19. Ayana

1057 Words

Karena terlalu sibuk dengan pikiran yang ingin memulai kembali penyelidikan tentang kematian sang Kakek ketika ia kecil dahulu, dan masalah pekerjaan yang menumpuk, ia jadi lupa meminta sekretaris untuk memesan hotel. "Baiklah aku datang, apa pun caranya. Akan selalu ada kamar untuk nona Ayana. Lihat saja!" sambil packing ia menggumam. Meyakinkan diri ia pergi dengan pesawat malam ini. Hampir pukul 9 malam, ia tiba di Diamond hotel. Turun dari taksi, kali ini ia tak membawa koper, hanya membawa satu ransel saja, dengan penuh percaya diri ia memesan kamar. "Kamar yang biasanya." Pintanya. "Maaf, tapi malam ini sudah terisi." "Kamar 32?" gertaknya seolah dia anak presiden. "Iya Ibu Ayana. Maaf." "Coba cek sekali lagi, apa masih ada yang kosong." Mengetukkan jarinya. "Maaf sud

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD