Senin pagi pukul tujuh selalu menjadi neraka bagi para pekerja, termasuk Aldo dan Ina, sepasang kekasih yang sedang dalam perjalanan menuju kantor. Aldo mengemudikan motornya dengan lihai, berbelok ke kanan dan ke kiri di antara banyaknya kendaraan bermotor lain. Sedangkan Ina, memeluk tubuh kekasihnya itu dengan erat agar tidak terjatuh.
"Aaauu ..." teriak Ina ketika kakinya menyenggol motor pengendara lain. Lututnya terasa sangat sakit karena benturan yang cukup keras itu. Aldo memang mengemudikan motornya dengan cukup kencang karena mereka hampir terlambat ke kantor. Tidak ada pilihan lain, hanya dengan menyalip dengan kencang seperti itulah yang bisa membuat mereka cepat sampai di kantor.
"Sayang, kamu hati-hati, dong! Kaki aku tadi kena motor orang," teriak Ina agar Aldo mendengarnya.
Nyatanya, pria itu tidak mendengar teriakan kekasihnya. Pria berusia dua puluh lima tahun itu fokus dengan jalanan dan mencari celah di antara kendaraan lain untuk bisa melaju dengan kencang. Dia Bahkan tidak sadar bahwa kekasihnya itu sudah mengeluh sakit.
Ina hanya bisa pasrah. Dia menghela nafas panjang yang lelah. Paginya selalu dimulai dengan kacau seperti itu. Tentu saja ini bukan kali pertama Aldo menyalip dengan kencang seperti itu. Dalam lima tahun mereka pacaran, Ina sudah sering menjadi korban dari kecerobohan kekasihnya itu. Terlebih saat mereka akhirnya bisa bekerja di kantor yang sama, hampir setiap hari Ina dijemput oleh kekasihnya itu menggunakan motor butut yang mesinnya selalu di modif agar bisa menyalip dengan kencang.
Titttttt ….
Klakson panjang dari pengemudi lain menyentak Ina. Suara itu berasal dari seorang pengemudi mobil yang kendaraannya hampir saja diserempet oleh Aldo. “Sayang, hati-hati. Kita bisa mati nanti kalau kayak gini terus,” gerutunya. Ina tahu bahwa kekasihnya itu juga tidak akan mendengar apa yang dia katakan.
“Hah? Kamu ngomong apa sih dari tadi?” teriak Aldo dari dalam helm full facenya. “Kamu mending diam aja deh, ini kita bentar lagi sampai,” lanjutnya.
Sepuluh menit kemudian, motor tersebut berhasil untuk masuk ke area parkir gedung perusahaan. Aldo berhenti di salah satu slot parkiran motor yang kosong. Perusahaan ini memiliki banyak karyawan, tapi tidak banyak yang menggunakan motor. Bahkan, gedung itu memiliki parkiran mobil yang lebih besar daripada parkiran motor di basement tersebut. Gedung tujuh lantai itu memang lebih banyak memiliki karyawan yang menggunakan mobil daripada motor.
Ina meringis ketika turun dari motor. Lututnya masih terasa nyeri karena bertabrakan dengan motor lain. “Duh, kaki aku sakit banget,” keluhnya.
“Masih mending kaki kamu cuma kena dikit. Aku, lho, bawa motor dari tadi. Tangan sama kaki aku capek. Tiap hari aku kayak gini dan aku nggak pernah ngeluh sama kamu,” balas Aldo. Pria berambut pendek itu memperlihatkan kedua tangannya yang memerah karena terlalu lama mencengkram stang motor.
Ina hanya bisa menghembuskan napasnya. Jika dibandingkan dengan apa yang Aldo lakukan untuknya, tentu saja rasa sakit di kakinya itu tidak ada apa-apanya. “Iya, makasih, ya, Sayang. Udah jemput aku tiap hari,” katanya sambil memaksakan seulas senyum. Bagaimanapun juga dia harus berterima kasih atas pengorbanan yang dilakukan kekasihnya.
Aldo tersenyum. “Aku rela tangan aku merah kayak gini daripada kamu diantar sama cowok lain. Kamu kan tahu sendiri aku orangnya cemburuan,” katanya sambil menoel hidung mancung milik Ina. “Apapun akan aku lakuin untuk tetap sama kamu,” lanjutnya.
Wanita berambut bondol itu tersenyum. Hatinya menghangat ketika mendengar hal itu. Selama lima tahun mereka berpacaran, hubungan mereka tidak selamanya mulus. Dan di antara naik turunnya hubungan mereka, Ina memilih untuk tetap bersama dengan Aldo karena sisi Aldo yang romantis itu. Sejak dulu, Aldo memang menjemput Ina dari kampus, dan ketika mereka berhasil bekerja di tempat yang sama, Aldo melanjutkan kebiasaan tersebut hingga sekarang. Hal kecil seperti itulah yang membuat Ina merasa sangat dicintai oleh kekasihnya.
Setelah memastikan motor dan helm aman berada di tempatnya, Aldo mengulurkan tangannya ke arah Ina. “Ayo, kita ke atas,” katanya.
Ina tersenyum sambil menyambut tangan itu. Mereka bergandengan melewati basement yang sudah mulai sepi. Ketika mereka memasuki lift, mereka bergabung dengan beberapa karyawan yang lain. “Duh, si paling couple goals. Harus banget gandengan di lift, ya?” goda salah satu karyawan yang tahu mengenai hubungan mereka.
Ina hanya tersenyum, sedangkan Aldo terkekeh. “Mau ikutan gandengan nggak, Mbak?” tawarnya bercanda.
“Duh, kalau lihat kalian bikin gue iri deh. Gue gandengan sama lift aja,” ucap karyawan itu lagi.
Mereka kemudian terkekeh. Akan tetapi, kekehan itu berhenti begitu saja ketika lift berhenti di lobi kantor dan pintu terbuka. Di hadapan mereka, Revan, sang CEO dingin yang tak tersentuh, berdiri dengan setelah jas mahalnya. Parfum dengan hint ocean yang menyegarkan langsung bisa tercium oleh orang-orang yang ada di dalam lift.
Aturan di SeleraKita Collective adalah tidak boleh berada di lift yang sama dengan atasan C-Level. Jadi, mereka harus keluar jika ada atasan yang masuk. Ina dan yang lain bersiap untuk keluar, akan tetapi Revan mengangkat tangannya, mengisyaratkan untuk tidak perlu keluar. “Kalian hanya bertiga,” ucapnya dingin sambil berjalan masuk ke dalam lift tersebut.
Suasana mendadak menjadi sangat hening. Tidak ada yang berani berbicara atau bahkan sekadar menyapa Revan. Pria itu juga bukan tipe yang akan membalas sapaan orang lain. Jadilah mereka hanya diam hingga lantai tiga. Aldo yang sedari tadi menggenggam tangan Ina harus melepas karena lantai tiga adalah lantai untuk divisi legal, tim Aldo, berada. “Nanti siang makan bareng, ya, Sayang” bisik Aldo sebelum keluar dari lift itu. Tidak hanya Aldo, tapi juga dengan karyawan lain yang bersama mereka.
Ina hanya mengangguk kecil. Dia melambaikan tangannya dengan pelan, salam perpisahan untuk kekasihnya. Setelah pintu lift tertutup, suasana jadi lebih canggung karena hanya ada dirinya dan Revan di sana.
“Mbak Ina,” panggil Revan. Meski Revan jauh lebih tua, dia selalu memanggil semua karyawan yang tidak akrab dengannya dengan sebutan ‘mbak’ atau ‘mas’. Seolah panggilan itu benar-benar membuat jarak yang nyata di antara mereka.
“Iya, Pak?” sahut Ina dengan sedikit takut. Pembicaraan dengan Revan tidak pernah menyenangkan dan ringan.
“Saya ingin reschedule meeting dengan tim marketing jadi pagi ini. Nanti siang saya ada meeting dengan tim lain. Tolong siapkan semuanya. Kemarin saya sudah lihat preview presentasi kalian untuk Souri Cafe by SeleraKita. Jelek. Pagi ini saya kasih waktu revisi sampai jam sembilan,” titahnya.
Selama mendengar hal itu, Ina bahkan tanpa sadar menahan napasnya. “I-iya, Pak. Akan kami revisi,” katanya singkat. Sebenarnya, Ina tidak paham apa yang dimaksud dengan jelek menurut Revan. Dia dan timnya sudah bekerja dengan sangat keras untuk membuat konsep kafe baru yang akan mereka kembangkan. Tapi, apa yang bisa dia katakan kepada yang Revan selain mengiyakan apa yang diinginkan oleh atasannya itu?
Lift kemudian berhenti di lantai lima, tempat tim Ina berada. “Permisi, Pak,” ucap Ina sopan sebelum keluar dari lift tersebut. Dia melangkahkan kakinya dengan cepat, agar segera keluar dari suasana yang canggung dengan atasannya itu.
Ina masuk ke ruangannya. Di SeleraKita, setiap lantai akan diisi oleh tiga divisi berbeda. Ruangan tiap divisi hanya akan dibatasi dengan partisi kaca. Dan Tim Ina yang beranggotakan enam orang mendapat ruang paling ujung. Lengkap dengan kubikel dan sebuah meja panjang tempat mereka mengadakan diskusi dan brainstorming.
Seharusnya, suasana pagi itu sudah sibuk. Mereka baru saja mengakuisisi sebuah kafe di daerah Kemang yang akan di re-branding. Tapi, sepanjang jalan menuju ruangannya, Ina bisa melihat beberapa karyawan menatapnya dengan aneh. Bahkan, langkah Ina melambat, memastikan para karyawan itu memang memandangnya.
“Ada yang salah, ya, dari aku?” ucapnya yang mencoba melihat kembali penampilannya. “Kayaknya nggak deh,” lanjutnya bermonolog.
“Ya, memang nggak ada, Mbak,” ucap seseorang di belakangnya yang membuat Ina terkejut.
Wanita bertubuh mungil itu berbalik badan. “Lho, Ajeng. Sejak kapan kamu di belakang aku?” tanyanya.
Ajeng, salah satu karyawan di divisi marketing, hanya menghela napas panjang. “Mbak, semua orang memang lagi ngeliatin Mbak. Kami semua nungguin Mbak Ina malah,” katanya.
Ina mengerutkan dahinya. “Buat apa?” tanyanya. “Meeting nanti? Kan tim kita doang,” katanya yang merujuk pada meeting yang direschedule oleh Revan.
Ajeng menghela napasnya dan menggeleng. “Mbak pasti belum lihat, deh,” ucapnya. “Mbak masih berangkat sama Mas Aldo tadi pagi?” tanyanya.
Wanita itu mengangguk. Semua orang di kantor itu memang sudah tahu dengan hubungan mereka. Bahkan, mereka disebut sebagai couple goals SeleraKita Collective karena selalu menempel satu sama lain. “Kenapa?” tanyanya.
Ajeng tidak menjawab. Gadis itu membuka kunci ponselnya dan memperlihatkan sesuatu ke arah Ina. “Gita nyebar ini barusan di grup besar kantor,” katanya.
Gita adalah anak magang yang baru bekerja di sana selama tiga bulan, dia berada di divisi marketing dan membantu di bagian sosial media. Ina tahu Gita masih mahasiswa dan tidak memiliki kekasih. “Testpack? Gita hamil?” tanyanya terkejut.
“Lihat foto selanjutnya, Mbak,” katanya.
Ina kembali memfokuskan matanya ke layar ponsel tersebut. Dan di sana terdapat foto Gita yang sedang melakukan mirror selfie dengan gaun malam panjang, dengan seorang laki-laki yang memeluknya dari belakang dengan mesra dan menempelkan dagunya di bahu Gita.
“Aldo?!” pekik Ina tak percaya.