Seperti permintaan Kyo semalam, begitu tiba di sekolah, aku berdiri di depan gerbang untuk menunggunya. Aku berharap dia tidak datang terlambat hari ini, tapi telah kuputuskan akan tetap menunggunya sampai dia datang, tak peduli meskipun harus terlambat masuk kelas.
Semalaman aku terus memikirkan kejadian semalam, aku masih tidak menyangka Akemi tega melakukan itu padaku. Sebenci itukah dia padaku? Selama ini aku berusaha bersikap seramah mungkin pada teman-teman sekelas, aku tidak pernah membenci mereka meskipun mereka menjauhiku dan sering memandang rendah padaku. Bagiku yang terpenting bisa menyelesaikan pendidikan dengan baik di sekolah ini.
Bruum ... Bruuum ... Brummmm!
Kuhentikan lamunan ketika terdengar suara motor yang baru saja melewati gerbang sekolah. Betapa senangnya aku begitu melihat sebuah motor sport merah melintas di depanku, aku tahu betul itu pastilah Kyo. Aku juga merasa lega karena hari ini dia tidak datang terlambat. Kyo melajukan motornya menuju parkiran, aku pun berjalan mengikutinya.
Kyo melepas helm dan kini terlihat jelas wajah tampannya, meskipun seperti biasa aku merasa gugup saat melihatnya, aku tetap berjalan mendekatinya dan berusaha bersikap senormal mungkin.
“Hai, Kyo. Selamat pagi,” sapaku mencoba mencairkan suasana yang masih terasa canggung di antara kami.
Kyo tersenyum tipis yang membuat kerja jantungku semakin mengkhawatirkan. Begitu cepat hingga kapan pun bisa melompat keluar dari rongga d**a. Mungkin perumpaanku ini terlalu berlebihan tapi aku tak tahu harus menggambarkan dengan cara apa kondisi jantungku yang memang sedang berdetak cepat hanya karena melihat senyum menawan seorang Masakazu Kyo.
“Aku senang kau menuruti perkataanku,” ucapnya
“Tentu saja,” balasku sambil menundukan kepala, aku tak sanggup menatap wajahnya terlalu lama ketika kami sedang berhadap-hadapan seperti ini. “Oh, iya. Kenapa kau menyuruhku menunggumu di depan gerbang hari ini?”
Sebenarnya sejak semalam aku terus memikirkan hal ini, sehingga aku tak sanggup lagi untuk memendam rasa penasaran karena ingin segera mengetahui alasannya.
“Aku akan memberikan pelajaran pada teman-teman sekelasmu, agar mereka tidak menggangumu lagi.”
Aku pun terbelalak mendengarnya, mungkinkah dia berniat menyakiti Akemi dan teman-temannya? Kyo mulai melangkahkan kaki namun kuhalangi jalannya dengan berdiri di depannya sambil merentangkan kedua tangan ke samping.
“Jangan sakiti Akemi dan teman-temannya. Aku mohon padamu.”
Kyo menatapku teramat datar. “Kau masih memikirkan mereka setelah apa yang mereka lakukan padamu semalam?” tanyanya seakan-akan tidak percaya dengan perkataanku.
“Aku tidak akan melarangmu jika kau hanya menegur, tapi aku tak akan memaafkanmu jika kau menyakiti mereka.”
Kyo tertawa seolah sedang mengejekku sekarang. “Hahaha ... aku heran ada orang sepertimu di dunia ini. Kau terlalu baik dan polos, Hanna.”
Kyo kembali melangkahkan kaki dan kini aku hanya mampu mengikutinya dari belakang, mengabaikan orang-orang yang kini menatap kami dengan heran saat kami melintasi lorong yang memang selalu dipenuhi siswa-siswa yang berlalu lalang maupun yang sedang berkerumun.
Kyo berjalan menuju kelasku, begitu pun aku.
BRAAAKKK!!!
Tak terkira keterkejutan yang kurasakan saat dengan tiba-tiba Kyo menendang pintu kelas dengan kerasnya. Bukan hanya aku, aku yakin semua teman sekelasku sama terkejutnya denganku. Suasana riuh di dalam kelas seketika berubah menjadi hening. Semua pasang mata kini tertuju pada Kyo.
Kyo berjalan memasuki kelasku dan dia berhenti tepat di depan meja guru.
“Dengarkan aku baik-baik!” teriaknya yang seketika membuat atensi semua orang tertuju pada Kyo. Tak ada satu pun yang berani mengeluarkan suara atau menyela ucapan Kyo.
“Aku tidak akan mengampuni siapa pun yang berani mengganggu Hanna. Jika aku melihat atau mendengar kalian mengganggu dan menyakiti Hanna lagi, maka kalian akan berurusan denganku. Aku tidak akan mengampuni kalian!”
Semua orang tampak terbelalak sembari menelan ludah karena Kyo tampak begitu serius saat meneriakan ancaman itu.
“Kalian mengerti!!!”
Sungguh aku terkejut mendengar teriakan Kyo di depan kelas, semua orang tampak terdiam karena tak ada seorang pun yang berani menyahuti perkataannya.
BRAAAAK!!
Kyo menendang keras meja guru, mengeluarkan suara kencang yang membuat semua orang di dalam kelas ini terkesiap.
“Apa kalian mengerti??!!!”
“Kami mengerti!!”
Secara serempak semua teman sekelasku menyahuti teriakan Kyo. Wajah Kyo terlihat dipenuhi amarah karena memerah bagai udang goreng, dia bergegas berjalan menuju pintu kelas ketika tiba-tiba sosok Bu Misaki muncul dan hendak masuk ke dalam kelas.
“Ada ribut-ribut apa ini?” tanya Bu Misaki.
Kyo mendelik tajam pada sang guru, “Anda wali kelas mereka bukan?” tanya Kyo dengan sangat ketus.
Bu Misaki mengangguk, “Benar. Ada apa, Kyo?”
“Sebagai guru, anda telah gagal mendidik mereka. Apa anda tahu, murid-murid anda itu selalu merendahkan, mengganggu dan menyakiti Hanna hanya karena dia bukan berasal dari keluarga kaya? Mereka juga selalu mengucilkannya.”
Bu Misaki hanya diam mendengarkan pertanyaan Kyo yang terdengar kasar itu.
“Perlukah aku mengadukan hal ini pada ayahku? Aku yakin sekali dia akan sangat kecewa, sekolah ini yang dengan susah payah dibangunnya dengan mengeluarkan biaya yang tak akan bisa kalian bayangkan, ternyata tak sanggup mendidik siswa-siswanya dengan baik. Sangat tak sesuai dengan harapan ayahku.”
Kini Bu Misaki terlihat terbelalak, aku pun tak menyangka Kyo akan mengatakan hal itu pada Bu Misaki.
“Jangan, Kyo. Ibu mohon jangan adukan hal ini pada beliau.”
Kyo mendengus kasar, “Kalau begitu didiklah murid-murid anda dengan benar.”
Setelah mengatakan itu, Kyo meninggalkan kelas tanpa mengatakan apa pun lagi. Aku pun segera mengejarnya, tak peduli meski setelah ini aku harus bolos karena tak mengikuti pelajaran pertama.
Aku tahu Kyo sedang emosi saat ini, tapi aku tak pernah menyangka dia akan berbicara kasar seperti itu pada teman-teman sekelasku. Aku juga tak bisa memaafkan kekasarannya pada Bu Misaki, walau bagaimanapun Bu Misaki itu adalah gurunya. Tidak sepantasnya seorang murid berprilaku sekasar itu kepada gurunya bahkan berani memarahi sampai mengancam seperti yang dilakukan Kyo.
Kyo berjalan dengan cepat, banyak siswa-siswa dari kelas lain yang berkerumun di lorong sekolah menyaksikan keramaian di kelasku. Ketika Kyo berjalan melewati mereka, mereka terdiam dan secara serempak memberikan jalan agar tidak menghalangi jalan Kyo. Tak ada seorang pun dari mereka yang menatap ke arah Kyo seakan-akan mereka sangat takut kepada pemuda itu. Hingga kini aku masih tidak mengerti dengan keanehan guru-guru dan siswa-siswa di sekolah ini yang tampaknya begitu takut pada Kyo. Mungkin karena ayah Kyo yang membiayai pembangunan sekolah ini, tapi tetap saja bagiku ketakutan mereka terlalu berlebihan.
Sudah dapat kuperkirakan kemana Kyo akan pergi, dan perkiraanku tepat ketika kami berada di rooftop saat ini.
“Kenapa kau mengikutiku? Kau tidak ikut pelajaran?” tanya Kyo sambil menatap tajam ke arahku. Aku pun memberanikan diri untuk mendekatinya.
“Aku berterima kasih untuk semua yang kau lakukan, aku tahu kau melakukan ini demi aku. Tapi menurutku, kau berlebihan tadi. Tidak seharusnya kau bersikap seperti itu pada mereka.” Untuk pertama kalinya aku berbicara padanya dengan tatapan yang lurus menatap matanya. Meski Kyo tampak memicingkan mata, aku sama sekali tak gentar dan tetap mengutarakan kekecewaanku pada sikapnya tadi yang menurutku memang berlebihan.
“Jadi kau menyalahkan aku?”
Aku mengangguk tanpa keraguan, “Tentu saja karena menurutku kau memang salah.”
Kyo mendengus kasar tampak tak suka mendengar jawabanku. Tapi aku tak peduli, aku tetap dengan berani balas menatapnya tak kalah tajam.
“Aku melakukan ini agar mereka tidak mengucilkan dan menyakitimu lagi.”
“Tapi tetap saja tidak seharusnya kau mengatakan itu, terutama pada Bu Misaki. Kau sangat kasar padanya. Seharusnya kau menghormatinya karena dia itu gurumu. Dia memang bukan wali kelasmu, tapi dia tetaplah gurumu,” tegasku. Kyo hanya diam, masih setia menatapku dengan sorot yang sulit diartikan.
“Aku ingin kau meminta maaf pada mereka.”
Aku sendiri tak mempercayai perkataan ini akan keluar dari mulutku karena sungguh kata-kata ini terlontar dengan sendirinya tanpa mampu aku kontrol.
Kyo terbelalak, “Apa? Meminta maaf? Kau bilang aku harus meminta maaf pada mereka?” Kyo menertawakan perkataanku, tapi kini aku sedang marah padanya sehingga rasa gugup yang biasanya kurasakan setiap kali melihatnya tertawa, kini hilang entah kemana.
“Aku tidak akan pernah meminta maaf pada mereka karena aku tidak salah,” balasnya dengan begitu angkuh dan congkak.
“Jadi menurutmu, perbuatanmu tadi itu benar?”
Kyo mengangguk, “Tentu saja. Aku bahkan merasa inilah pertama kalinya aku melakukan hal yang benar dalam hidupku.”
Aku sungguh tak mempercayai apa yang aku dengar ini. Dia menganggap bersikap kasar seperti tadi merupakan tindakan yang benar. Sekarang aku semakin yakin kebenaran akan penilaianku selama ini padanya. Dia memang siswa yang nakal. Tidak, lebih tepatnya dia seorang berandalan.
“Kalau begitu berhenti menjadi pelindungku. Aku tidak ingin kau mendekatiku lagi atau ikut campur urusanku lagi.”
Kyo terlihat terkejut mendengar perkataanku, setelah diam sesaat, akhirnya dia kembali berbicara padaku, “Kau serius?” tanyanya.
“Iya, jauhi aku. Aku tidak ingin melihatmu lagi. Sudah cukup kau ikut campur urusanku. Mulai sekarang urus saja urusanmu sendiri.”
Setelah itu aku berlari meninggalkannya yang masih berdiri mematung. Aku merasa inilah yang terbaik, aku tidak ingin lebih jauh lagi berurusan dengan pria berandalan seperti dia.
***
Semenjak kejadian itu, Kyo tak pernah muncul di depanku. Aku pun tak berniat mencarinya. Selain itu terjadi perubahan yang sangat drastis pada teman-teman sekelasku. Satu per satu dari mereka mulai menyapa dan mengajakku bicara. Mereka tidak mengucilkan ataupun merendahkanku lagi. Sikap mereka sangat baik padaku sekarang.
Akemi dan teman-temannya pun tidak pernah menggangguku lagi, meskipun aku sering memergoki Akemi menatapku dengan sinis dan penuh kebencian. Tapi aku tidak mempermasalahkannya, bagiku yang terpenting aku bisa menuntut ilmu dengan tenang di sekolah ini. Aku juga merasa senang karena bisa menikmati masa-masa sekolahku secara normal tanpa harus setiap hari melihat tatapan mencemooh dan merendahkan dari teman-teman sekelasku. Aku tahu betul perubahan ini terjadi berkat Kyo. Jika bukan karenanya, mungkin sampai lulus pun, teman-teman sekelasku tidak akan mau berteman denganku dan mereka akan tetap mengucilkanku.
Aku sangat menyadari sudah banyak bantuan Kyo untukku, bahkan dia pun telah menyelamatkan kehormatanku dari kedua pria yang diperintahkan Akemi untuk menodaiku. Kyo adalah penolongku, tapi aku belum bisa memaafkan kekasarannya pada Bu Misaki saat itu.
“Hanna, makan di cafe bersama kami yuk!” ajak salah seorang teman sekelasku, tapi dengan halus aku menolaknya karena seperti biasa aku membawa bekal makan siang yang sengaja disiapkan ibu.
“Ayolah, bukankah kita berteman sekarang? Anggap saja ini sebuah perayaan, kami akan mentraktirmu. Benar kan teman-teman?”
Pertanyaan itu secara serempak ditanggapi dengan anggukan dari beberapa temanku yang berdiri mengelilingiku saat ini. Aku pun tak sanggup lagi untuk menolak sehingga akhirnya aku menerima ajakan mereka.
Aku mengikuti mereka memasuki cafe sekolah yang sebenarnya baru pertama kali aku lakukan. Semenjak menuntut ilmu di sekolah ini, aku memang belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di Cafe ini. Suasana di Cafe sangat ramai, dipenuhi siswa-siswa yang tengah melahap makan siang mereka.
Makanan-makanan yang terhidang di sini pun sangat lengkap dan mewah. Bahkan di sini terdapat Group Band musik yang memainkan lagu-lagu mengiringi aktivitas makan para siswa. Tempat ini sangat luas dan besar sehingga mampu menampung semua siswa yang menuntut ilmu di sekolah ini. Kursi dan meja berderet dengan rapi layaknya restoran mewah. Hiasan-hiasan yang menghiasi Cafe ini pun semakin membuatku takjub dengan kemewahan Cafe ini, sangat cocok menjadi tempat makan bagi para putra dan putri kaya raya ini. Aku merasa minder berada di tempat ini, sangat tidak cocok untuk orang biasa sepertiku.
“Hanna, kau mau pesan apa?” tanya salah seorang temanku. Aku bahkan tidak tahu menu makanan di Cafe ini, membuatku semakin merasa tidak cocok berada di sini.
“Samakan saja denganmu,” jawabku pelan.
“Hm, baiklah kalau begitu.”
Bahkan di Cafe ini pun dipenuhi banyak pelayan yang dengan sigap melayani pesanan. Tak butuh waktu lama hingga makanan pesanan kami pun terhidang di meja.
Aku dan teman-temanku mulai melahap makanan kami ketika tiba-tiba suasana menjadi riuh. Terdengar siswa-siswa perempuan antusias menatap ke arah pintu, aku pun mengikuti arah tatapan mereka. Kini aku mengetahui alasannya, dua orang pria tampan berjalan memasuki Cafe ini. Kyo menghentikan langkahnya ketika tanpa sengaja bertatapan denganku. Hanya sesaat saja dia menatapku, setelah itu dia dan Siky kembali berjalan menuju sebuah meja yang sudah dipenuhi siswa laki-laki. Aku yakin mereka pastilah teman sekelas Kyo.
“Hai, teman-teman,” sapa Kyo sambil bertos ria dengan teman-temannya. Suasana menjadi begitu ramai begitu kedatangan Kyo. Dia tertawa terbahak-bahak bersama teman-temannya. Aku tidak tahu apakah Kyo menyadari bahwa sosoknya kini telah menjadi pusat perhatian para siswa perempuan, begitupun aku. Tapi aku berharap Kyo tidak menyadari aku sedang sibuk menatapnya saat ini.
“Selalu seru jika ada Kyo.”
“Iya, aku juga jadi bersemangat. Wajahnya memang tidak pernah bosan untuk dilihat. Benar kan, Hanna?”
Aku mengalihkan tatapanku pada Kyo dan kini kembali menatap teman-temanku yang duduk satu meja denganku. Aku hanya menanggapi pertanyaan salah seorang temanku itu dengan senyuman karena diam-diam aku setuju dengan pendapat mereka.
“Oh, iya. Hanna, kami jadi iri padamu. Bagaimana bisa kau begitu dekat dengan Kyo? Sampai dia membelamu seperti waktu itu.” tanya salah seorang temanku dengan raut penuh harap di wajahnya, mengharapkan aku akan memberikan jawaban. Entah jawaban apa yang harus aku berikan padanya, karena aku pun tidak tahu pasti alasan Kyo begitu peduli padaku. Aku hanya bisa tersenyum sebagai jawaban.
“Tapi Kyo itu memang baik. Dia tidak pernah kasar pada wanita.”
“Iya, benar. Itulah mengapa aku ingin sekali menjadi pacarnya.”
“Enak saja, aku juga mau jadi pacarnya.”
Aku hanya terdiam mendengarkan pembicaraan teman-temanku. Rupanya mereka memang sangat mengidolakan Kyo.
“Hei, Kyo, kau sudah mau pergi? Kau baru makan sedikit.”
Perkataan yang berasal dari salah seorang teman Kyo kembali menarik perhatianku. Kyo memang terlihat beranjak bangun dari kursinya.
“Kau tahu kan, aku tidak terlalu suka makanan di cafe ini. Aku pergi dulu. Sampai jumpa di kelas ya,” ucapnya setelah menepuk pelan pundak temannya yang tadi bertanya padanya. Tampaknya Siky memang sahabat karib Kyo karena dia pun mengikuti Kyo meninggalkan Cafe ini.
Suasana kembali tenang di dalam Cafe, hanya suara alunan musik dan suara pelan beberapa siswa yang mengobrol yang terdengar. Begitu pun denganku yang merasa tak bersemangat untuk menyantap makanan meski teman-temanku sibuk mengajak berbincang-bincang. Entah kenapa diabaikan oleh Kyo seperti tadi membuat hatiku tak nyaman.
***
Dua minggu tepatnya aku tidak melihat Kyo. Terakhir kali melihatnya ketika tanpa sengaja bertemu dengannya di cafe sekolah waktu itu. Ada sebuah perasaan aneh yang kurasakan ketika tak melihatnya lagi. Sesuatu yang berharga terasa menghilang dari hatiku.
Sejak menuntut ilmu di sekolah, aku sudah terbiasa menyendiri. Tapi baru kali ini aku merasa begitu kesepian. Seharusnya aku tidak merasakan kesepian lagi sekarang karena teman-teman sekelasku sudah bersikap baik padaku, bahkan sering mereka mengajakku berkumpul bersama. Namun tetap saja aku merasa hari-hariku sangat hampa. Bukan hanya ketika di sekolah bahkan di rumah atau di tempat kerja pun aku merasa tidak bersemangat.
“Hei, kenapa sejak tadi melamun terus? Apa ada masalah lagi di sekolah?” tanya Kak Akane yang tanpa kusadari sudah duduk di sampingku.
Aku memang sedang berada di tempat kerja, suasana mini market cukup sepi sehingga kuhabiskan waktu dengan banyak melamun. Aku juga belum menceritakan kejadian yang menimpaku selama ini pada Kak Akane. Aku tidak sanggup lagi menahan rasa sepi ini, aku membutuhkan seseorang untuk mendengarkan keluh kesahku. Aku pun akhirnya menceritakan semuanya pada Kak Akane. Dimulai dari kejadian mengerikan yang nyaris merenggut kesucianku, sikap kasar Kyo pada teman-teman sekelasku dan Bu Misaki, perubahan sikap teman-teman sekelasku serta pertengkaranku dengan Kyo pun tak luput kuceritakan pada Kak Akane.
“Kenapa kau baru menceritakannya sekarang?”
Terlihat Kak Akane sangat kesal padaku karena tidak segera menceritakan kejadian-kejadian yang menimpaku ini padanya.
Aku menundukan kepala, penuh sesal. “Maafkan aku, Kak,” gumamku lirih.
“Kau pasti sudah jatuh cinta para pria bernama Kyo itu.”
Aku terkesiap mendengar perkataannya sehingga cepat-cepat aku kembali mengangkat kepala. Aku merasa yang dikatakan Kak Akane merupakan sesuatu yang mustahil. Namun mengingat aku tak pernah jatuh cinta pada siapa pun sebelumnya, membuatku hanya mampu terdiam.
“Kau harus segera berbaikan dengannya. Mendengar dia melakukan semua itu untukmu, aku yakin dia pun jatuh cinta padamu.”
Aku membulatkan mata, “Itu mustahil, Kak.” Kali ini dengan tegas kutampik pemikiran Kak Akane yang terdengar berlebihan menurutku.
“Kau ini masih muda, kau belum berpengalaman soal cinta. Perasaan hampamu semenjak kau bertengkar dengan Kyo, jelas merupakan bukti bahwa kau mencintainya. Selain itu, jika Kyo tidak mencintaimu, menurutmu kenapa dia mati-matian melindungimu? Dia bahkan datang menyelamatkanmu ketika kau nyaris diperkosa. Dia juga menunjukan amarah sebesar itu pada teman-teman sekelasmu yang selama ini selalu mengucilkanmu. Aku sangat yakin kalau dia pun jatuh cinta padamu.”
Aku menggeleng-gelengkan kepala, tak setuju pendapatnya. “Mungkin dia hanya kasihan padaku,” jawabku mencoba mencari alasan yang tepat dan masuk akal atas semua kebaikan Kyo padaku.
Kak Akane berdecak sebal, “Haah, terserah kau saja kalau kau tidak percaya perkataanku. Tapi segeralah berbaikan dengannya. Aku tidak suka melihatmu tidak bersemangat seperti ini. OK?” Setelah itu Kak Akane mengedipkan sebelah mata dan tanpa menunggu responku, dia melangkah pergi meninggalkanku sendirian lagi di meja kasir. Mungkin aku memang harus menuruti perkataan Kak Akane. Aku harus meminta maaf karena aku tidak tahan terus bertengkar dengan Kyo.
***
Kurebahkan tubuh di tempat tidur empukku begitu selesai belajar malam ini. Memang seperti ini kegiatanku setiap hari. Setelah pulang bekerja, aku akan belajar sebentar setelah itu tidur di kasur empukku.
Perkataan Kak Akane tadi tidak henti-hentinya terngiang di kepala. Aku masih tidak mempercayai perkataannya, bagiku sangat mustahil pria sepopuler Kyo bisa jatuh cinta pada gadis sepertiku. Tapi mengenai perasaanku pada Kyo, benarkah aku jatuh cinta padanya? Aku masih belum yakin dengan perasaanku ini.
Kutatap jaket hitam Kyo yang tergantung di dinding, jaket hitam yang dia berikan padaku di hari pertama pertemuan kami di atas rooftop saat dia menyelamatkanku dari Akemi dan teman-temannya.
“Anggap saja jaket dan saputangan itu aku jika sedang tidak bersamamu. Jangan takut lagi, aku akan selalu menjadi pelindungmu.”
Perkataannya malam itu kembali terbayang di ingatanku, sepertinya memang benar yang dikatakan Kak Akane. Entah sejak kapan sosok Kyo menempati posisi yang sangat penting di dalam hati dan juga hidupku. Dia sangat berarti untukku dan aku tidak ingin kehilangannya. Jadi sudah kuputuskan jika bertemu dengannya lagi, aku akan langsung meminta maaf padanya atas semua perkataan dan sikap kasarku hari itu.