EPISODE 11

1215 Words
Laki-laki yang baik ditakdirkan untuk wanita yang baik. Begitupun sebaliknya.   * * *   CUKUP KATAKAN   "Jadi bagaimana? Kamu sudah tahu mau memutuskan apa?," tanya Ardi. "Belum A'..., Ibu memang setuju untuk tinggal bersamaku dan Ukhti Syifa jika kami sudah menikah. Ibu juga setuju kalau kami memenuhi keinginan kedua Orang tua Ukhti Syifa. Tapi, aku tahu persis kalau Ibu juga tidak mau jauh dari Teh Risya dan A' Ardi," jawab Rahman. Ardi menepuk pundak Rahman. "Kamu sudah tanya Syifa?." Rahman menggelengkan kepalanya. "Aku belum berani menemuinya," Rahman mengakui. Ardi terkekeh. "Belum berani atau malu??? Kamu itu kebangetan..., masa calon isterimu jarang ditemui. Kan kasihan, nanti dia pikir kamu nggak serius sama dia," ujar Ardi. Rahman tersenyum tipis, ia agak bingung jika bertemu dengan Syifa. Ia merasa canggung setelah mendengar penyataan cinta di malam pertunangan mereka. Entah ia harus mengatakan apa jika bertemu dengannya. Jam telah menunjukkan pukul setengah sebelas siang, Syifa pun bergegas keluar dari rumah pondok santriwati untuk menuju ke masjid. Banyak santri dan santriwati baru yang sudah menunggunya. Pembimbing sebelumnya mungkin sudah selesai memberikan materi dan kini adalah giliran Syifa yang mengajar. Rahman berpapasan dengannya di tengah jalan, mereka berhenti sesaat dan benar-benar merasa canggung - seperti yang sudah Rahman duga. "Assalamu'alaikum...," sapa Rahman. "Wa'alaikum salam...," balas Syifa. Rahman berdiri di balik tembok samping masjid bagian luar, sementara Syifa berdiri di balik tembok masjid bagian dalam. "Anu..., bolehkah saya minta waktu untuk bicara? Ada..., hal penting yang harus saya tanyakan pada Ukhti," Rahman berbicara dengan suara terbata-bata. Syifa mengulum senyumannya sesaat. Ia menarik nafas dalam-dalam beberapa saat sebelum menjawab. "Saya ada jadwal untuk memberi materi Akh..., tapi kalau Akh Rahman mau menunggu, kita bisa bicara setelah jadwal saya selesai," ujar Syifa. Rahman tersenyum. Ia pun meng-iya-kan, tanda bahwa ia setuju dengan apa yang Syifa tawarkan. "Mari Akh..., saya permisi dulu, Assalamu'alaikum...," pamit Syifa, seraya meninggalkan tempatnya berdiri untuk benar-benar masuk ke dalam masjid. "Wa'alaikum salam... ." Rahman keluar dari balik tembok dan menatap punggung Syifa yang baru saja akan menjauh. "Ukhti Syifa...," panggilnya lagi. Syifa berbalik dan menatapnya dari ambang pintu masjid. Rahman tersenyum. "Saya juga cinta sama Ukhti..., sejak pertama kali Ukhti menjawab semua pertanyaan-pertanyaan saya di penjara," ungkapnya. Wajah Syifa memerah seketika, jantungnya berpacu dengan meriah mendengar ungkapan itu. Bibirnya tak bisa ditahan untuk tidak tersenyum di balik niqob-nya. Namun Syifa lebih memilih terus berjalan masuk ke dalam masjid dan segera pergi dari jangkauan pandangan Rahman sebelum jantungnya meledak karena rasa bahagia. Rahman segera menepuk keningnya sendiri. "Astaghfirullah..., aku ini ngomong apa sih??? Kok bisa-bisanya ngelantur di depan dia???," Rahman merutuki dirinya sendiri. Syifa pun segera meletakkan tas yang ia bawa di sudut ruangan. Bu Nyai tersenyum ke arahnya, ia pun mendekat. "Assalamu'alaikum Bu...," sapa Syifa. "Wa'alaikum salam Ukhti Syifa..., silahkan langsung saja maju ke mimbar. Saya hanya sedang meninjau perkembangan santri dan santriwati," balas Bu Nyai. Syifa pun segera maju ke mimbar, seluruh santri dan santriwati menatapnya dengan serius. "Assalamu'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh," materi akan segera dimulai. "Wa'alaikum salam warrahmatullahi wabarakatuh," jawaban serentak dari seluruh santri dan santriwati muda. "Allahumma sholi 'ala Muhammad, wa 'ala ali syaidina Muhammad, wa 'ala alihi wa shohbihi ajma'in, amma ba'du. Robbishrohlii shodrii wa yassir lii amrii wahlul 'uqdatam mil lisaanii yafqohuu qoulii." Sejenak Syifa menatap ke arah seluruh jama'ah. "Jama'ah yang shaleh dan shalehah rahimakumullah. Sore ini saya akan membahas tentang Su’udzon. Apa itu su’udzon??? Su’udzon adalah salah satu sifat buruk atau sifat tercela, dengan mencari-cari kesalahan orang lain. Bisa disimpulkan secara lebih sederhana bahwa su’udzon sama dengan buruk sangka, dan sifat buruk sangka ini, jika terdapat di dalam hati seorang muslim, maka akan berdampak buruk dan berdampak negatif," jelas Syifa. Bu Nyai memperhatikan bahwa seluruh santri dan santriwati muda yang tengah diberi materi itu mencatat dengan baik. "Bisa kalian lihat salah satu dalil larangan berburuk sangka di dalam sabda Nabi Muhammad shalallahu 'alaihi wa salam yang berbunyi, 'jauhilah sifat berprasangka karena sifat berprasangka itu sedusta-dusta pembicaraan. Dan janganlah kalian mencari kesalahan, memata-matai, janganlah kalian berdengki-dengkian, janganlah kalian belakang-membelakangi dan janganlah kalian saling membenci. Dan hendaklah kalian semua wahai hamba-hamba Allah bersaudara', hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari." Syifa berdiam diri sejenak dan memberikan waktu bagi para jama'ah untuk mencatat. Bu Nyai tersenyum dari balik niqob-nya ke arah Syifa, ia merasa bangga karena memiliki cucu yang sangat cerdas sepertinya. "Macam-macam su’udzon itu terbagi menjadi tiga, yakni su’udzon kepada Allah subhanahu wa ta'ala, su’udzon kepada orang lain dan su’udzon kepada diri sendiri. Salah satu contoh su’udzon kepada Allah subhanahu wa ta’ala ialah, jika seorang muslim atau muslimah ditanya untuk menikah, agar dapat terhindar dari dosa dan berbuat zina, maka mereka pastinya menjawab dengan jawaban nanti dulu..., menunggu mapan..., dan takut tidak bisa menafkahi keluarga. Jawaban seperti itu secara tidak disadari, membuat mereka telah su’udzon kepada Allah. Karena Allah telah memerintahkan seorang muslim atau muslimah yang baligh atau dewasa untuk menikah, dan jika mereka miskin maka Allah subhanahu wa ta’ala akan membuatnya mampu dengan memberinya rezeki," tutur Syifa, dengan lengkap. Bu Nyai memperhatikan bagaimana Syifa mengatur jeda saat memberi materi, ia teringat bagaimana Diva melakukannya bertahun-tahun yang lalu. "Perlu kalian semua ketahui, salah satu buruk sangka yang sangat berbahaya, dan akan menjerumuskan setiap muslim sehingga  mendapatkan dosa besar ialah su’udzon kepada orang lain, karena jenis su’udzon ini benar-benar sudah sangat sering dilakukan oleh setiap muslim atau muslimah. Salah satu contoh su’udzon kepada orang lain yang paling umum ialah ketika tetangga seorang muslim atau muslimah mendapatkan suatu rezeki yang melimpah, seperti bisa membeli rumah baru, mobil baru, atau barang lainnya, maka pastinya ada seseorang yang hatinya tidak senang dan kebanyakan ia berpikir bahwa tetangganya tersebut mendapatkan rezeki dari cara-cara yang tidak baik ataupun bersu’udzon yang lain." Waktu sudah hampir habis, dan Syifa menyadari itu. "Terakhir, contoh su’udzon kepada diri sendiri, yaitu ketika kita melakukan sesuatu, tetapi kita sudah tidak percaya diri bahwa kita bisa melakukannya. Dalam hal ini, su’udzon kepada diri sendiri sama saja dengan tidak percaya diri atau pesimis, dan tentunya sifat ini tidaklah baik untuk diri kita sendiri karena dengan pesimis maka kita tidak akan bisa berkembang untuk lebih baik di masa depan. Demikianlah pembahasan materi mengenai pengertian su’udzon dan contoh su’udzon, semoga saja materi ini bermanfaat bagi kalian semua. Perlu diingat sekali lagi, bahwa salah satu macam akhlak tercela di ajaran Islam ini yang kita sebut su’udzon, tidaklah baik sehingga kalian sebagai seorang muslim dan muslimah sangat diharapkan untuk tidak memelihara sifat su’udzon ini, karena akan menjerumuskan kalian dalam dosa besar,” jelas Syifa. Wanita itu pun menutup buku pegangan yang ia bawa. “Materi ini Insya Allah akan masuk dalam ujian semester kalian di Madrasah, maka dari itu jangan lupa hafalkan dan pelajari dengan baik. Sekian materi hari ini, wabillahi taufik wal hidayah, wassalamu'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh," tutup Syifa. "Wa'alaikum salam warrahmatullahi wabarakatuh." Para santri dan santriwati segera membubarkan diri, Syifa pun bergegas berpamitan pada Bu Nyai. Ia hendak memenuhi janjinya untuk membicarakan sesuatu dengan Rahman. Bu Nyai menatap sosok Syifa yang mulai berjalan menjauh. 'Diva benar-benar menanamkan hal terbaik yang ia miliki padamu, dan kamu menerimanya jauh lebih baik. Sehingga dirimulah yang dipilih oleh Diva untuk menggantikannya, kelak.'   * * *
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD