Syaza berjalan pulang dengan raut wajah suntuknya. Setelah butuh waktu 1 jam lebih baginya untuk menjelaskan kepada teman kerjanya tentang kejadian itu. "Assalamuaaikum!"ujarnya membuka pintu rumah. Tanpa ada yang menyahuti salamnya.
Pukul setengah tujuh malam, Syaza akhirnya sampai di rumahnya, dan bersyukur dia bisa selamat sampai tujuan. Sebab selama perjalanannya dia berjalan di temani banyak pasang mata yang masih mengintainya. Pasalnya berita dirinya sekejap saja sudah viral di media sosial.
"Mimpi apa aku semalam! Haizzz... " Syaza melempar tas beserta tubuhnya ke sofa.
Matanya terpejam penuh lelah. Rumah peninggalan orang tuanya yang mewah inilah satu satunya tempatnya untuk pulang dan mendapat ketenangan.
Suara langkah kaki dan tongkat yang bergesek membuatnya tersenyum, walau matanya masih terpejam. Tentu dia tahu ada yang mendekatinya. "Nona Syaza sudah pulang, Tuan. "
"Apa yang sedang dia lakukan, Mbok Nami? "suara bass itu membuat Syaza tersenyum geli.
"Emmm... Nona tertidur di sofa lagi, Tuan. Sepertinya dia kelelahan. "suara lembut wanita berumur yang diiringi kekehan kecil itu membuat Syaza membuka matanya.
Dia mendengus geli. "Aku nggak tidur ya! Sembarangan si Mbok. " melirik Mbok Nami yang berdiri di samping sang ayah. Syaza berdiri dari duduknya, lalu mendekati sang Ayah yang menatapnya dengan pandangan kosong. "Assalamuaaikum, Pa. Syaza pulang. "
Pria baya itu tersenyum merasakan kecupan lembut di punggung tangannya.
"Waalaikumsalam, sayang. "
Syaza menatap sedih papanya yang masih menatapnya hampa. Karena papanya itu mengalami kebutaan setelah kecelakaan beberapa tahun yang lalu.
"Non!"
"Eeh, iya Mbok? "ia melirik Mbok Nami yang memberinya senyuman lembut. "Semangat!" gumam Mbok Nami tanpa suara. Syaza mengacungkan jempolnya sebagai balasan. "Papa udah makan?"
"Sudah, sayang. "
"Non, mau Mbok siapin air mandinya? "tanya Mbok Nami pembantu rumah tangga yang sudah bekerja sejak Syaza masih balita.
"Nggak, Mbok! Aku tuh udah bukan anak-anak lagi. Malah aku ini tuh udah bisa bikin anak. Gak perlu di siapin segala... "
"Husshhh... Mulutnya! "tegur Khalid menepuk pelan tangan Syaza yang bertengger di lengannya.
"Muehehhe... Canda pa! Canda. "
Mbok Nami hanya terkikik geli dengan tingkah Nonanya. "Mau Mbok ambilin jus atau air putih non?"
"Emmm... jus jeruk, boleh Mbok! "
"Okey Non!"
Setelah Mbok Nami pergi Syaza mengurut pelan lengan sang ayah sambil bercerita. "Pa, tadi Sya ketemu cowok ganteng banget loh! "
"Benarkah? "
"Emm! Tapi sayang udah ada gandengannya, pa! Kagak jomblo dia." dia mendengus. "Sya heran deh pa, kenapa cowok tampan di dunia ini rata-rata udah punya gandengan. Nggak ada gitu di sisain satu untuk Sya! "
Khalid terkekeh geli mendengar cerita putrinya, "Kamu ini! Mungkin karena mereka sudah berjodoh. "
"Ya tapi kan Syaza juga butuh jodoh tahu pa! Butuh pasangan gitu, gak betah juga jomblo lama-lama. "
Wajah Khalid berubah muram mendengarnya. "Maafin papa ya, Sya. Kamu jadi harus bekerja di usia kamu yang harusnya sudah punya pasangan. "
Syaza tertegun mendengarnya, dia merasa bersalah mengatakan hal itu padahal niatnya hanya untuk berbagi cerita saja dengan sang ayah. "Kenapa papa minta maaf? Sya cuman bercanda kok. Sya yakin jodoh Sya itu udah Allah ciptakan untuk Sya. Jadi nggak ada pengaruhnya gimanapun posisi Sya. "
Khalid masih tetap diam, Sya menatap mata sang ayah yang walaupun hampa itu, dia bisa melihat bahwa papanya pasti sudah menangis di sana.
"Paa, dengerin Sya deh. "dia mengusap lembut lengan papanya. "bagi Sya, Papa itu adalah segalanya. Cinta pertama Sya itu papa. Sya selalu berdoa sama Allah agar jodoh Sya nanti adalah pria yang benar-benar bisa menjaga Sya dan juga papa."
Mata Syaza mulai berkaca-kaca, "Kamu putri papa yang paling papa sayang. Papa nggak tahu kebaikan apa yang papa lakukan di masa lalu sampai papa dapat putri sebaik kamu, sayang. "
"Paa.. "suara Sya mulai gemetaran. Tangan Sya menangkap tangan ayahnya ketika mencoba menyentuh pipinya.
Syaza sedang menangis saat ini dan dia tidak ingin kalau Khalid mengetahuinya. "Jangan menangis sayang... Papa tahu kamu menangis, jangan seperti ini. Kamu tahu Papa tidak suka kalau kamu menangis. "ujar pria baya itu lirih.
"Enggak kok! Syaza lagi senyum, senyum lebar banget! Enggak ada nangis-nangisan. "katanya dengan nada ceria mencoba menghibur papanya.
"Udah. Papa tenang aja, Syaza udah bahagia banget bisa jagain papa dan bisa kumpul begini. Papa nggak perlu lagi pikirin kebahagiaan Sya. Karena aku udah bahagia. "
Khalid menangguk, dengan senyum merekah. Dia meraba kepala Syaza yang masih tertutup hijab itu. "Papa senang kamu memakai ini, sayang. Papa sangat ingin melihat betapa cantiknya putri papa ketika memakai hijab. "
"Papa bisa lihat aku dengan bayangin gimana aku. Seperti apa yang Papa bayangin tentang aku ya begitulah aku. "
"Kamu pasti sangat cantik! "
"Emang cantik dong! Putri papa gitu loh! "ujarnya pede sambil mengecup pipi papanya itu.
Khalid tertawa geli, "Kamu ini! "
Mbok Nami datanng dengan segelas jus jeruk di tangannya. "Ini, Non! "
"Makasih Mbok. Oh iya Mbok tolong anterin papa ke kamar ya! Syaza mau sholat magrib dulu mumpung masih ada waktu. "katanya sambil meliirk jam dinding.
"Iya Non. Tapi habis itu jangan lupa mandi ya Non! Udah bau soalnya! "
"Wiihh bau mbok? Bukan bau ketek kan? "
"Hahahha, iya Non. Bau asemmm..."
"Ishhh Mbok, mah! Papa aja nggak kebauan kan, pa? "
Khalid terkekeh ketika Syaza mencoba mencari pembelaan padanya, "Memang bau acem sayang... Hehehe!"
"Yaah papa! Udahh ahh gak asik papa! BYEE?! " Syaza melongos pergi dengan wajah cemberutnya membuat Mbok Nami dan Khalid tekekeh.
"Putriku pasti sangat cantik ya Mbok? "
"Iya Tuan. Nona Syaza tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik!" jawab Mbok Namipun ikut tersenyum lembut.
Syaza melepaskan kain Hijabnya dan melemparkannya ke ranjang. Setelah itu dia melirik jam dan langsung bergegas menuju kamar mandi. "Harusnya tadi aku tidak bicara dulu dengan Papa! Tapi yasudahlah, masih ada waktu kok." dumelnya.
Syaza lupa jika dia belum sholat magrib. Gadis itu langsung mengambil air wudhu dan menunaikan Sholat magrib. Setelah selesai sholat, Syaza langsung mandi untuk menyegarkan dirinya.
Gadis itu telah keluar dari kamar mandi dengan semerbak harum mawar menyeruak di kamarnya. Ya, mungkin karena sambun mawar merek mawar yang digunakannya.
"Segeeeeerrrrr... Banget!" dengan santai dia berjalan menuju lemari pakaian dengan handuk piyama dan kepalanya yang juga terbungkus handuk. Dia kemudian memakai CD nya dan mengambil drees oblong yang langsung menutup tubuhnya hingga betis.
Dia tidak biasa mengenakan bra saat tidur. Ya, bisa dibilang karena ada dokter kesehatan yang menyarankan bahwa lebih bagus tidur tanpa mengenakan pakaian dalam untuk kesehatan.
Ada juga yang menjelaskan bahwa tidur telanjang lebih baik.
"Tidur telanjang lebih baik? Ck... Ck... Terkadang ngeri-ngeri mantep kalau baca artikel kesehatan yak!" Syaza geleng-geleng kepala ketika mengingat artikel yang pernah di bacanya.
"Kalau tidur polosan ada suami mah enak ya, ada penghangatnya. Lah kalau jomblo? Bisa mati kedinginan kan! Mbohlah... Mbohh! "
Syaza berkedik horor sendiran membayangkan jika itu sampai terjadi. Dia kemudian melanjutkan nite routine nya dengan benda-benda wajib kalangan wanita.
Skin care time!
Mulai dari membersihkan wajahnya, memoleskan pelembab dan hal-hal lainnya yang hanya para wanita yang tahu tentang keribetan semua itu, yey!
Setelah semuanya selesai. Syaza mulai menaiki ranjang tidurnya. Membaca doa tidur dan menarik selimutnya berlanjut menghidupkan lampu tidur dan mematikan lampu utama.
Ketika matanya mulai terpejam baru sepersekian detik mata itu tertutup hal itu tiba-tiba muncul di pikirannya.
"Kamu! Minikahkah denganku! "
"Apaan tuh?! " mata mungilnya kembali melotot.
"Wihh, gila sampai nyangkut di kepalaku! "Syaza mengerjapkan matanya.
"Bodoh ah! Mungkin lagi stres kali tuh cowok!" Syaza kembali mencoba memejamkan matanya.
"Menikahlah denganku! "
"Enggak! "dia berkata dengan mata tertutup.
"Aku ingin menikah denganmu! "
"Situ mau, lah aku enggak! "
"Menikah denganku! "
"OGAH! "
"Kamu harus menikah dengan ku!"bayangan pria itu yang seolah memaksanya menikah berputar bak kincir ria di kepalanya yang terasa sangat horor.
"KAGAK MAU?!! "Teriak Syaza sampai gadis itu terduduk di ranjangnya.
“Wah..., bahaya-bahaya. Kenapa tuh cowok bisa nyangkut di pikiranku ya. Ganteng sih banget kayak paket spesial telornya 5, eh ngapa jadi kek martabak!” Syaza menggeleng-gelengkan kepalanya berusaha menghalau pikiran tentang pria itu.
Tapi nyatanya sosok pria itu malah semakin terbayang jelas di benaknya. Tubuhnya yang tinggi, wajahnya yang sangat-sangat tampan, stelannya yang memukau. Juga otot-otot tangannya yang terbayang dari lengan kemejanya dan tubuh yang seksi. Yang sangat menggoda iman.
“Haizzz... malah mikir m***m kan! Ehh, tunggu! Jangan-jangan...” Syaza terpaku dengan kalimat tergantung di bibirnya.
Dia melotot horor, dengan kedua tangan menangkup pipinya. “Jangan- jangan AKU KENAK PELETNYA DIA! HUAAAAA!” Syaza langsung berbaring dan menarik selimut kembali membungkus tubuh mungilnya.
Pagi harinya Syaza yang menunggu di halte bus untuk pergi ketempat kerjanya. Bersamaan dengan itu mobil Zayn juga melintas di jalan yang sama. Dan berhenti di lampu merah yang berada di sebrang jalan.
Pria itu tampak langsung mengenali sosok Syaza yang sedang duduk sambil memainkan ponselnya. Seorang wanita menghampiri Syaza dan menepuk pundak wanita itu, tidak lain adalah Mira teman kerjanya.
Di balik kaca gelap yang tidak tembus pandang, Zayn mengamati Syaza dengan sorot matanya yang dingin. Kemudian bibirnya bergerak mengatakan sesuatu tanpa nada. “Theo, aku ingin informasi lengkap tentang gadis itu!”
“Baik Tuan, secepatnya anda akan mendapatkan keduanya.” Balas Theo asistennya yang menyahut dari balik kursi penumpang di samping supir.
“Bukan keduanya.” Dia melihat kembali kepada Syaza. “Hanya gadis yang mengenakan Hijab saja.”
Ya, pasalnya teman Syaza adalah gadis dengan kuncir kuda ponny.
Theo hanya manggut-manggut, namun dalam hati tentu dia bertanya-tanya dalam kebingungan, “Hmmm, tidak biasanya Tuan Zayn tertarik dengan wanita seperti itu.”
"Sudahlah. Kali aja bos Zayn mau tobat, hihihihi!” pikir Theo sambil menahan senyumnya. Melirik dari balik kaca spion supir bosnya itu masih saja menampilkan tatapan dingin sepanjang perjalanan mereka menuju kantor.
Dalam diam Zayn memikirkan sebuah rencana, “Gadis sepertinya harus jadi istriku.”
Jangan berpikir bahwa memang itulah yang dipikirkan Zayn. Nyatanya lelaki itu bukan hanya ingin menjadikan Syaza sebagai istri saja. Tapi lebih tepatnya sebagai wanita yang akan menjadi alat baginya untuk membatalkan pernikahannya dengan Amera.
Benar-benar Mr. Cold yang cukup licik!
****
#Bersambung