Mengganggu

1009 Words
Terhitung sudah tiga hari berlalu dari hari lamaran dan perencanaan pernikahannya, jadi Safira hanya punya waktu empat hari menikmati status lajangnya. Sebelum statusnya itu akan berubah, alangkah baiknya Safira menikmati waktu sebaik mungkin. Tapi sayangnya, Safira tak bisa pergi kemana-mana, Nathan menyuruhnya untuk tetap di rumah bahkan smartphonenya juga harus di matikan dan Safira dilarang membuka sosmed ataupun berita. Safira kesal karena larangan Nathan, namun Safira juga tau kenapa Nathan melarangnya. Pernikahan mereka ini begitu mendadak, bisa Safira duga jika hal itu akan menjadi perbincangan publik. Tentunya, berita itu akan mengundang aura positif, tetapi lebih mengarah ke aura negatif. Kenapa, karena bisa di perkirakan banyak wanita yang akan membahasnya bahkan berani memberikan komentar buruk. Safira sendiri bingung dengan para wanita diluar sana, kenapa mereka begitu memuja Nathan, mereka tak tau saja bagaimana mengesalkan nya pria itu. Safira seketika ingat perbuatan Nathan terakhir kali yang sukses membuat amarahnya memuncak. Tak ingin kembali memikirkan hal itu, Safira lebih memilih untuk menyibukkan diri dengan membaca buku juga mendengarkan musik yang dia suka. Menghabiskan waktu dengan hobi dan kesenangan sendiri memang paling terbaik. Ketika Safira tengah sibuk dengan kesibukannya, pintu kamar Safira di ketuk. Safira mematikan musik dan menyimpan bukunya, lalu Safira berjalan ke arah pintu. Safira membuka pintu kamarnya, begitu terbuka, Safira menatap kehadiran Nathan dan Zafia dengan wajah bertanya-tanya, kenapa mereka ada di sini. "Mommy," panggil Zafia. "Zafia ingin bertemu, makannya kami kemari," ucap Nathan. Zafia menggenggam tangan Safira, Safira tersenyum, tangannya mengelus kepala Zafia. Lalu, Zafia mengatakan jika dia dan Nathan membawa banyak makanan untuk Safira. Zafia dan Safira berjalan ke ruang tengah lebih dulu, dan diikuti Nathan di belakang. Seperti apa kata Zafia, Nathan benar-benar membawa banyak makanan. Simon dan Ayana saja sampai bingung bagaimana mereka akan menghabiskan makanan sebanyak ini, Nathan membawa makanan tentu karena Nathan ingin memberikan perhatian kecil kepada calon istri dan mertuanya. "Untuk apa kamu membawa makanan sebanyak ini?" tanya Safira. "Supaya kamu tak perlu keluar rumah," jawab Nathan. "Gak ada kerjaan banget sih kamu," ucap Safira. Simon batuk pelan, Safira yang tau ada orangtuanya lantas terdiam, bukan waktunya dia berdebat. Ayana lantas mengatakan jika dia akan membuat makanan untuk mereka, Safira tentu akan ikut membantu, dan Zafia dia tentu akan mengikuti kemana Safira pergi. Makanan mereka kini telah jadi, Safira memanggil Simon dan Nathan untuk bergabung di meja makan. Mereka semua menikmati makanan sambil berbincang, hanya saja, begitu Simon dan Nathan membicarakan perihal pernikahan, Safira jadi tidak mood. "Semua sudah selesai, hanya bagian-bagian kecil yang mungkin perlu di tangani," ucap Nathan. "Maaf Nak Nathan, kami tak bisa membantu apapun," ucap Simon. "Tak apa Om, lagi pula saya juga tak mau membuat anda juga Tante terbebani. Biarkan saya yang menyiapkan semuanya, karena itu memang tugas saya," ucap Nathan. "Terima kasih Nak Nathan," ucap Ayana. "Sama-sama Tante," ucap Nathan. Mereka kembali menikmati makanan masing-masing. Sesekali Ayana memberikan makanan ke atas piring milik Nathan dan Zafia, sebentar lagi mereka akan menjadi anak juga cucunya, dan Simon sendiri sama perhatiannya kepada Zafia dan Nathan. Begitu selesai, Safira membantu Ayana untuk kembali membersihkan peralatan yang sudah mereka pakai. Zafia kini tak mengikuti Safira, Zafia tengah bermain bersama grandpa juga daddynya. Selesai membersihkan, Safira dan Ayana bergabung bersama yang lain. Zafia yang sebelumnya begitu bersemangat dan membuat keluarganya tertawa, kini tampak lesu, sepertinya Zafia mengantuk. Safira lantas mengajak Zafia untuk tidur di kamarnya. Zafia naik ke atas ranjang, "Mommy, Fia ngantuk sekali, tetapi Fia tak mau tidur sendirian," ucap Zafia. Safira lantas duduk di samping Zafia, "Ayo Mommy temani kamu tidur," ucap Safira. Safira dan Zafia berbaring bersama, Safira membawa Zafia ke dalam pelukannya, kedua tangannya mengelus kepala dan punggung Zafia. "Mommy," panggil Zafia. "Iya sayang?" tanya Safira. "Sebentar lagi kita akan tinggal bersama kan Mommy?" tanya Zafia. "Iya Fia, sebentar lagi," jawab Safira. Zafia mengatakan jika dia begitu sangat menanti hal itu, dia tak mau jauh dari Safira. Safira tersenyum, dia sendiri sangat menanti hal itu, tetapi di satu sisi, Safira sangat kesal dengan Nathan. Tak di sangka, dari apa yang terjadi kini berakhir dia akan menikah. Ingin rasanya Safira menolak dengan keras, tetapi apa daya, dia telah setuju bahkan sudah sejauh ini. Safira menatap ke arah Zafia yang sudah tertidur di dalam pelukannya, Safira akui dia begitu menyayangi Zafia, meski mereka terbilang baru mengenal. Melihat Zafia tertidur dengan nyaman, Safira beberapa kali menguap, dia juga mengantuk. Safira berpikir mungkin tak masalah jika dia ikut tidur sebentar, rasa kantuknya ini sudah tidak bisa di tahan. Dalam tidurnya, Safira merasa terganggu, Safira merasakan ada sosok lain di dekatnya. Perlahan Safira membuka mata, betapa terkejutnya Safira begitu melihat Nathan di samping Zafia. "Kamu ngapain di sini?" tanya Safira. Nathan yang tau Safira bangun hanya tersenyum kecil, "Apa aku mengganggumu, aku hanya ingin memastikan Zafia," ucap Nathan. Perlahan Safira melepaskan pelukannya di tubuh Zafia, lalu Safira terduduk di ranjangnya. "Nathan," panggil Safira. "Ya?" tanya Nathan. "Pernikahan itu tinggal empat hari lagi, bisakah selama itu kamu tak menggangguku. Bukannya apa, hanya saja memang sebaiknya kita tak bertemu," jelas Safira. "Ya tentu saja, aku tak akan mengganggumu," ucap Nathan. Ini membingungkan, hanya saja perasaan Safira kini sedang tak menentu. Selain itu juga, memang kebanyakan orang yang akan menikah tak akan bertemu di waktu yang dekat. "Apa kamu ingin membatalkannya?" tanya Nathan. "Jujur, ya," jawab Safira. "Tentu kamu tau akibat dari pembatalan itu bukan?" tanya Nathan. "Ya, kenapa juga kamu melakukan itu, kenapa harus ada denda," kesal Safira. "Aku rasa kita tak perlu membahas itu, sudah jelas bukan semuanya. Aku akan membawa Zafia pulang," ucap Nathan. Nathan memangku tubuh Zafia ke dalam pangkuannya, Safira bangkit dan berniat untuk mengantar mereka, tetapi Nathan mengatakan agar Safira istirahat saja dan tak mengantar mereka keluar. Safira mengatakan setidaknya dia mengantar kepergian mereka. Safira membantu membuka pintu samping, Nathan mendudukkan Zafia, Zafia yang terganggu lantas bangun. Zafia bertanya kenapa dia harus pulang, Safira mengatakan memang lebih baik Zafia pulang dengan Nathan, mereka bisa bertemu lagi nanti, apalagi nanti saat resepsi. Akhirnya Zafia mau pulang, Zafia pamit pergi kepada Safira, begitu juga dengan Nathan. Tak lama, mobil Nathan pergi dari kediaman rumah Safira, Safira menatap kepergian mereka sampai tak terlihat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD