Bab 14: Penyesalan Keylo

1111 Words
Keira keluar dari kamarnya untuk makan malam di meja makan yang ada di dekat dapur. sapaan dari Keylo membuat Keira malas untuk menyapanya balik, Keira hanya mengangguk dan berdeham pelan ketika membalas sapaan dari Keylo. Dia duduk kemudian mengambil nasi dan lauk pauk yang ada di meja makan. Ayahnya juga datang setelah di antar oleh bik Sumi yang kerja di rumahnya. Kemudian, dia makan dalam diam. Sebenarnya, alasan Keira diam adalah untuk menghindari hantu – gantu yang mulai mendatanginya. Mungkin percakapan dia dengan Shira membuat hantu – hantu di luar kamarnya tertarik. Kata Shira, hantu di luar kamar Keira mungkin tidak melihat, namun, beberapa ada yang bisa mendengar obrolan antara Keira dan juga Shira. Jean juga ada di antara mereka. Tapi, Jean lebih memilih diam. Karena kemungkinan Jean tahu bahwa Keira tidak suka jika dirinya di ganggu ketika dia benar – benar sedang bersama orang lain atau manusia lain di dekatnya. Mungkin, Keira juga tidak suka jika orang lain membiarkan atau mengetahui Keira bisa berkomunikasi dengan hantu. Tentu saja, Keira sudah pernah membahas ini dengan ayah dan kakaknya, Keylo. Tapi, tidak ada yang mempercayainya. Jadi, Keira sekarang malas untuk membahasnya lagi apalagi, untuk mengatakan bahwa Keira bisa mengobrol dengan sosok – sosok tak kasat mata yang di anggap oleh mereka yang tidak pernah melihatnya tidak ada. Maka dari itu, Keira memilih untuk diam. “Keira, bagaimana sekolah kamu?” tanya ayahnya membuka obrolan. Keira mengangguk – anggukan kepalanya, “baik.” Katanya kemudian dengan singkat. “papa nanya kamu bener – bener loh, Kei,” kata Keylo pelan, “jawab yang bener juga dong.” Ucap Keylo lagi. Keira sekarang menatap Keylo yang menatapnya juga di seberang meja makan. Lalu mendengus pelan, “ya, gimana, pertanyaannya juga begitu. Jawabannya ya begitu juga lah.” Kaya Keira. “Kei, papa ini lagi sakit loh, kamu ga bisa sedikit perhatian gitu?” tanya Keylo lagi untuk Keira yang sedang makan. Pertanyaan itu membuat Keira tersenyum miring, apa pula ini? Pertanyaan yang keluar dari mulut Keylo membuat Keira menjadi tidak memiliki nafsu makan lagi. Bahkan untuk minum saja rasanya mual. “Apaan sih kak?” kata Keira, “kalo sakit ya udah sakit aja. Jangan ngerepotin orang lain.” Kata Keira lagi yang membuat Keylo menarik nafas dan akan berbicara lagi, namun dipotong cepat oleh Keira, “apa Keira pernah membebani papa dengan sakitnya Keira?” tanya Keira kepada papanya itu. Tatapan Keira seolah dirinya benar – benar tidak menyukai papanya itu. Dia bahkan menatap papanya dnegan tatapan yang dingin dan juga bertanya dengan jelas. Lalu, papanya menggeleng. “See?” tanya Keira untuk Keylo, “Keira cuman minta satu hal sejak dulu sama papa atau pun sama mama waktu itu, “ kata Keira menarik nafasnya, “cuman satu loh, itu adalah perhatian.” Ucapnya lagi. Keira benar – benar di buat untuk mengatakan ini oleh kakaknya, Keylo. Dia merasa terpancing dengan percakapan ini. Jadi, dia mengatakan semuanya. “tapi, apa pernah? Bahkan waktu itu, Keira sakit, apa papa dan mama menyempatkan waktunya buat ngurusin Keira?” tanya Keira lalu menatap papanya lagi dan sekarang menggeleng pelan, “ga ada tuh.”, ucapnya lagi. Keylo benar – benar di uji oleh seorang Keira yang sedang dalam masa puber*tas itu. Keira benar – benar seperti tersulut emosinya dengan hal – hal semacam ini. Bahkan Keira benar – benar tidak bisa mendapatkan hak anaknya sejak dulu. Dan Keylo tidak tahu itu. Keira benar – benar menghadapi dunianya sendiri dan benar – benar tidak ada yang menolongnya walau pun dia sakit. Semuanya tertanam di ingatan kecil diotaknya. Walau pun kecil, tapi itu sangat berdampak pada Keira yang saat ini memang terlihat sangat membenci papa dan mamanya itu. Keylo benar – benar marah akan dirinya. Kemana saja Keylo selama ini? Itu yang menjadi pertanyaan besar seorang Keylo untuk dirinya sendiri. Dia memang belajar di luar negeri. Meninggalkan semua hal yang ada di sini termasuk adiknya yang bisa di katakan ‘kurang’ dengan perhatian. Sosok papa nyanyang sibuk dengan bisnis yang sekarang sedang ia jalani sendiri. Lalu mamanya yang terkadang berangkat ke sana ke sini untuk pekerjaannya sendiri. Sosok mamanya yang emang menyibukkan dirinya itu membuat Keira benar – benar merasa sendiri di rumah. Dan itu membuat Keylo benar – benar memahami bagaimana situasi yang sedang di hadapi seorang Keira saat ini. . Kesepian. T Tentu saja. Kata itu tidak cukup namun, kata itu bisa mewakili apa yang sedang di rasakan oleh seorang Keira. “sabar Keira.” Kata Keylo, “semua akan indah pada waktunya.” Kata Keylo lagi. Perkataan itu membuat Keyla melepaskan sendok yang sedang ia pegang untuk makan itu. Lalu dia mendengus dan kemudian terkekeh pelan, “lo tau kak apa yang lo sebutan tadi itu adalah bull*sh*it?” ucap seorang Keira. Keylo mengangguk, “gue tau. Tapi itu terjadi ke gue. Jadi lo harus percaya kalo lo punya kebahagiaan lo sendiri nanti.” Kata Keylo lagi. Keira terkekeh lagi kemudian mengangguk, “iya, kebahagiaan gue masih jauh di ujung sana.” Kata Keira menunjuk ke depannya dengan tatapan sangat jauh, “dan gue ga akan sampai sana. Gue akan diem di sini dan terperangkap dengan semua yang udah papa sama mama dan sekarang termasuk lo, yang ngebuat gue terjerat di sini sampai gue ga bisa bergerak lagi.” Ucap Keira dengan sedikit ngos – ngosan. Lalu selanjutnya, Keira beranjak dari sana dan pergi meninggalkan meja makan. Hal itu membuat Keylo ingin berteriak kencang tapi papanya menahan Keylo. “Biarin aja, Keylo.” Kata papanya, “dia memang seperti itu. Nanti juga baik lagi.” Kata papanya pelan. “tapi, pa, bukannya itu sudah keterlaluan?” tanya Keylo. Papanya menggeleng, “papa pernah menghadapi Keira lebih dari itu. Jadi, hal yang barusan terjadi adalah hal kecil.” • * * * * * * * * * * * * * Keira membanting pintu kamarnya. Padahal di masih lapar tapi sudah hilang nafsu makannya. Dia benar – benar merasa bahwa dirinya tidak pantas ada di sini. Maksudnya, dia mungkin harus lari malam ini. “jika kami berpikiran untuk pergi malam – malam, kamu perlu berpikir dua kali.” Kata Shira secara tiba – tiba. Keira berdecak, “lo bisa baca pikiran ya?” Tanya Keira pelan. Shira menggeleng, “saya tau dari gelagat orang mau kabur.” Ucapnya lagi. “kenapa emang kalo gue mau kabur malem – malem?” Tanya Keira tidak memedulikan omongan Shira barusan. Shira menaikkan bahunya, “kamu harus tau, golongan semacam kami, lebih aktif di malam hari karena kami menyukai angin malam yang sejuk tanpa perlu khawatir kepanasan.” Kata Shira. Keira terkekeh kecil, “hantu macam kalian juga takut panas? Ada – ada saja.” Kata Keira pelan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD