6. TTAS

2328 Words
Syfa terlihat tak menyukai dengan ide papanya. Karena hari ini orang tua Syfa akan pergi ke luar kota untuk kepentingan perusahaan. Dan yang lebih membuat Syfa kesal karena papanya meminta bantuan Genta untuk menjaga Syfa selama dirinya pergi. “ Apa papa ngga percaya kalo Syfa bisa jaga diri Syfa sendiri. Disini juga banyak yang nemenin Syfa. Jadi buat apa papa minta bantuan dia sih pa.” Tolak Syfa. “ Papa percaya kalo Syfa bisa jaga diri. Tapi tetap saja papa khawatir sayang. Apalagi dengan kejadian beberapa hari lalu tentang pencurian di ruah sebelah. Papa tetap tak bisa membiarkan Syfa sendiri tanpa ada yang menjaga Syfa. Walaupun sudah banyak orang-orang papa tetap saja papa lebih percaya pada Genta sayang.” Jawab papanya. “ Emangnya papa ngga khwatir kalau malingnya ternyata dia.” Ucap Syfa. Papa dan mamanya tersenyum dan menatap Genta yang juga ikut tersenyum mendengar ucapan Syfa. “ Untuk apa Genta nyuri sayang, dia juga sudah punya segalanya nak.” Jawab mama Syfa. “ Ada kok yang belum Genta punya tante.” Ucap Genta. Papa dan mama Syfa pun bingung dengan jawaban Genta. Kemudian Genta kembali meneruskan ucapannya sambil menatap Syfa. “ Genta belum punya isteri.” Mendengar itu lagi-lagi papa dan mama Syfa tertawa. Namun tidak dengan Syfa yang terlihat malas mendengar candaan yang Genta lontarkan. “ Lebay banget sih jadi cowok. Oh iya dia kan baru pulang juga pa, pasti dia kecapean. Pasti dia kan pingin istirahat pa. Udah mending dia di suruh pulang aja.” Balas Syfa. “ Ngga kok om, tenang aja kalau buat jagain Syfa, Genta masih sanggup.” Balasnya. “ Tuh kamu dengar sendiri ucapan Genta.” Ucap papanya. “ Tunggu, tunggu dulu. Kan ngga baik pa cewek sama cowok berada dalam satu atap padahal mereka belum muhrim, iya kan ma.” Balas Syfa. “ Udah deh fa kamu ngga usah kebanyakan alasan. Papa percaya kalau kalian berdua ngga akan berbuat yang macam-macam selagi kalian belum menikah. Lagian ada pembantu di rumah, jadi kalian ngga akan berdua aja.” Balas papanya. Genta terlihat bangga karena berbagai alasan yang Syfa buat selalu di tolak papanya. Dan pada akhirnya Syfa pun menyerah. “ Jangan cemberut begitu dong sayang, papa melakukan ini karena kita khawatir tentang kamu dan semua ini juga demi kebaikan kamu. Mama pun yakin kalau Genta bisa menjaga kamu selama papa dan mama pergi. Mau ya sayang.” Balas mamanya yang sedang membujuk Syfa. “ Terserah papa sama mama aja. Karena mau bagaimanapun Syfa tetap kalah.” Jawab Syfa yang langsung beranjak dari tempatnya duduk dan berjalan menuju kamar. “ Maafin Syfa ya ta.” Ucap mamanya. “ Tenang tante, Genta udah biasa kok menghadapi Syfa yang seperti itu. Oh iya om sama tante berangkat pukul berapa biar Genta anterin ke Bandara.” Tawarnya. “ Ngga perlu ta, sebaiknya kamu istirahat aja, kasihan kalau kamu harus nganterin kita padahal kamu baru sampai. Bibi juga udah nyiapin kamar buat kamu. Tapi apa om benar-benar ngga merepotkan kamu.” Tanya Haziq. “ Ngga kok, om sama tante sama sekali ngga ngrepotin Genta. Bahkan Genta seneng om dan tante mau percaya sama Genta.” Jawabnya. “ Insyaallah kita percaya sama kamu ta. Semoga aja hati Syfa bisa melembut dan mau menerima kamu ya nak.” Balas mama Syfa. “ Amin.” Kemudian mba Minah pun menunjukkan kamar untuk Genta istirahat. *** Saat waktu maghrib seusai shalat maghrib, Syfa heran karena rumahnya terlihat sepi. Dia tahu kalau papa dan mamanya sudah berangkat, tapi biasanya kalau Genta disini dia akan mengobrol dengan para pekerja papa. Tapi kali ini dia heran karena tak terdengar suara apapun. Dan saat mba Minah masuk ke kamarnya untuk memberitahukan makan malam sudah siap Syfa pun memberanikan diri untuk bertanya tentang Genta. “ Non makan malam udah siap.” Ucapnya. “ Aku nanti aja bi, nunggu laki-laki itu selesai makan.” Jawabnya “ Mmmm apa yang dimaksud non Syfa laki-laki itu, mas Genta.” Tanya mba Minah. “ Ya iyalah siapa lagi kalau bukan dia.” balasnya. “ Mas Genta belum makan malam kok non. Minah pun bingung karena dari tadi Minah manggil dia buat makan malam dia ngga nyaut-nyaut non. Minah jadi khawatir deh non kalau sesuatu yang ngga-ngga terjadi pada mas Genta di kamar.” Ujarnya. Syfa pun langsung mengerutkan dahinya. “ Dia udah tidur kali.” Tebak Syfa. Yang akhirya keluar untuk makan malam, karena Genta tak ada. Ketika Syfa sedang makan malam, mba Minah mencoba lagi mengetuk pintu Genta.Lagi-lagi usahanya pun gagal, tak ada suara didalam kamar tersebut. Akhirnya mba Minah pun menghampiri Syfa. “ Non, kita coba masuk aja yuk non. Minah benar-benar khawatir kalau mas Genta kenapa-napa.” Ajak Minah. “ Ngga ah, Mba Minah aja sana yang masuk.” Tolak Syfa. “ Tapi non, mba Minah ngga berani sendiri.” Jawabnya. “ Ya kalau ngga berani ajak aja pak Bani.” Suruh Syfa. Kemudian mba Minah pun memanggil pak Bani untuk menemaninya ke kamar Genta. Sebenarnya Syfa pun khawatir, tapi dia masih tetap dengan egonya. Dan tak mau menunjukkan kekhawatirannya di depan semua orang. “ ASTAGFIRULLAH.” Teriak Minah di dalam kamar Genta. Syfa yang masih berada di ruang makan pun terkejut mendengar teriakan tersebut. Kekhawatirannya pun tak bisa disembunyikan lagi. Dia berjalan dengan pelan menuju kamar Genta. “ Ada apa mba.” Tanya Syfa yang ada di depan pintu kamar Genta. “ Ini non, mas Genta pingsan dia jatuh.” Ucap mba Minah yang khawatir. Dia sedang membantu pak Bani mengangkat Genta. “ Pingsan.” Ucap Syfa yang jadi ikut khawatir. “ Ya udah kalau gitu mba Minah langsung telfon dotkter Pandu untuk datang kesini.” Suruh Syfa. Dan mba Minah pun langsung menelfon dokter pribadi keluarga Haziq. Sedangkan Syfa berjalan mendekati ranjang Genta. “ Gimana dia pak Bani.” Tanya Syfa. “ Bapak udah mengangkatnya ke ranjang non, tubuh mas Genta juga panas banget non.” Ucap pak Bani. “ Ya udah kalau gitu pak Bani ambil handuk kecil sama air es ya buat ngompres dia.” Suruh Syfa. Tangan Syfa meraba untuk memegang kening Genta dan memeriksanya sendiri. “ Ya Allah badannya benar-benar panas. Genta…. ta.” Panggil Syfa sambil menepuk-nepuk pipi Genta. Tapi tetap saja Genta belum sadarkan diri. Sekitar setengah jam dokter Pandu pun datang untuk memeriksa kondisi Genta. Syfa menunggu dengan gelisah. Mba Minah pun berada disana menemani Syfa. “ Gimana om keadaan Genta.” Tanya Syfa. “ Insyaallah dia baik-baik aja fa. Dia hanya kelelahan, kurang istirahat dan makannya un terlihat tidak teratur. Insyaallah besok dia akan sadar fa.” Jawab dokter Pandu sambil mengeluarkan beberapa obat dalam tasnya. “ Syukurlah kalau begitu om.” Balas Syfa sambil menghela nafas lega. “ Oh iya fa, om kok jadi penasaran kenapa Genta ada disini.” Tanya dokter Pandu. “ Om kenal sama dia.” Tanya balik Syfa. “ Kenal sih ngga tapi om ya tahulah Genta. Siapa sih yang ngga kenal sama pengacara sekaligus pemilik firma hukum terkenal disini.” Jawab dokter Pandu “ Owh kirain Syfa om Pandu kenal Genta. Dia disini karena disuruh papa.” Balas Syfa. “ Owh, om kira dia kekasih kamu.” Tebak dokter Pandu. “ Nggalah om, sembarangan aja. Dia itu rekan kerja papa.” Elak Syfa. Ketika mba Minah mengantarkan dokter Pandu keluar, Syfa berjalan mendekati ranjang Genta. Dengan telaten dia merawat Genta. “ Katanya mau jagain aku kenapa malah aku yang jagain kamu. Kamu memang jadi orang keras kepala ya. Dibilang pulang istirahat masih aja ngeyel disini buat jagain aku. Kalau begini kan jadi nyusahin semua orang termasuk kamu sendiri.” Omel Syfa sendiri. Dengan ditemani oleh Minah, Syfa tidur disofa kamar Genta. Dia takut kalau Genta membutuhkan sesuatu dan tak bisa melakukannya sendiri karena keadaanya saat ini. Maka dari itu dia tidur disana untuk membantu Genta. *** Genta pun tersadar dari pinsannya. Dia langsung memegang keningnya, dan menemukan handuk di keningnya. Dia bingung karena tak tahu apa yang terjadi padanya semalam. Dan betapa terkejutnya Genta saat dia melihat Syfa dan mba Minah berada dalam kamarnya. Sambil memegangi kepalanya yang masih terasa pening, Genta pun mendekati Syfa dan memandanginya. Sedangkan Syfa menggeliatkan tubuhnya saat mendengar suara adzan subuh. Dan betapa terkejutnya dia saat mendengar suara Genta. “ Assalamualaikum, calon bidadariku.” Ucap Genta. “ Astagfirullah.” Ucap Syfa yang langsung menjauhkan dirinya dari Genta. Ia benar-benar terkejut dan salah tingkah. “ Kamu ngapain disini.” Tanya Syfa “ Bukannya harusnya aku ya yang tanya ke kamu. Kenapa kamu tidur disini.” Tanya balik Genta. Syfa pun teringat, kalau semalam ia tidur di kamar yang Genta tepati sekarang. “ Aku… aku. Oh iya semalam kamu pingsan dan kamu juga demam. Jadi aku tidur disini sama Minah untuk memastikan kalau demam kamu udah turun. Kalau kamu ngga percaya kamu bisa tanya sama mba Minah ataupun pak Bani yang semalam ngangkat kamu ke ranjang” Jawab Syfa dengan salah tingkah. Genta pun mengerutkan keningnya sambil mengingat-ingat kejadian semalam. “ Oh iyasemalam sehabis shalat maghrib aku memang pusing. Dan setelah itu aku ngga ingat lagi apa yang terjadi.” Balas Genta. Syfa pun langsung beranjak untuk pergi. “ Syukurlah kalau kamu udah sadar, jadi ngga akan merepotkan orang lain lagi.” Ucapnya Tangan Genta pun langsung menahan lengan Syfa. “ Makasih ya udah jagain aku.” Ucapnya. Syfa pun tersipu dengan ucapan Genta, tapi dia tak ingin terbuai dengan itu semua. “ Oh iya aku Cuma mau ngingetin kamu. Kalau jadi orang itu jangan keras kepala. Aku kan udah bilang sebaiknya kamu pulang dan istirahat. Kalau begini kan jadi nyusahin banyak orang. Katanya mau ngejagain eh malah di jagain.” Ledek Syfa yang langsung keluar. “ Marah-marah tapi perhatian juga.” Ucap Genta sambil menatap Syfa yang sudah keluar dari kamarnya. *** Syfa pun sudah berada di meja makan untuk sarapan. Fikirannya pun langsung tertuju pada Genta. “ Mba Minah, pagi ini mba Minah tolong bawain sarapan ke kamar dia ya. Dan mba Minah juga jangan lupa ingatin dia buat minum obat yang semalam dokter berikan.” Suruh Syfa. “ Non, apa ngga sebaiknya non Syfa aja yang menyuruh mas Genta untuk sarapan. Pasti kalau non yang nyuruh, mas Gentanya langsung mau.”Ucap Minah. “ Kamu jangan ngaco deh, udah sana bwa aja. Kalau dia ngga mau ya terserah.” Balas Syfa. “Kok non Syfa bilang begitu sih, tau ngga non waktu mas Genta udah sadar Minaha liat mas Genta memandangi non Syfa yang lagi tidur non. Terus Minah juga denger mas Genta bilang kalau non Syfa itu cantik.” Ucap Minah. Syfa pun salah tingkah dengan ucapan mba Minah. “ Udah ngga usah banyak bicara. Udah sana anterin tuh makanan. Nanti makananya keburu dingin.” Suruh Syfa. “ Ngga perlu mba, saya makan disitu aja.” Ucap Genta yang baru keluar dari kamar menuju meja makan. Namun saat mendengar suara Genta, Syfa pun akan beranjak pergi, karena dia tak ingin berada di satu meja yang sama dengan Genta. “ Kamu mau kemana fa, emangnya kamu udah selesai sarapan.” Tanya Genta “ Udah.” Bals Syfa. “ Kata siapa non Syfa udah akan, mba Minah perhatiin dari tadinon Syfa belumnyentuh makanan sedikit pun kok.” Ucap Minah. Dan ucapan Minah pun berhasil membuat Syfa kesal. Tapi tidak dengan Genta dia tersenyum mendengar jawaban Minah dan memberikan jempol pada Minah. “ Apa kamu pergi karena aku ada disini. Apa aku membuatmu ngga nyaman.” Tanya Genta. “Ngga, kamu makan aja. Kalau aku bisa nanti-nanti aja. Kamu kan mesti minum obat supaya keadaan kamu membaik jadi mending kamu makan aja.” Jawab Syfa. “ Tapi aku ngga mau kalau kehadiranku disini membuat kamu jadi ngga nyaman di rumahmu sendiri.” Ucap Genta. Dan tanpa mengucap apapun Syfa pun berbalik dan kembali duduk di kursi. Melihat itu membuat Genta senang, dia pun duduk didepan Syfa. “ Makasih fa.” “ Jangan geer deh kamu. Aku duduk disini karena ini kan rumahku jadi kenapa aku harus mengalah padamu.” Jawab Syfa dengan ketus. “ Nah begitu dong fa. Oh iya makasih ya fa karena semalam kamu udah merawatku.” Ucap Syfa. “ Hmmm, lain kali jangan terlalu memaksakan diri sendiri. Kalau memang lagi ngga sehat ya harusnya istirahat.” Ucap Syfa. “ Makasih ya fa karena udah perhatian sama aku.” Ucap Genta. “ Ihhh geer banget siapa juga yang khawatir sama kamu. Aku Cuma ngga mau ada orang sakit di rumah. Kalau sampai kamu mati di rumahku kan bahaya. Bisa-bisa aku dikira-ngapa-ngpain kamu.” Balas Syfa. “ Ya Allah tega banget sih fa.” “ Kalau sama kamu tuh harus tega, biar ngga kegeeran.” Balas Syfa. “ fa, apa aku boleh tanya ke kamu.” Tanya Genta. “ Tanya apa.” “ Kenapa sih sulit banget buat kamu membuka hatimu untukku. Apa memang sudah ngga ada ruang dalam hatimu untukku.” Tanya Genta Syfa pun langsung meletakkan peralatan makannya dan diam sejenak. “ Apa aku boleh tanya sesuatu padamu.” “ Apa” “ Apa niatmu mendekatiku, ngga mungkin kalau laki-laki sepertimu yang sudah memiliki semuanya mau mendekati wanita buta dan cacat sepertiku.” Tanya Syfa. Genta pun diam sejenak sebelum menjawab. “ Apa securiga itu kamu padaku.” Tanya Genta dan Syfa pun mengangguk. “ Apa kamu percaya kalau aku mengatakan bahwa aku sudah menyukaimu sejak lama.” Tanya Genta. “ Kalau kamu memang menyukaiku sejak lama, kenapa ngga dari dulu kamu mendekatiku saat aku masih normal. Kenapa baru sekarang kamu masuk kedalam hidupku. Semua yang kamu lakukan padaku saat ini terlihat ngga tulus dan terlalu mendadak. Jadi apapun yang kamu lakukan selama ini terlihat percuma. Sebaiknya kamu hentikan saja semua ini.” Jawab Syfa. “ Aku tahu aku salah karena baru datang sekarang. Walaupun kamu banyak mendengar tentang diriku dari orang-orang tapi ngga semua yang mereka bicarakan itu benar fa. Aku bukan tipe yang mudah mengutarakan perasaan pada seorang wanita. Aku tak mengatakan dari dulu, karena aku tahu kalau dulu kamu sudah memiliki kekasih. Jadi tak mungkin bagiku untuk mendekatimu ataupun merusak hubunganmu dengan mantan kekasihmu. Setelah aku tahu apa yang terjadi padamu dari om Haziq, aku merasa sakit fa, karena wanita sepertimu disakiti oleh laki-laki. Dari situlah aku sudah berniat pada diriku sendiri bahwa aku ingin bisa membahagiakanmu.” Balas Genta. “ Kenapa harus aku.” Tanya Syfa yang masih tak percaya dengan pernyataan Genta. “ Karena kamu satu-satunya wanita yang mampu mencuri perhatianku fa.” Balas Genta. “ Kenapa aku harus percaya padamu.” Tanya Syfa. “ Aku ngga mau mengatakan apapun hanya untuk membuatmu percaya padaku. Karena aku tahu kamu ngga akan mudah percaya dengan apa yang aku katakan. Aku hanya ingin kamu mau memberiku kesempatan untuk membuktikannya padamu fa.” Jawab Genta. “ Aku ngga tahu apa yang saat ini terjadi pada diriku, setiap kamu hadir pasti aku merasa terusik dan terganggu. Tapi semua yang kamu lakukan untukku, teryata sudah mempengaruhi diriku. Mungkin Allah sudah sedikit membuka pintu hatiku ini. Tapi aku pun tak mau kamu terlalu banyak berharap dengan ucapanku ini.” Ungkap Syfa. Genta pun benar-benar bahagia mendengar ungkapan Syfa, dia seperti mendapatkan peluang itu. “ Aku janji fa, aku janji ngga akan buat kamu kecewa dengan peluang yang kamu berikan untukku ini.” Ucap Genta yang tertawa bahagia. Dan Syfa hanya tersenyum tipis, dia tetap dengan sikapnya yang dingin pada Genta. “ Tapi kamu jangan terlalu berharap.” Balas Syfa. “ Ok siap calon bidadariku.” Mata Syfa pun langsung melototi Genta saat memanggilnya dengan panggilan tersebut.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD