Derap langkah yang penuh kesabaran itu tak selamanya mulus. Ada saja aral melintang yang akan menghalangi, dan hanya Allah lah yang mampu memberikan pertolongan untuk menyingkirkannya.
* * *
MENGGAGALKAN
Perhelatan acara pernikahan Rahman dan Syifa sudah hampir rampung. Diva bekerja sama penuh dengan Salwa, Nilam, Risya dan Kiana untuk urusan katering serta perlengkapan pernikahan. Daniel dan Salman sibuk mengurus kelengkapan data Syifa dan Rahman agar tercatat di dalam Catatan Sipil.
Syifa sendiri sudah diantar oleh Bu Nyai dan Abah untuk tinggal di rumahnya selama menjelang hari pernikahan, Syifa dilarang untuk memiliki kegiatan apapun selain merawat diri.
Ardi dan Rasya membantu Rahman mencari rumah yang akan ia tempati setelah menikah dengan Syifa. Firman juga ikut setelah memastikan Salwa tidak kerepotan mengurus Syarif sambil membantu Diva.
"Yakin??? Yang ini???," tanya Rasya, ketika melihat rumah dengan papan plang di depannya bertuliskan 'Di Kontrakan'.
"Kamu mau ngontrak rumah? Memangnya Syifa setuju?," tanya Ardi.
Rahman mengangguk.
"Nggak! Saya yang nggak setuju..., masa kamu mau ajak Syifa tinggal di rumah kontrakan?," Rasya menolak.
"Lah..., yang mau nikah kan Rahman..., kenapa jadi kamu yang nggak setuju??? Syifa aja yang mau nikah sama dia setuju kok...," sanggah Firman.
Rasya menatap Firman dan Ardi.
"Begini Akh Firman..., Akh Ardi..., dan kamu juga, Rahman. Sangat tidak efisien jika kamu mengontrak rumah setelah menikah dengan Syifa. Penghasilanmu itu hanya akan cukup untuk membayar uang kontrakan saja setiap bulannya. Bagaimana dengan uang makan? uang transportasi? uang listrik, air, dan hal-hal tak terduga lainnya..., kamu akan kelimpungan untuk menutupi semua itu kalau kamu mengontrak rumah. Saya juga tahu, Syifa punya gaji karena mengajar, tapi jujur saja semua itu tetap tidak akan cukup," jelas Rasya.
Rahman kembali merasa ada beban yang memenuhi benaknya. Apa yang Rasya katakan memang ada benarnya.
"Jadi, saya harus bagaimana Akh? Jujur saja, saya tidak ada persiapan sama sekali," tanya Rahman.
"Begini saja, kami akan patungan dan membeli sebuah rumah. Kalau kamu merasa tidak enak karena takut memberatkan kami, kamu bisa mencicil harga rumah itu semampumu setiap bulannya. Saya memberikan opsi seperti ini, agar kamu terhindar dari riba. Kalau kamu mencicil sebuah rumah dengan bantuan Bank konvensional, kamu akan terus membayar bunga yang sudah jelas dilarang dalam Islam, karena hal itu termasuk riba. Akan lebih baik, kalau kamu mencicilnya kepada kami, karena kami tidak akan membebani kamu dengan bunga dan dosa," jawab Rasya.
Ardi bertepuk tangan tiba-tiba. Rasya menatapnya.
"Sejak kapan kamu jadi sebijaksana ini Akh??? Saya terharu dengan ideologimu..., apakah Ukhti Nilam sudah memberikan kontaminasi kebijaksanaannya padamu???," tanya Ardi, dengan wajah innocent.
Firman terkekeh lebih dulu karena menyadari bahwa hal tersebut adalah sindiran untuk Rasya. Rasya sendiri hanya bisa mengusap dadanya sambil meninju bahu Ardi karena gemas.
Rahman pun akhirnya menyetujui hal tersebut, mereka pun segera mengantarnya untuk memilih rumah yang layak untuk dihuni bagi keluarga kecil Rahman nantinya.
* * *
Syifa sedang duduk di samping Salwa dan Marni, kedua tangannya sedang dilukis menggunakan henna berwarna merah oleh Nilam. Marni terus menatapnya dan tersenyum bahagia.
Syifa menyadari hal itu dan segera membalas senyumannya.
"Ibu kenapa? Ada yang ingin Ibu bicarakan denganku?," tanya Syifa.
"Ibu mau berterima kasih padamu, karena mau mengerti kondisi Rahman yang belum bisa memiliki rumah sendiri. Rahman sudah cerita pada Ibu tentang jawabanmu dan terima kasih juga, karena kamu mau mengerti kalau Ibu tidak bisa jauh dari Risya dan Ardi, terlebih setelah Zulfa hadir dalam hidup mereka," ujar Marni.
Syifa menyandarkan kepalanya di pundak Marni dengan nyaman.
"Ibu akan menjadi Ibuku juga kalau aku sudah menikah dengan Akh Rahman. Aku tahu bagaimana rasanya tidak tinggal dengan Orang tua, aku pernah mengalami itu hampir selama sepuluh tahun sejak Ibu kandungku melahirkanku di penjara. Jadi, saat Akh Rahman mengatakan bahwa Ibu tidak ingin berjauhan dengan Kak Risya, maka aku sudah sangat tahu bagaimana rasanya dan aku mengerti kalau Ibu ingin tetap berada di dekat Kak Risya," ujar Syifa.
Marni mengecup puncak kepala Syifa dengan rasa sayang yang luar biasa. Kedua matanya berkaca-kaca seraya menikmati kebahagiaan yang Allah kirimkan untuk puteranya melalui kehadiran Syifa.
Sebuah mobil masuk ke halaman rumah Daniel saat banyak tetangga yang sedang membantu untuk menyiapkan pesta pernikahan itu. Diva menyadari dengan cepat, bahwa itu adalah mobil milik Arman - Ayahnya Utsman. Ia memberi kode pada Kiana, sehingga Kiana pun bangkit dari tempatnya duduk saat itu.
Arman masuk ke teras rumah mereka, dan dihalangi oleh Diva.
"Apalagi yang kamu mau?," tanya Diva, tanpa berbasa-basi.
Arman menunjukkan wajah liciknya sekarang. Baginya, tak ada lagi yang harus di sembunyikan.
"Perhatian untuk semua orang yang ada di sini!!!," teriak Arman.
Semua tetangga yang sedang membantu pun menoleh ke arahnya. Syifa yang sedang bersandar pada Marni di dalam rumah pun terkejut dan segera mengintip dari jendela.
"Perempuan yang akan menikah di rumah ini bukanlah anak kandung Wanita ini!!!," tunjuk Arman pada Diva, tepat di hadapannya.
Semua mata menatap Diva.
"Ustadzah Diva Najwa Kamil..., puteri bungsu dari Almarhum Kiayi Haji Abdul Mu'is telah menyembunyikan kebenaran tentang puteri kandung suaminya yang menikah dengan seorang pembunuh!!!," tuduh Arman.
Semua orang terdiam. Arman berada di atas awan dan mengendalikan segalanya untuk mengacaukan pernikahan Syifa.
"Dia mengatakan pada semua orang bahwa Asyifa Herdiyan Kamil adalah puteri pertamanya tapi kenyataannya adalah, anak itu bukan anak yang pernah dia lahirkan!!! Anak itu lahir di penjara, karena Ibu kandungnya adalah orang yang membunuh Bapak dari suaminya sendiri!!! Dan Ustadzah Diva yang baik hati ini menyembunyikan kebenarannya!!!," tekan Arman.
Syifa hendak keluar, namun Salwa menahannya. Ia menatap keponakannya dengan tegas.
"Tetap di sini, biar Bibi yang mengurus semuanya," ujar Salwa.
Salwa pun keluar dengam cepat dan berdiri di samping Diva dan Kiana.
"Lalu kenapa??? Apa yang salah dengan menjadi anak yang terlahir dari rahim seorang pembunuh??? Apakah akan menjadikan anak itu sama seperti Ibunya??? Tidak sama sekali!!!," Salwa menekan semua kata-katanya.
Kini semua mata terarah padanya. Diva masih berusaha mencari jalan keluar untuk menyanggah.
"Sekarang kalian semua lah yang harus menilai..., mana yang lebih baik, menjadi seorang anak yang terlahir dari rahim seorang pembunuh tapi berusaha menjalani hidupnya dengan terus memegang teguh apa yang Ummi-nya pegang selama ini..., atau menjadi anak yang sok suci di hadapan masyarakat, tetapi memiliki niat membunuh secara diam-diam???," tanya Salwa.
Ia mengeluarkan ponselnya dan memutar apa yang Firman rekam ketika Utsman berusaha mencelakai keluarga Ardi dengan cara merusak mobil mereka.
"Silahkan lihat sendiri..., saksikan dengan mata kepala kalian semua, bagaimana kejinya anak laki-laki yang begitu dibanggakan oleh orang ini!!!," tunjuk Salwa, tepat di hadapan wajah Arman.
Wanita itu membalas perbuatan pria itu terhadap Diva secara instan, tak menunggu hari esok. Satu persatu orang melihat apa yang terekam dalam ponsel itu, mereka semua menatap ke arah Arman dengan jijik atas perbuatan yang Utsman lakukan.
Arman benar-benar tak menduga, kalau apa yang Utsman katakan tentang ancaman dari Pamannya Syifa adalah hal yang nyata terjadi. Ia tak tahu kalau dirinya akan terpojok.
"Rekaman ini sudah memiliki salinan yang cukup banyak. Tadinya kami akan mengampuni perbuatan anak laki-lakinya jika dia tak lagi mengganggu keponakan kami. Tapi hari ini, tidak ada lagi pertimbangan. Polisi akan mengusut masalah ini lebih jauh," tegas Salwa.
Nilam keluar dari dalam rumah bersamaan dengan suara sirine mobil kepolisian yang mendekat ke arah rumah itu. Arman terdiam di tempatnya, ia tak mampu lagi mengatakan apapun.
"Saya sudah menelepon Polisi sejak tadi, dan sekarang adalah giliran mereka yang menyeretmu ke penjara. Jadi..., nikmatilah hidupmu selanjutnya di dalam kubangan derita," ujar Nilam tak kalah dingin dari Salwa.
Polisi pun segera mengamankan Arman dan setelahnya akan menangkap Utsman. Diva mendekat pada Salwa dan memeluknya.
"Allah akan selalu memberikan kebahagiaan untuk Kakak dan Kak Firman, aku bahkan sudah tidak tahu harus mengatakan apa untuk menjelaskan pada semua orang," ujar Diva, seraya terisak.
Salwa memeluknya.
"Kamu yang selama ini melindungiku, jadi mulai hari ini, biarkan aku yang melindungimu," tegas Salwa.
Syifa bernafas lega, ia bersyukur dalam hati karena Allah terus melindungi dirinya dan keluarganya.
Allahu Akbar!
* * *