Gildan tampak termenung di tempat, mengingat pembicaraan ibunya dan dirinya tadi pagi. “Saya setuju, Bu” dengan mata berbinar cerah, Rinni mengucap syukur dalam hati, tidak menyangka kepulangannya dari kampung halaman tercinta mendapat kejutan dari perjuangannya selama ini. “Kok kamu tiba-tiba setuju?” walau senang, Rinni cukup penasaran pada keputusan Gildan, pasalnya beberapa waktu lalu anaknya baru saja akan mempertibangkan tawarannya, itu pun bila Gasdan setuju, dan sekarang, menyetujuinya sebelum dirinya berbicara pada Gasdan, ada apa gerangan? “Ibu benar, Gasdan memang butuh seorang Ibu dalam kehidupannya” memang Gildan menjawab lancar namun dalam hati masih ragu akan keputusannya, hatinya berseru bila ibunya tidak terburu-buru mengenalkan Gasdan pada sosok bunda yang membuat Gasd

