1a) Mata Coklat Jernih

1450 Words
Pagi itu udara masih terasa sejuk, dengan mulusnya sebuah mobil berwarna abu metalik melaju di jalanan yang masih cukup sepi, entah mengapa tidak seperti biasanya yang bahkan sebelum ayam berkokok pun sudah padat oleh kendaraan yang berlalu lalang, terkesan hiperbola tapi memang apa adanya, mengingat kota yang dia tinggali merupakan kota terpadat di pulau ini.   “Mbak, kita langsung ke salon atau mau mampir ke mana dulu?” pria paruh baya yang sudah memiliki tiga orang cucu namun masih giat bekerja bertanya pada atasannya, seseorang yang saat ini sedang men-scroll layar 5x5 inci dengan ibu jari tangan kanan, tatapannya angkuh tapi tidak pada kenyataannya saat dirinya berbicara dengan seseorang yang sudah dia kenal.   Setelan blus pendek dan celana kain panjang berwarna hitam-putih yang dikenakan terlihat sederhana namun tetap ternilai sedangkan alas kaki yang dia gunakan hanya berupa sandal jepit –ya, kalian tidak salah-, sandal jepit keluaran puluhan tahun berwarna putih dengan tali merah terpakai nyaman di telapak kakinya.   “Tolong berhenti dulu di perempatan depan, Pak. Saya mau beli tisu basah dulu” terdengar ramah berbeda dengan raut wajahnya yang tadi tampak angkuh, sebagai seseorang yang sudah bekerja dua tahun dengan atasannya, Pak Risman sudah kebal dengan ekspresi tersebut. Namun tak terbantahkan bila atasannya adalah seseorang yang sangat baik, contoh satu di antaranya, dengan bersedia membantu ketiga cucunya menempuh pendidikan yang layak.   Kedua anaknya memang masih merantau di negara timur, menjadi tenaga kerja di negeri orang memang tidak mudah, terbukti dengan cucu-cucunya yang ditinggal, satu orang anaknya lagi sudah meninggal, sehingga dirinya dititipkan dengan ketiga menantu perempuan. Ya, ketiga anaknya laki-laki.   Sebenarnya ketiga menantunya ingin membantu perekonomian keluarga mereka namun dilarang keras oleh bapak berkulit sawo matang tersebut. Katanya, “Sebaik-baiknya seorang wanita yang sudah berkeluarga adalah mengurus keutuhan di dalamnya.”   Sebenarnya Pak Risman bukan seseorang yang kolot, namun di era modern seperti ini, pergaulan anak sungguh sangat rentan akan hal-hal negatif, sehingga menjaga dan mengarahkan anak sungguh tugas yang berkali lipat lebih berat dari zamannya dulu.   “Bapak mau titip apa?” pertanyaan terdengar ketika mobil sudah terparkir di depan minimarket. Terbukti bukan bahwa atasannya baik? bukan kali ini namun sering kali dirinya ditawarkan sesuatu yang sebenarnya terasa sungkan apabila mengingat status mereka.   “Makasih Mbak, masih ada botol mineral” tolaknya membuat wanita yang sudah bersiap-siap keluar mobil, menghela napas pelan. Panggilan –Mbak- memang atasannya yang meminta langsung pada seluruh pekerjanya, katanya sih lebih baik daripada mereka memanggil -Ibu-.   Bahkan khusus bagi para pekerja yang sudah berumur, diminta menggunakan suku ganti bapak/ibu untuk menunjukkan mereka, katanya agar sesalah apa pun mereka, dirinya harus mengingat kesopanan pada orang yang lebih tua.   “Penambah ion seperti biasa aja ya, Pak” dirinya tak bisa menolak karena wanita setinggi 165cm itu sudah keluar terlebih dahulu dari mobil dan segera memasuki minimarket di depannya.   -_- = -_-   “Oalah den, gimana ini ban mobilnya bocor?” sopir berkepala plontos mengeluarkan aksen medok, membuat yang diajak bicara tertawa riang di sampingnya, bukannya khawatir akan terlambat sampai sekolah.   “Ya udah, nggak usah masuk aja” jawaban anak berusia tiga tahun lebih beberapa bulan membuat kedua mata sopirnya kaget bercampur khawatir akan nasibnya. `Bisa diamuk bos besar` pikirnya.   “Nggak bisa begitu, bisa-bisa Bapak dipecat, memang den Gasdan tega sama Bapak?” wajah melasnya tidak membuat anak yang menggendong tas ransel bergambar mobil kasihan, malah tersenyum jail.   “Kan bisa cari pekerjaan lagi, mau Gasdan bantu?” tepukan jidat merupakan balasan dari sopirnya sedangkan Gasdan menyunggingkan senyum giginya.   “Jangan bercanda, Den. Pekerjaan ini adalah pekerjaan hidup dan mati saya” jangan salahkan apabila anak kecil di hadapannya suka mengerjai Pak Buno karena sopirnya ini sering kali menghibur dengan tingkah lakunya yang cukup berlebihan.   “Coba nanti Gasdan minta Ayah buat pecat Pak Buno, memang benar Pak Buno bisa langsung meninggal?” pertanyaan polos namun menguji membuat lelaki bertubuh empat kali lipat darinya meringis tanda dirinya sudah salah berucap.   “Lah maksud Bapak bukan begitu. Itu cuma perumpamaan, Den” ucapnya memberi maksud pada anak kecil yang tampak sudah mengeluarkan bulir-bulir keringat di dahinya.   Jelas saja walau pagi masih melingkupi kota ini, tapi posisi mereka yang terhenti di pinggir jalan membuat udara bercampur gas kendaraan bermotor di pinggirnya membuat Gasdan berkeringat.   “Perumpamaan itu apa, Pak?” tanya Gasdan mencoba membuat pembicaraan sepele menjadi bertele-tele.   “Perumpamaan adalah sebuah maksud yang tidak sesuai dengan kenyataan” jelas Pak Buno diakhiri dengan senyum bangga, merasa dia bisa menjawab pertanyaan anak kecil sebaik mungkin.   “Tidak sesuai kenyataan itu apa, Pak?” tanya Gasdan dalam hati tertawa karena dapat mengulur waktu. Jangan pikir Gasdan adalah anak kecil yang tidak tahu apa-apa, dirinya cukup tanggap dalam menangkap penjelasan seseorang dan topik seperti ini sebenarnya hanya untuk membuat Pak Buno melupakan keadaan ban mobil yang bocor.   “Oalah den, tanyanya nanti aja ya, ini tambah kesiangan kalau saya ladenin den Gasdan sekarang” Gasdan tersenyum di awal, lagi-lagi karena aksen medok Pak Buno, namun mendengus di akhir.   Dia pikir Pak Buno bisa diajak bekerja sama agar dirinya tidak usah sekolah hari ini, tapi dengan perginya Pak Buno menyeberang jalan dengan alasan ingin bertanya bengkel terdekat ada di mana, membuat Gasdan cemberut seketika.   Gagal! rencananya.   Beberapa menit setelahnya, Pak Buno belum menampakkan batang hidung membuat Gasdan melepas satu tali tas ransel di sisi kirinya lalu mengedepankan posisi tas ransel sebelum membukanya untuk meraih botol air yang dibekalnya.   “Adik lagi apa di pinggir jalan raya sendirian?” tengguran halus membuat Gasdan yang baru menutup botol air segera menengadahkan wajahnya.   “Itu Pak, tunggu Pak Buno cari bengkel” Gasdan menjawab apa adanya lalu memasukkan kembali botol air ke dalam tas ransel, kemudian menggendongnya lagi dengan posisi yang benar.   “Memang mobilnya kenapa?” Gasdan sebenarnya risih dengan orang yang baru bertatap muka lalu menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang menurutnya tidak perlu ditanyakan oleh seseorang yang tidak saling mengenal.   “Bannya bocor” balasan yang terkesan kesal disambut kekehan lelaki di depannya yang merasakan ketidaknyamanan anak kecil seusia salah satu cucunya.   “Kok ketawa?” sambil mengerutkan kening, Gasdan meminta jawaban.   “Adik lucu mengingatkan saya pada salah satu cucu saya di kampung” lelaki paruh baya di depannya tersenyum hangat ketika mengatakan -cucu- membuat Gasdan menampakkan raut wajah bersahabat walau dirinya tidak tahu lucu seperti apa yang dimaksudkan untuknya.   “Berarti Bapak itu udah jadi kakek-kakek ya?” pertanyaan polos dari Gasdan kembali disambut tawa lelaki di hadapannya, tak menyangka mendapatkan pertanyaan semacam ini. Di sisi lain Gasdan kembali mengerutkan kening, tidak mengerti mengapa lelaki di depannya tertawa.   Setahu Gasdan seorang lelaki yang sudah memiliki cucu itu disebut kakek. Awalnya dirinya menganggap lelaki di depannya seumuran Pak Buno jadi dia menyebutnya –Pak-, tapi karena pengakuan lelaki di hadapannya tadi berarti sebutannya diganti, bukan?   “Kok ketawa lagi? Nggak ada yang lucu, Kek” kesal Gasdan karena dirinya merasa tidak ada yang lucu.   “Karena saya baru pertama kali mendapat pertanyaan seperti itu, dan Adik panggil Bapak lagi juga tak apa biar saya kelihatan lebih muda” Gasdan hanya menganggukkan kepala walau dirinya tidak mengerti balasan di awal kalimat atau lebih tepatnya jadi tidak ingin mengerti.   “Loh, Pak Risman kok di sini?” pertanyaan bermakna teguran membuat lelaki paruh baya di samping Gasdan menampakkan wajah menyesal karena sempat melupakan keberadaan atasannya.   “Maaf Mbak, saya lagi menemani anak ini yang ditinggal sopirnya” atasannya mengalihkan pandangan ke samping Pak Risman.   Anak kecil yang memakai baju kemeja putih polos dengan celana kota-kota merah selutut dan menggendong tas ransel tampak balas memandang wanita itu, entah mengapa melihat kedua pasang mata coklat jernih di depannya membuat hatinya sesaat berdesir.   “Oalah den, maaf saya tinggalin Aden lama, ada yang bilang bengkelnya jauh dari sini terus ada yang bilang dekat dari sini, jadi Pak Buno tanya ke beberapa orang lagi biar nggak salah informasi.”   Suara dengan tarikan napas di setiap penggal kata tersebut menghentikan wanita -dengan kantong belanja berisi tisu dan beberapa minuman di tangan kanannya- memandang lekat Gasdan sedangkan Gasdan lagi-lagi tersenyum geli dengan aksen medok yang didengarnya.   “Jadi jauh atau dekat, Pak?”   “Akhirnya setelah tanya-tanya sama lebih dari lima orang, bengkelnya ternyata jauh dari sini” jelas Pak Buno membuat Gasdan menyunggingkan sedikit senyuman.   “Berarti Gasdan nggak jadi sekolah, Pak. Lagian udah pasti telat” Gasdan mengeluarkan pendapat yang bermakna permintaan, seketika Pak Buno menampakkan raut wajah nelangsa.   “Berarti saya jadi dipecat dong” Gasdan mengangkat bahu sekilas sambil memperlihatkan cengiran gembira.   “Biar kami antar” Pak Buno yang baru menyadari ada dua orang di depannya mengeryitkan kening namun ada harapan di matanya sedangkan Pak Risman sempat terkejut namun tersenyum setelahnya, sangat jauh berbeda dengan raut wajah Gasdan yang seketika memasang wajah tertekuk, cemberut, tak senang. To Be Continued...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD