Suasana di pulau Bali selalu membuat rasa berat untuk ditinggalkan. Tapi kali ini berbeda bagi Aya. Ia sangat berat meninggalkan Bali karena belum siap atau bahkan takut menghadapi kenyataan. Takut Yeslyn akan berhasil menemukan semua fakta akan hal yang ia sedang berusaha keras untuk membantahnya. Kepalanya sangat bising dan ramai. Aya mondar-mandir di kamarnya dengan kedua tangan menekan kepalanya. Terdengar suara ketukan pintu, Aya menoleh terperangah di sana. Ia tak siap dengan apa pun kenyataan. "Sayang, udah siap, katanya mau ke pantai?" tak ada jawaban. "Waktu kita nggak banyak sayang dua jam lagi kita pulang ke Jakarta." Aya menelan salivanya. Berusaha bersikap normal. Berjalan ke pintu kemudian membuka. "Iya sayang, aku udah siap." Memaksa senyumnya. Alex dengan sigap mengunc

