BAGIAN 4

1080 Words
Pengendalian diri adalah hal paling penting dalam kehidupan kita, karena dengan mengendalikan diri, kita akan mempelajari arti kesabaran.   * * *   TUDUHAN   Salman dan Kiana menyambut kedatangan para sahabat mereka yang datang memenuhi undangannya. Sebuah pesantren baru yang dibangun oleh Salman akan diresmikan hari itu. Syifa sudah berada di sana sejak kemarin, ia bersama Diva membantu Kiana untuk menyiapkan hidangan dan juga mengatur beberapa hal lainnya. Abah dan Bu Nyai hadir bersama beberapa orang santri dan santriwati dari pesantren Al-Mu'min. Mereka akan membantu mengisi acara peresmian itu. "Assalamu'alaikum Akh Salman...," ujar Rasya, yang langsung memeluk pria itu. "Wa'alaikum salam Akh Rasya, silahkan masuk. Abah dan Bu Nyai sudah datang sejak tadi," ujar Salman. Ardi dan Firman menyusul di belakangnya, mereka serta isteri dan anak-anak mereka pun masuk ke area pesantren baru itu. Acara berlangsung dengan lancar, hingga sore hari saat acara penutupan pun semua terkendali tanpa ada halangan. Malam menjelang, mereka semua pun berkumpul di rumah Salman dan Kiana. "Assalamu'alaikum... ." "Wa'alaikum salam..., silahkan masuk Akh Arman, silahkan masuk," ajak Salman, pada seorang temannya. Pria bernama Arman itu masuk bersama seorang pemuda berusia sekitar dua puluh tahunan. "Perkenalkan, semua orang yang ada di sini adalah keluarga saya. Mereka semua adalah orang-orang yang mendukung saya hingga menjadi seperti saat ini," ujar Salman. Pria itu berkenalan dengan masing-masing orang yang ada dalam rumah itu. "Perkenalkan juga, ini putera tunggal saya. Namanya Utsman Alaydrus. Dia sudah lulus dari IAIN dan sekarang akan mengajar di pesantren ini untuk membantu Akh Salman," ujar Arman. Pemuda bernama Utsman itu pun menangkupkan kedua tangannya di depan d**a untuk menghormati semua orang. Syifa dating membawa baki berisi minuman tambahan untuk tamu yang baru saja datang. Daniel mencegahnya sesaat untuk masuk lagi ke dalam. "Ini puteri pertama saya, Namanya Asyifa Herdiyan Kamil," ujar Daniel memperkenalkan. Utsman menatap ke arah Syifa tanpa berpaling, Rahman melihatnya. Ia merasa tak suka dengan hal itu. Syifa hanya menangkupkan kedua tangannya di depan d**a sambil terus menunduk, wanita itu pun segera masuk kembali ke dalam. "Berarti dia adalah keponakan Akh Salman? Kenapa tidak bilang kalau Akh Salman memiliki keponakan yang sudah dewasa? Kita kan bisa saling memperkenalkan anak kita masing-masing," gurau Arman. Mereka tertawa mendengar gurauan itu. Utsman terlihat tersenyum bahagia sementara Rahman merasa sesak. Ia segera mengambil Zulfa dari gendongan Risya dan Aris dari gendongan Rasya. Menggendong si kembar adalah jalan keluar yang Rahman sukai ketimbang berpura-pura tuli. Ia berjalan mengitari area pesantren baru itu, taman yang dibangun dengan asri membuat perasaan Rahman menjadi lebih baik. "Akh Rahman...," panggil Syifa, yang ternyata sedang berayun-ayun di ayunan bersama Aryan, Lia, dan juga Syarif - dalam gendongannya. Rahman tersenyum lalu mendekat ke arah mereka. Pria itu berdiri satu setengah meter dari ayunan tempat Syifa dan adik-adiknya bermain. "Mau di bawa kemana dua malaikat mungil itu?," tanya Syifa, seraya tersenyum dari balik niqob-nya. "Jalan-jalan..., di dalam pengap udaranya karena banyak orang. Makanya saya bawa mereka keluar," jawab Rahman, pelan. Zulfa merentangkan tangannya pada Syifa seolah minta digendong seperti Syarif. Rahman tertawa. "Jangan minta gendong pada Kak Syifa.., nanti Syarif marah," bisik Rahman. Syifa ikut tertawa pelan. "Memangnya Zulfa mengerti?," tanya Syifa. "Mungkin dia belum mengerti, tapi setidaknya kita sebagai orang dewasa harus memberinya pengertian, agar dia tidak menjadi anak yang suka menuntut," jelas Rahman. Syifa menyukai pemikiran Rahman dan membenarkan cara pria itu berpikir. Zulfa kembali asyik bermain dengan Aris. "Bukankah pria dan wanita yang bukan mahram dilarang berdua-duaan?!!," tanya seseorang dengan nada suara membentak. Syifa terkejut dan segera berbalik, ia pun melihat sosok pria bernama Utsman yang tadi diperkenalkan oleh seorang tamu padanya. Pria itu berdiri di tangga menuju taman. Aryan memeluk Lia dengan cepat karena anak itu terkejut sekali. Rahman menghalangi pandangan Syifa ke arah orang itu. "Apa yang kalian lakukan di sini? Apa kalian sudah menjadi mahram sehingga bisa berdua-duaan seperti ini?," tanya Utsman, yang tak lain adalah orang yang membentak tadi. "Jangan menuduh yang tidak-tidak..., kami hanya mengasuh adik dan keponakan kami," jawab Rahman. Utsman tersenyum mengejek. "Menuduh katamu? Sudah jelas aku lihat sendiri!!!," balas Utsman. Orang-orang dari dalam rumah pun keluar karena mendengar keributan. Risya segera mengambil Zulfa dan Nilam mengambil Aris. Diva meraih Aryan dan Lia sementara Salwa memeluk Syifa dan Syarif. "Apa-apaan ini? Kenapa kamu berteriak di depan anak kecil?," tanya Nilam, marah. "Mereka berdua sedang berdua-duaan di sini, padahal mereka bukan mahram!!! Jadi tidak berhak melakukan hal tidak senonoh seperti ini," ujar Utsman, menjelaskan. Kiana maju ke hadapan Utsman dengan amarah yang nyata di matanya. "Tahu apa kamu tentang keluarga kami??? Syifa adalah keponakan saya, dia sudah terbiasa menjaga Adik-adiknya!!! Dia tidak akan berbuat tidak senonoh di depan siapapun!!!," tegas Kiana. "Begitupula dengan Rahman!!! Adik saya memang sudah biasa membantu menjaga si kembar!!! Apa yang salah sehingga kamu berteriak di depan anak kecil???," tanya Risya, yang tak kalah emosi. Utsman terpojok. "Ummi..., Kak Syifa cuma menemani kami bermain sekaligus menjaga Syarif. Kak Rahman juga begitu..., Dia hanya membawa Zulfa dan Aris jalan-jalan," Aryan menceritakan semuanya dengan jujur. "Iya Bibi Diva..., orang itu tiba-tiba datang, Lia takut karena dia berteriak...," ujar Lia, di tengah isak tangisnya. Semua orang mendengar kesaksian itu. Diva pun kembali mendekap mereka berdua sambil menatap Daniel dengan mata berkaca-kaca. Daniel yang sangat tidak suka jika isterinya terluka pun segera mendekat pada Utsman. "Percuma kamu jadi sarjana, tapi kamu tidak bisa menjaga mulutmu!!! Lihat berapa banyak orang yang kamu sakiti hanya karena tuduhanmu yang tidak masuk akal itu..., bahkan isteri saya pun ikut menangis karena ulah kamu," ujar Daniel, dengan kata-katanya yang paling dingin. Arman mendekat. "Tolong maafkan putera saya Akh..., dia hanya salah paham," Arman memohon. Syifa menangis dalam pelukan Salwa. Salwa menatapnya, Firman pun ikut merasakan kekesalan di dadanya dengan kejadian yang baru saja terjadi. "Maaf ya Paman..., Bibi..., aku jadi membuat Syarif mendengar hal-hal tidak baik," ujar Syifa, terbata-bata akibat tangisan. "Tidak sayang..., ini bukan salahmu. Kamu sudah melakukan hal terbaik untuk adik-adikmu. Kamu adalah mujahidah terbaik yang pernah Paman temukan dalam hidup Paman. Kamu tidak pernah mengeluh, kamu juga tidak pernah menyerah dalam menghadapi semua sikap anak-anak, kamu nggak salah Nak..., kamu nggak salah!," tegas Firman. Rahman merasa sangat tidak enak, ia hendak pergi namun dicegah oleh Salman. "Jangan pergi Akh..., tetaplah di sini. Lihat..., Aris dan Zulfa ingin kembali meminta digendong olehmu," tunjuk Salman. Rahman melihat ke arah yang ditunjukkan oleh Salman. Ia pun tersenyum, dan kembali mengambil Zulfa serta Aris ke dalam gendongannya. Nilam menatapnya. "Jangan takut! Kamu nggak berbuat salah sama sekali!," tegasnya. 'Karena Allah lebih tahu, apa yang dilakukan oleh setiap manusia, bahkan isi hatinya.'   * * *  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD