Aku terbangun, duduk dan menatap pohon akasia di luar jendela. Terang. Sudah pagi. Daun-daun bergerak-gerak tertiup angin. Waktu seolah berhenti beberapa detik saat aku memperhatikannya. Hati kosong melompong. Aku sedih. “Sudah bangun?” Rara datang, diikuti Sari di belakangnya. Sari berhambur memelukku dan menangis tersedu-sedu. Dia terus menyalahkan diri sendiri, mengapa tidur begitu nyenyak hingga tak sadar ada gempa. “Maafkan aku, Anna. Maafkan aku.” Tidak. Bukan Sari yang harus minta maaf. Pria itu. Winter. Dia banyak bersalah padaku. Pergi seenaknya dan membuatku mencarinya. Sekarang, di mana dia? Aku menyibak selimut, berlari turun, tapi lutut terasa lemas. Terduduk jatuh di atas tangga. Sari dan Rara menghampiri, berusaha memapahku kembali, tapi aku menampik mereka. Aku harus m

