Buka pintu, bau ruangan lembap merengkuh. Langkahku masuk, satu, dua, gontai dan tidak bersemangat. Aku meraba dinding, menemukan saklar lalu menekannya. Klap. Terang membuat semakin jelas, betapa kosong dan lengang rumah ini. Layaknya hati. Kosong, lengang dan tidak bertuan—aku sedang patah hati. Kulempar tas, menanggalkan mantel yang membungkus gaun putih, lantas pergi ke ruang bawah tanah. Di ruang bawah tanah, botol-botol membeku dalam hening. Winter benar-benar sudah pergi. Rasa aneh menyelubungi hati. Apakah pada akhirnya semua orang akan pergi meninggalkanku? Papa, Mama, Winter. Lama-lama, Romeo pun membuangku. Mungkin nanti, ketika dia sudah tidak sanggup lagi memaksakan diri menjadi tunanganku. Aku duduk menekuk lutut di atas kursi makan seraya menggenggam leher botol, melakuk

