Core Magic

1002 Words
Setelah meminta tolong, Valrey bergegas menemui Tuan Vargas. "Tuan saya akan menjelaskan semua kejadian yang terjadi tadi," "Duduklah dulu," seraya mengisyaratkan untuk mempersilahkan duduk di dekatnya. Valrey menceritakan dari pertama dia di desa sampai semuanya yang terjadi di serang Core Magic. "Jadi mereka sudah bergerak dari tadi?” wajah Vargas mengeras mendengar pembantai di desa tersebut. "Jadi apa yang akan dilakukan kita sekarang tuan?" tanya Valrey cemas. "Untuk sekarang kau kembalilah bawa peralatan dan tulang Core Magic itu untuk membuat senjata," Vargas memerintah dan lekas pergi ke dalam rumah untuk merundingkan permasalahan ini. "Baik Tuan," Valrey bergegas dengan kecepatannya. "Tuan Vargas kami sudah mengetahui bahwa mereka sudah bergerak, aku takut desaku sudah di serang duluan." Lucky berbicara dengan nada khawatir dan tampak sangat cemas. "Untuk saat ini kita hanya bisa menunggu!! Setelah selesai mentransfer kekuatanku baru kita akan bergerak," "Tapi aku takut warga desa akan mati," "Apakah dengan kekuatan dan senjata yang kau miliki saat ini kau bisa menghadapi salah satu dari mereka? Sedangkan aku harus menyembunyikan diri, sesuai yang Valrey rencanakan," " Arrrgghhh .... " Lucky mengeratkan giginya dan mengepalkan tangannya, dia marah dan kesal karena untuk saat ini dia tidak bisa melakukan apa-apa. Tidak berselang lama Valrey pun datang. "Tuan semua barang yang sudah saya bawa," Valrey menyerahkan barang-barang yang dia bawa. "Baiklah sekarang kita mulai membuat senjata." Vargas lekas berdiri dan menuju tempat yang sudah disediakan untuk membuat senjata. Lucky dan yang lainnya ikut menyaksikan proses membuat senjata tersebut. Vargas membentuk kuda-kuda dan mengarahkan telapak tangannya ke arah tulang tersebut. Buurrhhh ... seketika tangan Vargas mengeluarkan api yang sangat panas dan melelehkan tulang dengan mudahnya. "Valrey!!" Valrey pun mengerti apa yang harus dilakukan tanpa bertanya kepada Tuannya. Valrey membawa cetakan pedang dan mengambil cairan tulang tersebut untuk di cetak, setelah beberapa lama beberapa senjata pun jadi dibuat. Dan untuk membuatnya tajam dia langsung mengatasinya. Valrey mencetak cairan tersebut menjadi pedang, tombak, anak panah dan tongkat yang terdapat batu permata yang terbuat dari tulang dan permata Core Magic. "Tuan semua sudah selesai," Valrey berbicara. "Baiklah setelah ini ada satu tugas lagi yang lebih berat dari ini, Apakah kau sanggup?" “Hamba dan para prajurit yang patuh akan mencoba melakukan apapun tugas yang anda berikan dengan sebaik mungkin. Lalu apa tugas hamba tuan?" "Kau harus menjagaku dan yang lainnya saat aku sedang mentransfer kekuatanku kepada pemuda itu," "Baiklah tuan hamba tidak akan membantah apapun keputusan anda." Vargas dan Varley pun bergegas memberikan senjata yang mereka pegang untuk diberikan kepada semua yang ada disana. Raph mengambil sebuah tombak, Sargon mengambil sebuah pedang sedangkan Vio mengambil sebuah tongkat. Lisa dan Lucky tidak mengambil apapun karena mereka tidak akan sanggup bertarung. "Mengapa kau tidak mengambil senjata?" Vargas bertanya kepada Lucky. "Sepertinya aku tidak memerlukannya, karena aku mempunyai pedang warisan kedua orang tuaku yang bentuknya mirip menyerupai pedang tulang dari tulang Core ini walaupun pedang itu berwarna hitam yang pekat dan mempunyai aura yang menakutkan," "Mungkinkah?" Vargas berusaha menepis apa yang dia pikirkan karena senjata yang ada di dalam pikirannya menghilang berpuluh-puluh tahun lalu. Dan sampai sekarang tidak tau keberadaannya. "Baiklah semua sudah memegang senjata, bila kalian bertarung dengan asal-asalan di pastikan kalian akan mati maka dari itu aku akan memberikan kalian masing-masing sebuah kitab untuk kalian pelajari dan untuk nona Vio sebaiknya perbanyak sihir penyembuh." Vargas menyodorkan banyak kitab untuk mereka pelajari. "Terima kasih." mereka berucap bersamaan. Vargas mengangguk seraya tersenyum. "Baiklah Lucky sebaiknya kita percepat pentransferan kekuatan, sebelum nya aku mengingatkan resiko yang akan kau dapat. Bila tubuhmu kuat satu minggu atau satu bulan semuanya akan selesai tapi bila tubuhmu lemah kau akan kehilangan nyawamu, kau ingat?" Vargas mempercepat pentransferan karena dia merasakan kekuatan besar ke dekat mereka. "Semua demi keselamatan kita semua walaupun aku mati setidaknya aku telah mencoba," Lucky takut kehilangan orang-orang terdekatnya karena selama ini dia dikucilkan oleh semua orang, maka dari itu Lucky bersyukur ada yang mau berteman dengannya. "Baiklah kita mulai, Sean hidup dan matiku ada di tanganmu aku serahkan semuanya padamu," setelah memberikan perintah Vargas bergegas membuat lingkaran mantra. "Baik tuan hamba akan melaksanakan sebaik mungkin." Lucky bersila bersiap menerima kekuatan dari Vargas, dia berdiri di sebuah lingkaran mantra tepat di belakangnya Vargas menyentuh punggung Lucky untuk mentransfer kekuatannya. Setelah beberapa hari tidak ada kejadian aneh namun tiba-tiba Lucky terbatuk mengeluarkan darah segar di mulutnya membuat Raph, Vio, Sargon dan yang lainnya khawatir. Raph bergegas berlari namun di hentikan oleh Valrey. “Apa yang akan kamu lakukan?" "Kau tidak lihat dia mengeluarkan darah, aku tidak mau melihatnya mati," "Aku tau, aku melihatnya tapi bila kau membangunkannya setengah jalan justru mempercepat kematiannya. Lihatlah dia masih memejamkan mata dan nafasnya masih beraturan itu menandakan dia baik-baik saja. Yang bisa kita lakukan hanya lah menjaganya dan berharaplah tubuhnya bisa menjadi wadah kekuatan yang besar itu." Raph pun terdiam mendengarkan Valrey berbicara, semua yang dikatakan Valrey ada benarnya juga. "Semoga saja dia bisa mendapatkannya. gumam Raph dalam hati. "Gawat," Valrey berteriak. "Apanya yang gawat?" Raph menimpali Valrey. "Aku merasakan ada kekuatan yang besar sedang menuju kemari, kekuatan sebesar ini hanya dimiliki 10 Jendral. Aku tidak yakin bisa menahannya." Valrey panik dan takut tidak bisa mempertahankan nyawa tuannya. "Kalau begitu bersiaplah kita akan menahannya selama yang kita bisa walaupun nyawa sebagai taruhannya." Raph berbicara dengan lantangnya. "Manusia ini memiliki semangat yang luar biasa, tapi sangat disayangkan karena walaupun hanya salah satu Jendral tapi kekuatan mereka sangat Dahsyat." Valrey meratapi semua ini dalam hati. Sebelum selesai bersiap mereka melihat sesuatu yang terbang dengan kecepatan yang tinggi ke arah mereka. Siap tidak siap mereka harus berusaha bertahan. Brughh ... Demon tersebut mendarat dengan menghancurkan apa saja yang di dekatnya. "Tu-Tuan Murdoc!! " "Ya, Valrey, dimana adik kecilku?" Murdoc belum menyadari yang ada di sekelilingnya. "Sial ternyata yang datang adalah Jenderal pertama kesempatan untuk bertahan jauh dari kata bisa, bila saja yang datang Jendral yang lain mungkin masih ada harapan untuk bertahan," Valrey kehabisan kata. "Tunggu dulu apa yang sedang dia lakukan? Dan mengapa ada manusia yang dibiarkan hidup?" kedua mata Murdoc mulai memerah. "Maaf tuan," "Jangan bilang adik kecilku ini mengkhianati kaumnya sendiri!! "
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD