Kim Lily Sharren seorang wanita yang kini telah berumur 28 tahun. Ia keturunan asli Korea Selatan dan telah menikah dengan William Stevan Azfary keturunan Spanyol yang berumur tiga puluh tahun. Kim Lily sudah menikah selama tiga tahun dan pada masanya, mereka telah di karuniai dua putra kembar yang kini telah berumur satu tahun. Tak lupa juga dengan satu bayi mungil yang kini tengah berada dalam kandungannya.
Dua bulan sebelum kelahirannya, Kim Lily dan si kembar berada di taman yang beralaskan tikar. Kedua putranya tidur dengan berbantalkan paha sang mommy dengan wajah yang mengahadap ke arah perut mommy mereka yang kini tengah membuncit.
"Bu, akak Cean oleh pegang kan, Bu?"
"Boleh sayang, coba ajak baby nya ngobrol," titah Kim Lily pada Sean yang juga terdengar oleh Seano.
"Abang ja yang celita ya, Bu. Kak cean lama."
"Sabal dong Bang, akak Cean kan lagi pilih celita yang akak Cean ingat." ucapnya dengan bibir yang mengerucut lucu.
Kim Lily yang mendengar suara kedua putranya hanya terkekeh geli. Sesekali, mengelus rambut Sean juga Seano dan berpindah pada perut buncitnya.
"MOMMM !!!" teriak mereka bersatu membuat Kim Lily tertawa karena reaksi berlebihan dari anak-anaknya.
"Bu, pelut mommy belgelak, ada tacing besal ya mom?" tanyanya begitu antusias.
"Bukan cacing besal kak Cean, tapi baby nya lagi ain bola."
"Abang cok tau, maca baby ain bola."
"Itu kan kata daddy," gumam Seano dengan mata mendelik tajam ke arah Sean.
Perdebatan yang berlangsung membuat Kim Lily tertawa tertawa dibuatnya.
Bahkan, ketiganya tak sadar jika di belakang mereka telah ada yang siap menerkam semuanya secara bersamaan.
"Daddy pulang ...." teriak William seraya mengatur mereka bertiga. Dikecupnya sang istri juga calon anak dalam kandungannya. Tak lupa, kedua jagoan yang kini tengah merentangkan, meminta meminta untuk ia gendong.
" Bermain lalat ayah ..." teriak Seano yang langsung diberi tepukan setuju oleh Sean.
" Let's go ..." William pun menurunkan salah satu di antara mereka, dan Seano yang akan mendapat giliran pertama.
" Siap ... pergi !!!!" teriak Seano yang kini merasakan bahwa dirinya terbang di atas udara. Tangannya ia rentangkan begitu lebar dengan semilir angin yang menerbangkan rambut halusnya.
"Daddy , akak Dad, akak mau ..." ucap Sean yang tak ingin kalah dari Seano. Akhirnya mereka berdua pun mendapat gilirannya masing-masing.
"Mas, sini duduk, kamu harusnya istirahat dulu." ucap Kim Lily dengan suara keras karena jarak mereka yang sedikit jauh dari tempatnya.
Mereka bertiga pun langsung berlomba saling mendahului untuk mencapai peri tercinta mereka. Dan yang pasti, William lah yang kalah karena memberikan kesempatan pada anak-anaknya untuk menang.
"Yeayy ... Akak Cean menang, ye ye ..." Sean berteriak seraya berjingkrak heboh.
"Lebih baik kita masuk saja ya, Daddy gerah nih, mau mandi."
"Okey daddy."
Akhirnya, mereka pun memasuki rumah dengan senyum yang tak luntur dari bibirnya.
*****
Kebahagiaan semakin menyeruak memenuhi d**a kala sang adik telah lahir ke dunia. Sean dan Seano kecil bertepuk tangan merasa bahagia akan kehadiran sang adik.
"Kalian harus menjaganya, menyayanginya juga selalu mencintai adik kalian."
Sang grandma berkata dengan lembut kepada si kembar yang di balas anggukan keduanya.
Bayi mungil itu kini berada di hadapan mereka, tertidur dengan bibir yang tak bisa diam seolah mencari asi untuk sumber makannya.
"Daddy, itu bibir dek ayi nya kok dak mau diem?" pertanyaan polos sang anak sulung langsung membuat mereka semua tertawa.
"Dedek bayi nya lagi pengen makan tuh," jawab William dengan cepat.
"Nih nih nih, akak Cean kasih ini aja," ucapnya seraya memberikan kue yang terpaksa harus di bagi dua karena ia pun masih ingin menikmatinya.
"Adek bayi nya belum bisa makan itu sayang." Ucap sang mommy dengan halus.
"Telus makan apa mom? Kan kasian." Lirihnya sedih dengan mata berkaca-kaca seraya menatap adik bayi nya.
"Ini, mommy kasih ini." Lanjut mommy yang langsung menyusui baby Willy dan dengan rakus Willy pun meminum asi sang mommy.
"Mommm," teriakan dari Seano yang membuat semua yang berada di ruangan itu kaget.
"Mommy dak sakit? Itu mommy di gigit dedek bayi."
"Engga dong sayang, karena sebelumnya, kalian pun seperti ini."
"Abang Ceano sepelti itu uga?"
"Iya." ucap sang mommy meyakinkan putra sulungnya.
"I'm sholly mom, mommy pasti kecakitan kan?"
"Tidak sayang, lihat, mommy baik-baik saja kan?" Keduanya memberikan anggukan percaya.
*****
5 tahun kemudian
Keluarga Azfary kini tengah merencanakan untuk berlibur ke taman hiburan. Kedua putra kembar juga putri mereka yang bernama Willy Queen Azfary pun, langsung berteriak kegirangan saat mengetahui hal tersebut.
Sean dan Seano? mereka langsung berlari keluar untuk mengambil sesuatu.
"Mom ... Mom." panggil Sean seraya berlari mendekati Kim Lily yang tengah menguncir rambut Willy.
"Ada apa sayang? And what is that?" Tanya sang mommy seraya bergidig geli melihat apa yang di bawa kedua putra nya.
"Mom, kakak mau bawa Jojo boleh kan?"
"Jojo?" itu kan kodok sayanggggg!!!! , batinnya berteriak ketakutan.
"Iya, ini," tunjuk nya pada seekor hewan yang kini berada di tangannya.
"Tidak, tinggalkan itu ya sayang, mom tidak suka."
"Hmm ... oke mom, i'm sorry."
"Fine son, setelah simpan itu, cuci tangan terlebih dahulu."
"Okey Mom." Kemudian keduanya kembali keluar dan terdiam di halaman depan rumah mereka.
"Bye Jojo, sorry, we can't invite you." ucapnya seraya memasukkan kembali Jojo ke dalam kandangnya.

Lalu, panggilan sang Daddy membuat mereka langsung menyimpan Jojo si kodok dan meninggalkannya begitu saja. Keduanya mencuci tangan dengan selang yang tersedia untuk menyiram tanaman dan setelahnya berlari menuju mobil.
"Yeayyy ... taman bermain!!!" pekik Willy bersemangat dan kini telah duduk di antara kedua kakaknya.
"Iya, nanti kita main sama-sama ya." ajak sang abang yang di angguki cepat oleh Willy.
"All ready?" Tanya William seraya menengok kan kepalanya ke kursi belakang.
"Ready Dad ...."
"GO!!!" pekik mereka bersamaan dengan seruan gembiranya. Bahkan, mereka tak tahu hal apa yang akan terjadi di sana.
*****
Di perjalanan, mereka semua bernyanyi juga bertepuk tangan. Tak lupa juga senyum yang selalu menjadi penghangat di keluarga mereka.
"Mom, mom, Ily boleh kan beli permen kapas?"
"Boleh ... tapi, cukup satu saja ya."
"Dua boleh kan, Mom? Dimakan di sana satu, di bawa ke rumah satu."
"Tidak sayang, nanti gigi kamu sakit."
"Yahhh, mommy." Kedua kakaknya langsung berpandangan dengan mata yang saling memberikan kode masing-masing. Tak lama kemudian, mereka mengangguk tanda mengerti.
Seano langsung mendekatkan bibirnya ke telinga Willy dan membisikkan sesuatu.
"Nanti abang sama kakak juga beli permen kapas, dan itu buat Ily."
"Beneran bang?" sahutnya sama berbisik dan menatap Sean yang tengah menganggukkan kepalanya.
"Iya, tapi jangan sedih lagi, kakak sama abang gak suka."
Seano langsung duduk tegap kembali, tangannya kemudian terulur ke arah puncak kepala Ily dan mengelusnya penuh kasih sayang.
"Makasih abang, makasih kakak." Ily berseru senang kemudian merangkul lengan kedua pangerannya.
Ya, pangeran yang selalu ada di hati Ily. Pangeran yang selalu ada untuknya dan tak pernah meninggalkannya.
"Kita sudah sampai anak-anak"
"Horeee!!!" mereka keluar dengan riang. Sean dan Seano menuntun Willy disamping kanan dan kirinya. Sedangkan kedua orang tua mereka berada tepat dibelakangnya.
"Daddy beli karcisnya dulu ya"
"Iya dad ...."
Tak lama kemudian, mereka pun telah mendapatkan karcisnya. Karena keadaan taman hiburan yang begitu ramai, Willy kini bersama kedua orang tuanya dan Sean Seano tepat berada di hadapan mereka.
Brugghh ... Byuurrr ... Sean tak sengaja menabrak salah satu pengunjung hingga menyebabkan orang itu jatuh tersungkur ke dalam kolam. Hal itu pun membuat kericuhan sekitarnya.
Saat William sang ayah mencoba bicara baik-baik untuk menyelesaikan masalah dengan meminta maaf, orang itu menatap sang istri juga gadis kecil yang berada disampingnya. Karena emosi yang tengah kian memuncak, dengan cepat ia menarik Willy secara paksa dan mengambil pisau dari pedagang yang berada di dekatnya kemudian ditodongkan pada Willy.
Semua memekik kaget. Hal itulah yang membuat Willy ketakutan. Dengan mata berkaca-kaca, ia menatap sekitarnya dengan rasa takut.
"Momm ... Dad ..." lirihnya begitu pelan seakan takut terdengar oleh si pelaku.
Sean dan Seano menatap pelaku itu dengan tatapan tajam, saat keduanya hendak berlari untuk mendekati si pelaku, keduanya langsung di tahan oleh sang mommy.
"Jangan, jangan ikut campur, biarkan Daddy yang tangani semuanya sayang."
"Mom, Kasian Ily, lihat, Ily ketakutan mom," ucap Seano dengan suara serak dan mata yang tengah berkaca-kaca.
"Ssttt .... Kalian tahu kan, kalau Daddy itu hebat? Pasti Daddy akan selamatkan Ily, kita berdo'a ya sayang," ia mencoba menahan dan menguatkan kedua putranya. Padahal, dalam hati seorang ibu, pasti sudah terbentuk sebuah kecemasan yang terasa lebih berat.
"Kembalikan anak saya!"
"Cihhh, lo liat sodara gue, dia udah basah kuyub begitu."
"Terus anda mau apa? Ganti rugi? Belikan baju baru? Atau uang? Silahkan! Tapi, kembalikan putri saya terlebih dahulu."
"Hahahhaa ..." suara tawa yang menakutkan memasuki indera pendengaran Willy. Suara tawa yang menurutnya begitu kejam. "Orang kaya memang selalu mengandalkan uang, saya memang orang yang tidak berkecukupan seperti kalian, tapi mana ! Mana rasa rendah kalian pada kami!"
"Pak, saya kan tadi sudah meminta maaf pada bapak, saya mengaku salah akan anak-anak saya yang tak sengaja mendorong kerabat bapak. Saya mohon pak, lepaskan putri saya, dia baru berumur lima tahun, saya mohon pak."
Seano yang tak kuasa melihat adiknya semakin ketakutan pun dengan berani bertindak untuk memutari orang-orang yang sedari tadi hanya menonton dan berlari menerjang si pelaku dari arah belakang. Ia langsung lompat ke punggungnya dan menggigit telinga si pelaku dengan keras.
"Aarrgghhh, anak s****n!!!" umpatnya yang bahkan tak terasa bahwa ia telah melepas cengkraman nya pada Willy. Namun tangan satunya lagi langsung menyikut dengan keras pinggang Seano membuat anak itu meringis kesakitan dan bisa di pastikan bahwa Seano akan mendapatkan lebam di tubuhnya.
"Lari Ily, lari!!!" teriak Seano pada Willy. Sang pelaku pun mendapatkan pukulan telak pada perutnya beberapa kali oleh William. Seano melepaskan dirinya saat si pelaku membungkuk karena merasa kesakitan.
Tak lama kemudian, keamanan pun datang dan membawa mereka bersama ke kantor penyelidikan.
Kim Lily aturan putri nya dengan erat. Ia terus berdo'a dan merasa khawatir akan anak-anaknya. Sean juga Seano terus menggenggam tangan Willy yang kini terasa dingin seolah tak bernyawa. Tatapan mata nya terlihat berbeda, kini hanya ada tatapan kosong dan tak bercahaya seperti biasanya.
*****