Pangeran yang Bersembunyi

1075 Words
Keadaan kerajaan benar-benar hancur. Bukan saja bangunannya tapi juga dengan sumber dayanya. Sejak kematian Raja Yelvan, Zyan mengambil alih posisi kepemimpinan sementara. Ia membagi tugas pada mereka yang selamat, sementara ia harus pergi ke suatu tempat secepat mugkin agar kerajaan mereka bisa berdiri kembali. Ia sama sekali tak berniat untuk menjadikan dirinya raja untuk saat ini. “Tahoi, kau bisa membantu untuk meyembuhkan orag-orang yang terluka?” Zyan bertanya pada pemimpin suku pedalaman yang memilih tak terlibat pada pertarugan kemaren. “Percayakan pada kami.” Tahoi menatap Zyan yang sangat penuh dengan keraguan. Ia tahu Zyan sebagai pemimpi semetara sekarang merasa tak bisa meninggalkan orang-orangnya dalam keadaan terluka. Bisa aja pasukan iblis kembali menyerang dan menghabisi mereka semua. Amun ia juga harus menuju ke suatu tempat secepatnya. Menjemput satu-satunya orang yang akan menggantikan Yelvan memimpin kerajaan. “Perjalananku akan memakan waktu sekitar empat hari hingga kembali. Aku serahkan semua di sini padamu. Komando pertahanan sementara akan kuserahkan pada Frans.” Zyan memulai perjalanan bersama lima orang lainnya. Takh banya yang selamat pada serangan kemaren karena itu Zyan hanya membawa serta lima orang bersamanya. Mereka semua berharap agar tak ada serangan gelombang kedua dalam waktu dekat. Dua ruangan paling besar dan tak mengalami banyak kerusakan dijadikan untuk menampung orang-orang yang terluka parah. Satu ruangan itu menampung sekitar seratus orang lebih. Tak ada ranjang khas peawatan di dalam sini. Semua korban hanya di jejerkan dalam barisan teratur di alas seadanya. Dua puluh orang pria suku pedalaman segera mulai mengecek luka mereka bergantian, sementara sepuluh orang lainnya membuat ramuan dan meracik obat dari bahan yang ada. “Kau sudah menemukannya?” tanya salah seorang anggotnya. Tahoi menggeleng sambil tetap mengaduk racikan obat di dalam sebuah mangkuk kaca yang tak lebih besar dari genggamannya. Taka da kelajutan dari pembicaraan mereka. Tahoi selesai meracik obat dan memberikannya pada beberapa perempuan yang dijadikan tenaga bantuan untuk merawat korban. Setelah menjelaskan tata cara pemberian obat itu, Tahoi meninggalka ruanga dan menyusuri koridor yang masih dipenuhi oleh darah yang sudah megering. Mayat-mayat yag tadi pagi masih bergelimpangan di sana, sebagain sudah dipindahkan untuk di bakar karena tak memungkinkan untuk dikubur. Akan memakan banyak waktu dan tenaga. “Apa kita bisa mempercayai mereka sepenuhnya?” Sebuah pertanyaan yang juga tadi berputar di dalam benak Zyan justru terucap dari mulut salah seorang bawahannya. “Maksudmu Suku Pedalaman?” tanya yang lainnya. Mereka menempuh perjalaan ini dengan berjalan kaki. Tak ada satupun kuda yang tersisa karena menjadi korban keganasan makhluk gagal itu. Kendaraan yang terbatas juga mengalami kerusakan yang sangat parah, hingga ada yang hancur. “Sebaiknya kalian berdoa agar kita tak berjumpa ‘mereka’ dalam perjalanan ini.” Ucapan Zyan membuat kedua bawahannya bugkam seketika. Mata mereka bergerak waspada saat Zyan berhasil mengigatkan mereka kembali dengan makhluk gagal yang tak memiliki nama. Satu dari mereka adalah penjaga ruangan yang mengekang makhluk-makhluk itu. Zyan menanyakan informasi khusus apapun yang berkaitan dengan makhluk yang mereka beri nama Tuan Z untuk sementara. “Satu hal yang pasti, kecepatan mereka melebihi iblis tingkat empat. Mereka memiliki kecepatan itu karena terpancing dengan obsesi membunuh semua makhluk bernapas di sekitarnya.” Jeff yang dulu bertugas sebagai penjaga ruang penelitian Sembilan menerangkan semua hal tentang Tuan Z. “Bagaimana soal ketepatan serangan?” tanya Zyan. “Sekitar tujuh puluh sampai seratus persen. Tujuh puluh karena mereka menyerang membabi buta, sementara seratus karena factor keberuntungan.” “Mereka tak punya kelemahan?” Zyan berhenti untuk membasahi tenggorokannya. “Sepertinya hanya dengan memenggal kepala mereka,” jawab Jeff ragu. Zyan kembali berhenti dan menatap tak suka dengan jawaban tak pasti dari Jeff. Jeff yang sadar segera meralat jawabannya. “Hanya dengan memenggal kepala mereka.” Jeff memanatapkan nada bicaranya. Zyan melanjutkan langkahnya kembali menuju sebuah bukit kecil yang ada di sebelah utara. “Jendra! Apa yang kita tuju ke bukit itu?” Levi yang berjalan bersisian dengan Jeff bertanya. Zyan sama sekali tak memberika informasi apapun tentang misi mereka. Zyan dengan cepat menunjuk mereka berempat dan memintanya bersiap-siap untuk perjalanan selama empat hari. “Menjemput penerus tahta kerajaan,” jawab Zyan singkat. Hening beberapa saat karena mereka tak mengetahui siap yang dimaksud oleh Zyan. Selama ini mereka tak pernah melihat seorang Ratu atau istri Raja Yelvan. Mereka juga tak menyagka jika Raja Yelvan memiliki seorang anak sebagai penerus tahta. Raja yang penuh dengan obsesi itu hanya memikirkan bagaimana cara untuk menemukan cara mengalahkan pasukan iblis. semua manusia dari desa yang kosong sekarang juga bagian dari objek penelitiannya. Orang yang lewat berpikir jika penduduk desa itu telah dihabisi oleh pasukan iblis. wlau sebagiannya benar. “Apa ‘dia’ memiliki obsesi yang sama dengan Raja Yelvan?” Jeff bertanya pada Levi yang segera menyikutnya dan menatap pada Zyan. “Di tubuh mereka mengalir darah yang sama,” jawab Yelvan. Ia mendengarjelas pertanyaan Jeff tadi, lalu melanjutkan, “tapi aku yakin mereka tak memiliki obsesi yang sama. Keadaan mereka begitu kontras seperti hitam dan putih.” Jeff mengangguk mendengar perjelasan Zyan. Ia penasaran orang seperti apa yang akan ditemuinyan nanti. Keadaan di ruang kesehatan darurat mulai terkendali. Sebagia besar dari korban sudah mendapatkan perawatan dan obat-obatan yang dibutuhkan. Tenaga bantuan dadakan yang teridiri dari perempuan sekarang sedang berkeliling memeriksa korban dan bertanya jika ada yang mereka butuhkan. “Tahoi. Apa kau yakin dengan keputusanmu?” Zalgo, salah seorang kepercayaannya berdiri sejajar degannya yang memerhatikan orang-orang membersihkan koridor dari potongan-potongan tubuh yang masih berceceran. “Memangnya kenapa?” Tahoi bertanya balik. “Aku akan tetap mendukungmu.” Jawaban singkat Zalgo kembali membuat tahoi ingat pada penyebab yang membuatnya mengmbil keputusan untuk ikut ke tempat ini. Yelvan memberitahu jika ia memiliki sebuah kejutan untuk tahoi. Seseorang yang takkan ia sangka tetap bernapas hingga sekarang. Awalnya Tahoi berusaha menebak-nebak orang yang dimaksud Yelvan. Namun ia tak bisa membayangkan siapapun. “Satu-satunya perempuan yang berasal dari kaian.” Yelvan memunculkan senyum puas di wajahnya usai mengatakan hal itu. Ya, ucapannya hari itu berhasil membuat jantung Tahoi berdetak cemas. Ia sadar sesuatu yang seharusnya tak boleh ada sekarang justru melenggang bebas di luar sana. “Yelvan, berapa banyak yang kau ketahui tentang dunia ini?” Tahoi bermonolog. Tahoi tak habis pikir tentang berjuta informasi yang digenggam oleh Yelvan. Seorang pria yang dilahirkan manusia biasa dan memiliki obsesi untuk menggabungkan semua klan yang berbeda dalam tubuhnya. Sebuah perbuatan yang sangat menentang hukum alam. Ia persis dengan kakeknya yang juga hidup dan mati oleh hasil obsesinya sendiri. “Sekarang aku penasaran bagaimana dengan penerus tahtamu, Yelvan.” Tahoi bergumam dingin dan meninggalkan koridor itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD