedikit bergetar. Aroma chamomile menenangkan menyeruak dari permukaannya yang masih mengepul. “Saya nggak peduli apa yang terjadi di antara kalian,” ujar Revan, masih dengan nada datar dan ekspresi yang tak bisa ditebak. “Tapi kekerasan sangat dilarang di kantor. Kalau kalian mau berantem, cari tempat lain saja.” Ina menunduk. Tidak membela, tidak membantah. Dia tahu Revan benar. Membawa masalah pribadi ke lingkungan kerja bukanlah hal yang bijak. Tapi semuanya sudah telanjur. Emosinya masih belum stabil, pikirannya kacau. Dia masih tidak percaya dengan semua yang terjadi beberapa jam terakhir. Aldo… pria yang dia cintai selama lima tahun, yang dia percayai sepenuhnya, berubah jadi orang asing dalam hitungan detik. Campur aduk, itu kata paling tepat untuk menggambarkan isi hati Ina sekarang. Sedih, kecewa, marah, bingung, semuanya menumpuk jadi satu. Revan melirik ke arah Ina sekilas. Dari bawah pencahayaan hangat café, dia bisa melihat dengan jelas wajah bawahannya itu. Tekanan emosionalnya terlihat jelas. Sorot matanya kosong, tangannya memegang cangkir dengan erat seperti sedang menggenggam secuil kendali. Revan tidak berkata apa-apa lagi. Dia tahu Ina butuh waktu. Butuh ruang untuk menenangkan diri. Maka, dia menggeser duduknya, berniat bangkit dan pergi—memberikan privasi yang dibutuhkan Ina. Namun belum sempat dia berdiri, terdengar isakan lirih. Revan membeku di tempat. Ia menoleh dan melihat Ina mulai menangis. Air mata mengalir begitu saja di pipinya, menetes ke cangkir teh yang masih hangat itu. Tubuhnya gemetar, dan tangannya bergerak pelan menyeka air mata, meski sia-sia. Revan mengurungkan niat untuk pergi. Dia kembali duduk. Tidak tahu harus berbuat apa. Tidak tahu harus bicara apa. Dia tidak pandai menghadapi perempuan yang menangis—terlebih lagi jika perempuan itu adalah bawahannya. Jadi, dia memilih satu hal yang paling dia bisa: diam, dan menemani. “Maaf, Pak,” ucap Ina sambil terisak. “Maafin saya. Saya janji nggak akan melakukan kesalahan yang sama.” Revan berdeham, pelan. “Sebaiknya kamu selesaikan masalah kamu dulu,” katanya singkat. Ia tidak ingin ikut campur terlalu jauh, apalagi mencampuri urusan personal seperti ini. Tapi sebagai CEO, dia harus memastikan bahwa kehidupan pribadi karyawannya tidak mengganggu performa kerja timnya. “Maaf, Pak. Saya minta maaf…” ulang Ina, kali ini suara tangisnya terdengar lebih berat. Tubuhnya terguncang karena tangis yang semakin menjadi-jadi. Revan menatapnya lekat-lekat. Di balik semua profesionalitas, dia bisa melihat bahwa Ina benar-benar hancur. Revan bukan tipe yang gampang tergerak oleh air mata. Tapi melihat Ina seperti itu—perempuan yang selama ini dikenal sebagai pekerja keras, teliti, dan jarang menuntut—membuat dadanya terasa sesak. Dia tahu, luka yang seperti ini tidak akan sembuh dalam semalam. “Kamu tidak apa-apa?” tanyanya akhirnya. Ina mengangguk kecil. Tapi beberapa detik kemudian, dia menggeleng. “Pak, nggak ada orang yang baik-baik saja setelah tahu diselingkuhin, Pak,” katanya dengan suara parau. Dia menyeka air mata di pipinya, mencoba memperbaiki suaranya yang bergetar. “Saya juga minta maaf… karena sebelum di basement, saya sempat berantem sama Aldo dan Gita di pantry. Suasana kantor pasti nggak enak banget sekarang,” lanjutnya dengan suara pelan. Revan menghela napas pelan. Masalah ini sudah terlalu besar untuk hanya dianggap sebagai urusan pribadi. Ini sudah mengganggu suasana kerja di kantor, dan cepat atau lambat, pasti akan berdampak pada performa tim marketing. “Sebenarnya, apa yang terjadi?” tanya Revan. Nada suaranya tetap netral, tidak menghakimi. Bukan karena ingin tahu untuk bergosip, tapi karena dia perlu tahu sejauh mana kerusakan yang mungkin terjadi dalam struktur timnya. Ina mengatur napasnya sejenak. Tangisnya mulai mereda, meski sesekali isakan kecil masih terdengar. “Tadi… Gita dan Aldo nunggu saya di pantry. Mungkin maksudnya mau ngaku dan ngelurusin semuanya. Tapi, Aldo malah bilang ini cuma salah paham. Gita marah, Pak. Dia ngebongkar semuanya. Katanya mereka udah selingkuh selama dua bulan. Selama itu… Aldo nginap di kostan Gita,” suaranya tercekat. “Dan testpack itu… dikirim ke grup kantor karena Aldo nggak mau tanggung jawab.” Revan mengepalkan tangannya di bawah meja. Sebagai atasan, mendengar pengakuan semacam itu membuatnya geram. Bukan pada kesalahan personal mereka, tapi karena ketidakprofesionalan yang berimbas ke lingkungan kerja. “Dan karyawan lain dengar itu semua?” tanyanya. Ina mengangguk ragu. “Saya yakin ada yang dengar, Pak. Pantry itu kan cuma dibatasi partisi kaca. Suaranya pasti kedengeran ke sekitar,” jelasnya. Revan mengangguk pelan. “Dan tadi…” lanjut Ina, suaranya mengecil, “…di basement juga ada karyawan yang ngintip. Saya yakin saya lihat ada orang yang turun dari tangga sebelum Bapak datang.” Revan menghela napas, kali ini berat. Kepalanya mulai terasa berat. Masalah ini tidak lagi tentang satu-dua orang. Ini sudah menjadi isu internal yang menyebar. “Apa mereka juga lihat Ina masuk mobilku?” pikirnya, dan detik itu juga, ia sadar: akan ada konsekuensi lain yang harus ia hadapi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD