Hari itu seharusnya berjalan seperti biasa. Pagi yang tenang, pekerjaan yang menumpuk, dan rutinitas yang tidak banyak berubah. Namun satu panggilan telepon mengubah segalanya. “Sinta, cepat ke kantor Papah sekarang!” Suara panik dari salah satu staf membuat jantung Sinta langsung berdegup kencang. “Ada apa?” tanyanya, berdiri dari kursinya tanpa sadar. “Papah… tiba-tiba pingsan. Sekarang belum sadar.” Dunia Sinta seolah berhenti berputar. Tanpa berpikir panjang, ia langsung mengambil tasnya dan berlari keluar. Bahkan ia tidak ingat bagaimana ia bisa sampai ke mobilnya, bagaimana tangannya gemetar saat mencoba menyalakan mesin. Sepanjang perjalanan yang ada di kepalanya hanya satu. Papah… Dadanya sesak, napasnya tidak teratur. Sinta mencoba menghubungi Damar berkali-kali, meski i

