Sesampainya di depan pintu unitnya, Leon membuka pintu itu dengan sensor retina matanya. Pintu itu pun terbuka.
"Silakan masuk di rumahku, Bell. Jangan sungkan ya!" ujar Leon mempersilakan Annabella untuk masuk ke unit penthouse itu.
Wanita itu terperangah ketika melihat betapa luas dan mewah ruangan itu. "Wahh ... gila, mewah banget tempat tinggalmu, Leon!" katanya.
Leon pun duduk di kursi dekat rak sepatu dan sandal untuk melepas sepatu fantofel dan kaos kakinya. Dia mengamati respon Annabella melihat penthouse miliknya ini.
"Sepertinya kau seorang sultan, Leon. Tempat tinggalmu keren sekali. Well ... ini sebuah penthouse kurasa, bukan unit apartment biasa," ujar Annabella sambil berjalan berkeliling ruangan itu.
Leon melepas jasnya lalu dia menarik dasinya hingga simpul dasi itu lepas.
Melihat Leon melepas sebagian pakaiannya sendirian, dia pun sadar diri lalu bergegas mendekati Leon sambil berkata, "Biarkan aku yang melayanimu, Leon Sayang. Malam ini aku akan memuaskanmu." Annabella membuka kancing kemeja Leon satu demi satu.
"Good girl!" sahut Leon.
"Apa yang kau inginkan, Leon? Katakan saja padaku ...," ucap Annabella dengan suara manja.
Kemeja Leon sudah terlepas dari tubuhnya. Dia mundur ke kursi malasnya dan duduk bersandar setengah berbaring di sana.
"Gimme a hot striptease, Baby!" ujar Leon dengan tatapan malas ke Annabella.
Dia suka dirangsang dan digoda dengan visual yang panas. Itu akan membuat juniornya tegak dan bertahan lama.
"Music ... play 'Ariana Grande, Side to Side', goyangkan tubuhmu, Cantik!" ucap Leon menyugar rambut poninya yang agak panjang ke belakang.
Penthouse Leon dilengkapi sensor suaranya untuk menjalankan fungsi sesuai keinginannya. Iparnya dari Jepang yang bernama Kenzo Watanabe yang men-setting fitur canggih di ruangan itu.
Lagu itu pun mengalun di ruangan dan Annabella mulai meliuk-liukkan tubuhnya di hadapan Leon berjoget dengan tatapan panas menggoda. Leon membiarkannya dan bergeming di posisinya dengan devilish smirk khas dirinya.
'I'm talking to ya ... see you standing over there with your body. Feeling I wanna rock with your body ... and we don't gotta think 'bout nothing'. I'm coming at ya ... 'cause I know you got a bad reputation. Doesn't matter cause you give me temptation ...'
Leon sangat suka lagu-lagu nakal Ariana Grande sama seperti iparnya Deasy Carson, istri kakak sulungnya Leeray. Wanita itu bandel sekali sama seperti dirinya, perbedaannya dia suka berganti pasangan, sementara Deasy setia pada suaminya.
Annabella mulai mendekati Leon di kursi malasnya dan mencondongkan tubuhnya ke arah Leon lalu dia melarikan tangannya di tubuh Leon.
Sementara Leon dengan iseng menarik turun risleting mini dress yang membalut tubuh Annabella.
"Upss ...," ucap Leon seraya tertawa berderai ketika melihat gaun itu melorot ke pinggang wanita itu.
Wajah Annabella merah padam karena malu, buah dadanya tumpah ke depan. "Tuan CEO nakal sekali!" serunya sambil cekikikan.
"Siapa suruh mendekatiku? Aku tadi hanya menyuruhmu menggoyangkan tubuhmu 'kan?" jawab Leon berkelit.
Dia pun berdiri menarik tangan Annabella lalu bergoyang mengikuti irama lagu 'Side to Side' itu sambil melucuti gaun Annabela hingga teronggok di lantai dan membawa tubuh wanita itu menempel ke tubuhnya.
Napas Annabella seperti terasa berat karena Leon membuatnya sangat turn on. 'Gila cowok ini hot banget', batinnya.
Tangan Leon meraih tangan Annabella untuk melepaskan ikat pinggangnya dan celana panjang yang dia pakai.
"Apa kau suka dengan tubuhku, Girl?" tanya Leon dengan tatapan menggoda yang membuat Annabella serasa hangus dalam gairah.
Apalagi Leon menekan bagian bawah tubuhnya yang menegang itu ke miliknya yang masih sama-sama terbungkus kain pelindung.
Leon membalik tubuh Annabella memunggunginya dan mendekapnya dari belakang sambil bergoyang mengikuti irama lagu Ariana Grande tadi. Tangannya meremas bagian tubuh Annabella yang seperti dua buah melon besar yang menggantung di hadapannya. Leon sangat suka itu.
"Bella tubuhmu sempurna. Hmmm ... awesome! Let me rock you tonite, Girl!" bisik Leon merayu Annabella yang sepertinya sudah tak mampu berdiri dengan benar di atas high heelsnya karena tersapu gelombang gairah ketika tangan Leon membelainya di luar kain tipis itu.
"Aaahhh do me a favor, Sir!" desah Annabella tak berdaya.
"Come with me, Pretty!" jawab Leon seraya menarik tangan Annabella menuju ke arah ranjangnya.
Dia menghempaskan tubuh molek itu ke atas ranjangnya. Dengan sekali sentak, kain segitiga tipis yang dipakai Annabella terlepas menuruni tungkai kakinya yang indah.
Mata Annabella membulat karena takjub melihat bentukan 'senjata perang' Leon yang sangat siap untuk digunakan. "Oohh Boy, kurasa aku 'basah' hanya dengan melihatnya saja ... seriously!"
Leon tertawa berderai mendengar pujian Annabella. Wanita normal manapun pasti puas, dia tahu itu. Hanya ketika dia mendengar compliment seperti barusan, tentu itu menaikkan egonya.
"Hahaha ... kurasa bukan hanya basah, Bell. Kau akan kubuat 'banjir' berulangkali dan memohonku untuk melakukannya lagi dan lagi ... mari kita buktikan!?" jawab Leon dengan penuh percaya diri lalu membelai betis Annabella.
Dalam satu gerakan pasti, Leon memasuki tubuh Annabella. Wanita bayaran itu jujur, miliknya masih sempit. Leon puas dengan penemuannya itu dan mulai membawa Annabella ke puncak gairahnya. Mata wanita itu berkabut dengan mulut yang meracau dengan desahan dan lenguhan yang bergantian terlepas dari bibirnya.
Ketika Annabella menggapai puncak kepuasannya, Leon merasa dirinya tercengkram dengan erat dan itu terasa sangat enak di tubuhnya. Namun, pergumulan mereka berdua belum selesai. Pria itu memiliki stamina yang bagus hingga tak cukup menuntaskan permainan panas hanya beberapa menit saja. Paling tidak Leon akan menggapai kepuasannya setelah satu jam menghajar partner ranjangnya.
Nampaknya Annabella kewalahan menghadapi serangan-serangan panas dari Leon. Dia pun akhirnya tak lagi sanggup mengimbangi gerakan Leon yang aktif dan berenergi tersebut.
"Aaaahhh ... Leon!" jerit Annabella ketika sekali lagi mendapatkan kepuasannya setelah entah berapa kali dia ditaklukkan oleh Leon. Tubuhnya melunglai seolah-olah tak memiliki tulang lagi karena kelelahan dihajar oleh kliennya yang ganas malam ini.
Kali ini Leon pun merasa hampir tiba di puncak kenikmatannya. Namun, dia memilih untuk menarik tubuhnya lalu membuang cairan kental kejantanannya ke tissue yang ada di nakas samping ranjangnya.
Leon sudah sangat berpengalaman dalam hal seperti itu. Dia tidak ingin membuat hidupnya rumit dengan benih yang tertanam di tubuh wanita yang dia bayar untuk melayani gairahnya. 'One night is just one night, doesn't mean forever!'
Pandangannya tentang bercinta dengan wanita sangat praktis. Panas di ranjang, tapi dingin di dalam hatinya. Belum ada wanita yang bisa mencairkan hatinya yang membeku. Semakin panas partner ranjangnya semakin dia menutup hatinya.
Pikirannya melayang ke pertemuannya dengan dokter berambut merah dengan sepasang mata hijau laksana zamrud itu. Pemalu ... khas perawan, membuatnya tertantang untuk menaklukkannya dan membuat gadis itu bertekuk lutut di hadapannya. Dia ingin bibir gadis itu meneriakkan namanya di puncak percintaan mereka. Evita Caroline Meyers, dia harus mendapatkannya!