Chapter 5 - Shattered

842 Words
"AAARGHHH!" Aku tidak mengenali suara itu. Baru setelah dadaku terasa perih, aku sadar itu suaraku sendiri. Betapa kerasnya aku berteriak. Teriakanku menggema diseluruh penjuru ruangan, seperti jeritan jiwa yang terkoyak, memantul dari dinding batu yang dingin dan tak berperasaan. Aku meronta dengan liar, rantai di tanganku berderit keras seolah mengejek ketidakberdayaanku, dan aku ingin mencakar diriku sendiri, mengoyak kulitku untuk menghentikan siksaan ini. Aku ingin semua rasa sakit ini menghilang, atau lebih baik aku yang menghilang saja. Hilang ke kegelapan abadi. Aku merasa tenggorokanku berdarah saat aku berteriak lagi untuk yang kesekian kalinya, darah panas mengalir di mulutku, mencampur rasa asin dengan siksaan yang tak berujung. Apa kau ingin tahu bagaimana rasanya? Rasa sakit itu datang. Lalu berhenti menjadi apa pun. Aku masih bernapas, tapi aku tidak tahu di mana tubuhku berakhir. Ada sesuatu yang hancur. Aku tidak tahu apa. Dalam kabut itu, aku mulai tertawa, atau menangis, aku tak tahu. Mungkin keduanya sama saja. Itulah yang tersisa dariku. Aku tidak bisa lagi! Persetan dengan selanjutnya! Aku mencoba memfokuskan pengelihatanku yang sekarang didominasi oleh warna merah. Menyakitkan membuka mataku seperti ini. Rasanya ada yang sedang menyelipkan serpihan kaca di kelopak mataku. Aku nyaris tidak kuat menahan mataku agar tetap terbuka. Tapi aku harus menatap naga itu. Aku harus memohon. Memohon kematian, atau setidaknya akhir dari neraka ini. Kebencian mulai tumbuh di dadaku seperti api yang tak terkendali. Kebencian terhadap Gwazel, naga kejam yang menikmati siksaanku, yang mata hazelnya seolah tertawa atas penderitaanku. Aku membencinya, membenci tatapannya, membenci tangannya yang menyentuhku. Aku ingin meludah ke wajahnya, ingin menusuk matanya dengan jarum yang sama yang menyiksa tubuhku. "Ghh... aaarghhh!" Aku ingin bicara, tapi suaraku hancur di tengah jalan. Yang keluar hanya jeritan yang bercampur air mata, napas, dan kebencian yang tak bisa kutelan lagi. Lidahku perih seperti terbakar asam, rahangku sangat sakit ketika digerakkan, seperti ada paku yang ditancapkan di sendinya. Bahkan aku tidak bisa memaksakan bibirku untuk membentuk sebuah kalimat, selain berteriak seperti binatang yang disiksa. Aku berharap rasa sakit ini segera berakhir. Aku berharap aku bisa langsung menangis, sehingga aku tak lagi perlu meminum cairan-cairan lain setelah ini. Atau yang lebih baik lagi adalah aku berharap kalau aku mati saja. Mati dan meninggalkan naga busuk itu sendirian dengan kegilaannya. Aku ingin mati. Tapi mataku masih terbuka. Ini terlalu kejam. Dalam kabut sakit itu, aku sejenak ingat kolam pagi tadi. Air dingin yang menyentuh kulit, riaknya yang tenang seperti pelukan lama. Momen kecil itu, meski singkat, seperti janji bahwa ada sesuatu di luar neraka ini. Dan karena itu, ingatan itu hancur terlalu cepat. Seperti tidak pernah diizinkan ada. Digantikan dengan panas yang kembali menyergap. Tapi rasanya... seperti sisa dingin air masih menempel di ujung jari, menolak hilang sepenuhnya. Itu kutukannya. Aku mencoba memandangi si naga jahat itu dengan tatapan penuh kebencian yang kini membara di hatiku. Aku membencinya lebih dari apa pun. Tapi apa yang bisa kulakukan. Dan itu pun tidak akan pernah cukup. Lalu kebencian itu habis. Tidak ada lagi yang tersisa untuk dirasakan. Aku pasrah. Membiarkan badanku menggantung lemah dan ditopang oleh rantai besi yang mengikat kedua tanganku. Rasa sakitnya tidak pernah berkurang barang sedetik. Aku ingin menghilang. Ingin berlari pergi dari semua penderitaan ini. Sayangnya aku masih tetap sadar. Parahnya lagi tidak mati. Aku mulai memberontak lagi, kali ini dengan lebih liar saat tangan Gwazel menyentuh daguku. Ini gila! Naga itu sudah GILA! Seharusnya aku sudah GILA dengan semua ini! Aku berusaha keras mengabaikan rasa sakitku yang membabi buta dan mencoba membuat naga mengerikan itu tak bisa menuangkan isi cairan di dalam botol yang dipegangnya ke mulutku, aku menggelengkan kepala dengan ganas, gigiku menggeretak penuh kemarahan. Aku mencoba menendang naga itu menjauh. Aku tahu itu sia-sia. Tapi tubuhku belum menyerah sepenuhnya. Tetapi bagaimanapun juga, kesakitanku yang sudah sebesar ini tidak bisa kutahan-tahan lagi. Naga itu tak menemukan kesulitan yang berarti untuk menuangkan cairan lain kedalam mulutku. Cairan itu mulai memasuki tenggorokanku. Sensasinya sangat menyakitkan dan mengerikan, seperti menelan bara api yang hidup, yang menggerogoti setiap inci tenggorokanku. Aku ingin memuntahkan cairan laknat itu, cairan yang membakar tenggorokanku hingga terasa meleleh, daging dan otot seolah larut dalam panas yang tak tertahankan. Tenggorokanku terasa seperti tungku neraka, setiap tarikan napas adalah siksaan baru yang membakar. Perutku mendidih, seperti kuali berisi lava yang bergolak, mengirimkan gelombang rasa sakit yang merambat ke seluruh tubuhku. Tiba-tiba, kabut tebal berwarna putih kelabu melingkupi mataku yang tertutup rapat menahan sakit, begitu pekat hingga dunia di sekitarku lenyap, seolah aku tersedot ke dalam lautan asap yang dingin dan mencekik. Dari balik kabut itu, cahaya aneh muncul, cahaya pucat kebiruan yang berkedip-kedip seperti nyala api hantu, menari-nari di tepi penglihatanku. Aku sempat merasakan hembusan angin samar dari celah dinding, seperti napas dunia luar yang jauh, dingin, dan tak peduli. Kepalaku terasa melayang. Tubuhku entah ada dimana. Aku berputar dalam pusaran kabut yang tak berujung. Rasanya seperti melayang di antara dunia nyata dan mimpi buruk. Sayangnya aku tidak bisa mencegahnya terjadi. Lalu semuanya menjauh. Suara lebih dulu. Lalu rasa sakit. Lalu aku. Aku sempat berpikir, mungkin ini mati. Tapi bahkan itu pun terasa terlalu lembut. Yang ku tahu hanya Hening...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD