"Ganteng darimananya? Padahal mereka cuman biasa aja. Apanya yang mesti diramein?"
Alma menghembuskan napasnya kasar. Merasa gemas dengan Haura. "Lo nggak ngerti, Haura. Bagi siswi-siswi di sini itu mereka spesial. Udah ganteng, pinter, tajir, terus masing-masing dari mereka punya jabatan di sini. Apa sih yang kurang dari mereka?"
Haura mengangguk pelan dan kembali menatap mereka.
"Mereka kurang semangat hidup aja kayaknya," celetuk Haura.
Alma sontak menyembur minumannya ketika mendengar hal tersebut.
"Heiiiii, kenapa lo bisa-bisanya bilang begitu!?" tanyanya shock.
Masa orang-orang dingin seperti mereka diidentikkan sebagai orang yang kurang memiliki semangat hidup sih!?
Haura ada ada aja deh!
"Lihat aja muka mereka asem-asem begitu!" tutur Haura.
"Itu emang sikap begitu, Hau. Cool cool agak gimana itu."
Menurut Haura aura mereka lebih pantas disebut arogan daripada cool. Di antara mereka berenam sama sekali tidak ada yang tersenyum, padahal banyak siswi yang sedang menyapa mereka.
Benar-benar kumpulan manusia yang arogan!
"Kata kamu mereka punya jabatan di sekolah ini. Emang apa aja?" tanya Haura.
Alma menatap Haura tidak percaya.
"Cieeee penasaran kan akhirnya," ledeknya.
"Ih buruan kasih tau!" balas Haura memaksa.
Tubuh Alma mendadak menjadi tegap Kedua. pandangannya sontak menatap fokus ke arah Haura.
"Oke. Jadi si yang paling cool di antara yang lainnya itu namanya Aksa, dia termasuk ketua club basket di sini. Terus si Evan adalah ketua club musik. Dan si Kenzi wakil ketua club basket. Kalo Raihan adalah ketua futsal dan Lucas wakilnya. Kalo Xavier dia ketua club badminton."
"Oh."
Anggukan Haura yang terkesan santai dan terlihat tidak tertarik membuat Alma terheran-heran dibuatnya.
"Oh doang menurut lo?" Kedua mata Alma melotot.
Banyak orang yang memuji circle mereka adalah orang-orang beruntung, tapi kenapa Haura terlihat biasa-biasa saja!?
"Keren sih ada jabatannya dalam satu geng itu. Tapi menurut aku tetep biasa aja," ungkap Haura.
"Au dah serah lo, Hau! Kayaknya lebih cocok lo yang nggak punya semangat hidup deh!" komentarnya.
Hanya Haura yang terlihat
tidak seperti manusia normal biasanya yang suka heboh ketika melihat kumpulan cogan-cogan. Haura terlihat lebih netral bahkan dia juga tampak tidak tertarik dengan pembicaraan barusan.
"Kalo boleh tau kenapa kita tiba-tiba diomongin aja ya sama kalian?"
Suara seseorang mulai terdengar di telinga Haura maupun Alma. Kontan kedua gadis segera menoleh ke sumber suara.
Alangkah terkejutnya di saat melihat keeenam cowok tampan yang sebelumnya sedang mereka bicarakan itu ternyata berada di belakang mereka. Serta mereka juga mendengar beberapa percakapan mereka.
Alma menatap sinis pada salah satu di antara mereka. "Dih siapa juga yang ngomongin!?"
Evan yang merupakan seseorang yang sebelumnya berbicara itu mulai menatap Alma lebih sinis. "Galak banget sih, neng! Lo sendiri nggak sadar apa kalo dari tadi gue ada di belakang lo!?"
"Berisik!"
Melihat interaksi mereka, sekilas Haura dapat menyimpulkan hubungan mereka terlihat tidak akur.
"Numpang duduk di sini lah! Bangku yang lain udah pada rame," ujar Lucas setelahnya.
Kemudian mereka segera duduk di kursi meja ini bersama dengan Haura dan Alma. Padahal tanpa keduanya ketahui, mereka sebenarnya sudah mendapat tawaran tempat duduk oleh kaum siswi di sini, tapi mereka lebih memilih untuk menolaknya karena di meja ini lebih adem daripada meja yang lainnya.
Alma menggeserkan sedikit badannya lalu berbisik-bisik pada Haura. "Dan satu lagi yang gue lupa kalo beberapa dari mereka di antaranya itu sebenarnya buaya."
Mendengar fakta tak terduga itu membuat Haura tertawa pelan.
Evan memelototkan matanya ke arah Alma. "Maksud lo apa ya bisik-bisik di depan kita? Jangan-jangan lo ngomong yang enggak-enggak lagi!?"
"Dih kegeeran banget sih lo! Siapa juga yang mau ngomongin lo !? Najong!" balas Alma ketus.
"Berisik lo berdua! Panas kuping gue denger lo berdua ribut," hardik Xavier setelahnya.
Raihan menatap mereka serius. "Lebih baik kalian damai aja deh."
"Bener tuh, Van, hehe." Mendadak sifat Alma jadi lemah lembut ketika ditatap oleh Raihan.
"Nyenyenyenye..." Mulut Evan Monyong-monyong mendengar suara Alma yang menurutnya lenjeh.
Bila seandainya tidak ada Raihan di sini sudah pasti Alma sudah menabok mulut Evan di sini. Baginya, Evan memang selalu menyebalkan di matanya.
Evan diam saja Alma suka naik pitam melihatnya, apa lagi bila cowok itu banyak tingkah?
"Ululuu, jangan monyong-monyong begitu, sayang. Jigongmu keluar keluar semua," ujar Alma sambil menepuk-nepuk kedua bibir Evan. Berusaha menahan untuk tidak menampar.
"Buset! Jigong nggak tuh!" sahut Kenzi.
Evan terlihat tidak terima dengan hinaan itu.
"Heh, apa maksud lo ya?! Mulut gue itu bersih ya nggak kayak lo yang bau neraka!" balas Alma tak mau kalah. 100
"Sialan lo!"
Lucas yang juga sama-sama gerah kontan menghentikan mereka. "Udah udah, daripada kalian ribut mendingan kita kenalin dulu sama anak baru manis ini yang dari tadi ngeliatin kita."
Sontak keadaan tiba-tiba menjadi hening.
Mendadak semua pasang mata mulai melihat ke arah Haura.
Haura yang terlihat seperti itu tiba-tiba menjadi canggung. Dia sengaja menundukkan kepalanya dan hanya fokus melihat mangkuk,Sementara tangannya yang berada di bawah meja saling bertautan satu sama lain.
"Hey, nggak usah malu-malu dong, cantik. Apa wajah kita kita kurang tampan dibanding sama piring yang lagi diliat itu?" tanya Xavier kemudian.
Haura semakin terdiam di posisinya.
Ia mungkin terlihat malu dan sedikit takut untuk berbicara dengan mereka.
Sementara Alma mulai memeragakan orang yang ingin muntah ketika mendengar gombalan receh dari Xavier.
Namun Evan langsung menabok mulut Alma karena dianggap merusak situasi.
Alma yang ingin mendumal jadi tidak jadi setelah Evan mulai berbicara pada Haura. "Kenalin nama gue Evan."
Yang lain pun ikut menyusul.
"Kenalin gue Xavier."
"Gue Raihan."
"Nama gue Lucas."
"Gue Kenzi."
Dan yang terakhir hanya menatap sekilas ke arah Haura. Dia tau bila Haura sudah mengetahuinya, jadi sudah seharusnya ia tidak memperkenalkan namanya lagi.
Tapi dikarenakan semua temannya yang sedang menatapnya, jadi dia terpaksa menyebutkan namanya lagi.
"Aksaa."
Mendengar mereka menyebutkan nama satu per satu, Haura kemudian menatap mereka satu per satu dengan kedua tangan yang sedikit gemetaran.
"Haura."Haura menyebutkan namanya setelah itu.
"Haura, namanya cantik, secantik orangnya," komentar Evan.
"Pasti di sekolah lamanya pernah jadi primadona sekolah,"sambung Lukas.
Wajah Haura mendadak jadi sedih ketika Lucas tidak sengaja menyinggung tentang sekolah lamanya.
Sadar akan perubahan drastis dari wajah Haura, mendadak Lucas merasa tidak enak sendiri. "Eh, gue salah ngomong ya? Lo tersinggung sama omongan gue?"
Di lain sisi Haura yang terdiam, salah satu mereka mulai menjelaskannya, "Dia punya masalah di sekolah lamanya, jadi lo nggak usah nanya-nanya terus!"
Gadis itu mulai menatap Aksa, orang yang menjelaskan perihal itu kepada temannya. Dan itu sungguh membuat Haura menjadi bingung.
Perasaan Haura belum pernah menceritakan masalah sekolah lamanya pada murid-murid di sini terkecuali pada Alma saja. Dan itu pun baru saja Haura ceritakan tadi.
"Oh, sorry, gue nggak tau," ucap Lucas mulai merasa bersalah.
Haura tersenyum tipis menatap Lucas.
Padahal sebenarnya Lucas sebenarnya tidak salah karena memang cowok itu tidak mengetahuinya.
Suasana mendadak menjadi canggung karena pembicaraan itu. Namun salah satu di antara mereka mulai mengalihkan suasana ini.
"Btw lo yang ambilin pesanan aja, Fir!" perintah Evan.
"Fir fir fir fir! Udah berasa kayak orang kafir aja gue!" Xavier mendumal kesal.
Kapan nama super aesthetic ini dipanggil seperti itu?
"Terus gue harus manggil apa? Xavi? Sekalian aja gue panggil lo sapi!" balas Evan kesal.
"Percuma emak gue kasih nama bagus buat gue kalo ujung-ujungnya dinistain juga!"
"Udah ah sono lo buruan! Ngedumel mulu!"
Setelahnya Evan langsung menendang Xavier.
Gubrak!
Dalam sekejap Xavier langsung terjatuh dari posisi duduknya dan menduduki tanah. Bunyi jatuh yang cukup nyaring itu berhasil menarik perhatian bagi siapa pun yang duduk di dekat mereka.
Terlebih Xavier jatuh dengan posisi nyungsep yang tidak elite.
"Sialan lo!" umpat Xavier langsung bangkit dari posisi duduknya.
Mau dimana lagi ia akan menaruh wajahnya?
Bahkan Xavier sampai mendengar suara tawa dari banyak orang yang mulai menatapnya.
"Malu banget gue! Mau ditaro dimana muka tampan gue, oh my god!?"
Mereka spontan tertawa secara bersamaan. Haura juga tanpa ragu-ragu mulai menertawai tingkah Xavier.
Di tengah-tengah tawa mereka, Alma tiba-tiba membisikkan sesuatu ke telinga Haura. "Kita ke kelas aja yuk, Hau! Gue lupa kalo pr gue kemaren belum selesai. Makanannya kita bawa aja ke kelas
"Ayo!"
Haura mengangguk kepalanya semangat.
Namun di lain sisi Haura merasa agak sedikit kecewa harus meninggalkan tempat ini karena baginya di kantin benar-benar terasa sangat menyenangkan, meskipun mereka baru saja duduk di sini dari beberapa menit yang lalu.
Dan itu semua dikarenakan kehadiran mereka yang membuat suasana menjadi seru sehingga membuat Haura menjadi nyaman dengan sikap aneh dan kekonyolan mereka.