Alexis Sanjaya, dengan perasaan yang hancur berkeping, ia kembali ke rumahnya. Ia tampak gelisah dan putus asa, ia pun melemparkan jas dan juga tas kerjanya asal saja dengan perasaan kesal ketika berada di dalam kamar mewah pribadinya. Kemudian ia berjalan dengan sikap putus asa menuju dinding kaca di sisi depan kamar. Menekan kedua tangannya di sana, kemudian ia memukul beberapa kali dengan tinjunya pada dinding kosong di sana. Vivian dari ambang pintu memperhatikan sikap putranya yang seperti tak biasa. Selama tiga puluh tiga tahun di dalam hidupnya tak pernah terlihat seputus asa seperti sekarang ini. Dia pun segera mendekat, meraih pundak putranya. "Ada apa dengan dirimu, Alexis?" tanya Vivian dengan rasa cemas yang dimiliki seorang ibu kepada putra kesayangannya. "Gadis itu Mam

