Terkadang, yang namanya belajar itu penuh dengan kesulitan, namun hasil yang akan kita dapat setelah melewati kesulitan itu adalah menjadi orang yang berilmu.
* * *
PERLAHAN-LAHAN
Rasya menatap Zulfa yang berada dalam gendongan Ardi. Ardi pun menatap Aris yang berada dalam gendongan Rasya. Mereka saling menatap sementara kedua bayi menggemaskan itu hanya sibuk dengan dunianya sendiri.
"Kalian berdua kumat lagi?," tanya Risya, yang entah sejak kapan sudah berada di antara mereka berempat.
Rasya dan Ardi pun terkekeh.
"Sudah jadi Orang tua pun ternyata tidak membuat kalian berubah," sindir Nilam.
Syifa muncul di ambang pintu masjid bersama Syarif yang berada dalam gendongannya. Salwa dan Firman sedang mengajar di madrasah, sehingga ia berinisiatif menjaga keponakannya.
"Yah..., baru saja Paman mau minta tolong jagain Zulfa, ternyata kamu sudah menjaga Syarif," Ardi memasang wajah innocent.
Syifa tertawa dari balik niqob-nya.
"Kalau aku buka baby class, sepertinya Paman akan sangat bersyukur ya...," sindir Syifa.
Ardi dan Rasya tertawa, Risya mendekat pada Syifa dan mencubit kedua pipi Syarif yang tembem seperti bakpau.
"Sini..., biar Ummi yang gendong Zulfa, Abi siap-siap saja untuk membawakan materi," ujar Risya.
Zulfa pun berpindah ke dalam pelukan Risya, begitu pula dengan Aris yang sudah berpindah ke dalam pelukan Nilam. Syifa bergabung dengan mereka.
"Wah..., dulu seingatku hanya ada Aryan dan Lia yang akan aku jaga, sekarang bertambah sejak Syarif, Aris, dan Zulfa lahir," ujar Syifa.
Risya tertawa.
"Kalau kamu menikah nanti dan punya anak, mereka tetap harus kamu jagain loh...," goda Nilam.
Syifa menarik nafas dalam-dalam.
"Oke..., nanti aku minta tolong sama Abi-nya anakku untuk bantu menjaga mereka semua," balas Syifa.
"Sudah ada calon Abi-nya???," goda Risya.
"Masih diseleksi...," bisik Syifa.
Mereka pun tertawa bersama. Waktu menunjukkan pukul tiga sore, siswa-siswi madrasah sudah mulai pulang satu persatu. Salwa dan Firman bergegas ke masjid untuk menghadiri kuliah sore setelah Shalat Ashar.
Syarif begitu bersemangat ketika melihat kedatangan Ummi dan Abi-nya. Syifa pun segera melepasnya ke dalam gendongan Salwa.
"Duh..., Kakak Syifa sabar betul hadapi Syarif..., Ummi jadi nggak was-was kalau ninggalin kamu sama Kakak," ujar Salwa dengan gemas.
Syifa hanya tersenyum.
"Syarif nggak rewel sama sekali sejak tadi, berbeda kalau Ukhti menitipnya pada orang lain," ujar Nilam.
Firman tersenyum dan mengambil Syarif untuk di bawa menuju barisan jama'ah pria. Zulfa merentangkan kedua tangannya pada Syifa, Risya pun melepaskannya.
"Zulfa mau ikut Kakak? Kita ambil kitab di pondok yuk...," ajak Syifa.
Wanita itu pun pergi bersama Zulfa yang tenang dalam gendongannya. Risya menatap Salwa.
"Syifa itu nggak pernah mengeluh ya, padahal kalau mau dipikir, dia pasti capek karena seharian penuh mengikuti kegiatan di pesantren. Tapi dia tetap tidak keberatan membantu kita menjaga anak-anak" ujar Risya.
"Dia itu memang suka pada anak-anak, Ukhti Diva dan Ukhti Kiana pun tidak pernah kerepotan menjaga Aryan dan Lia karena Syifa selalu membantu," ujar Salwa.
"Sifatnya lain daripada yang lain, dan jujur saja sejak awal saya suka sekali padanya," tambah Nilam.
Rahman masuk ke masjid bersamaan dengan Syifa yang baru saja kembali dari pondok setelah mengambil kitab. Ia melihat Zulfa yang sedang digendong oleh Syifa.
"Bukannya tadi Ukhti menggendong Syarif?," tanya Rahman.
Syifa mengangguk.
"Syarif sudah diambil sama Ummi dan Abi-nya. Setelah lihat saya tidak menggendong Syarif, Zulfa gantian minta saya gendong," jawab Syifa.
Rahman tertawa.
"Bayi mana di dunia ini yang tidak mau digendong oleh Ukhti?."
"Bayiku..., nanti kalau aku punya bayi sendiri pasti Abi-nya yang gendong," jawab Syifa.
Rahman tersenyum dan segera masuk ke dalam masjid. Pria itu memilih menghindar sebelum ia tak bisa menahan diri untuk terus berbicara dengan Syifa. Baginya, wanita itu memiliki daya tarik yang kuat terhadap siapapun yang mengenalnya untuk berbicara lama-lama dan Rahman menghindari itu, ia tak ingin menaruh harapan terlalu besar.
Firman sudah selesai membacakan ayat suci Al-Qur'an, Ardi segera naik ke mimbar untuk memberikan materi sore itu.
Zulfa sudah kembali ke dalam gendongan Risya, sehingga Syifa bisa bergabung dengan santriwati lainnya.
"Assalamu'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh," ujar Ardi.
"Wa'alaikum salam warrahmatullahi wabarakatuh," jawaban serentak dari seluruh santri dan santriwati.
"Allahumma sholi 'ala Muhammad, wa 'ala ali syaidina Muhammad, wa 'ala alihi wa shohbihi ajma'in, amma ba'du. Robbishrohlii shodrii wa yassir lii amrii wahlul 'uqdatam mil lisaanii yafqohuu qoulii."
Ardi menatap sesaat ke arah Risya dan Zulfa, ia merasa hatinya sangat tenang ketika melihat isteri dan anaknya itu.
"Hari ini, saya akan menyampaikan materi tentang Istiqomah. Apa itu istiqomah? Istiqomah adalah meniti jalan yang lurus, yaitu agama yang lurus, dengan tanpa membelok ke kanan atau ke kiri. Istiqomah mencakup melakukan semua ketaatan yang lahir dan yang batin. Dan juga meninggalkan semua perkara yang dilarang," jelas Ardi.
Ardi menarik nafas sejenak sebelum melanjutkan.
"Dari penjelasan ini, diketahui bahwa ukuran istiqomah adalah agama yang lurus. Yaitu melakukan ketaatan sebagaimana diperintahkan dengan tanpa melewati batas, tanpa mengikuti hawa-nafsu, walaupun orang menganggapnya sebagai sikap berlebihan atau mengurangi. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman dalam surat Hud ayat seratus dua belas, fastaqim kamaaa umirta wa man taaba ma'aka wa laa tathghou, innahu bimaa ta'maaluna bashiir. Artinya, 'maka tetaplah engkau Muhammad di jalan yang benar, sebagaimana telah diperintahkan kepadamu dan juga orang yang bertobat bersamamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sungguh, Dia Maha Melihat terhadap apa yang kamu kerjakan.'
Para santri dan santriwati mencatat apa yang Ardi sampaikan.
"Istiqomah terbagi menjadi dua bagian, yaitu istiqomah hati dan istiqomah anggota badan. Pokok istiqomah adalah istiqomah hati di atas tauhid, yakni bahwa mereka tidak berpaling kepada selain Allah. Ketika hati telah istiqomah di atas ma’rifah atau pengetahuan terhadap Allah, khasyah atau takut kepada Allah, mengagungkan Allah, menghormati-Nya, mencintai-Nya, menghendaki-Nya, berharap kepada-Nya, berdo'a kepada-Nya, tawakal kepada-Nya, dan berpaling dari selain-Nya, maka semua anggota badan juga istiqomah di atas ketaatan kepada-Nya. Karena hati merupakan pemimpin dari semua anggota badan, dan semua anggota badan merupakan tentara yang dimiliki oleh hati. Maka jika seorang pemimpin istiqomah, tentara dan rakyatnya juga akan ikut beristiqomah. Sekian pembahasan dari saya, wabillahi taufik wal hidayah, wassalamu'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh."
"Wa'alaikum salam warrahmatullahi wabarakatuh."
Ardi pun turun dari mimbar dan segera bergabung dengan jama'ah pria. Rahman terlihat berada di samping Tio, Ardi tersenyum ke arahnya. Pria itu menyimpan bukunya ke dalam tas dan bergegas mendekat pada Risya yang sudah berada di luar masjid. Ia mengambil Zulfa sebentar dan menggendongnya.
"Teh..., aku ikut pulang ya, mau nengokin Ibu," pinta Rahman.
Risya tersenyum dan mengangguk.
'Aku bersyukur karena Allah selalu membuatmu ingat pada Ibu. Jujur saja, Ibu begitu berat hati ketika melepasmu pergi.'
* * *