Julius - Cewek yang Aneh

1275 Words
"Selamat pagi,” ucap Sam cerah ceria setelah membangunkannya dengan menggosok-gosok kedua pipinya cukup keras. Mood Julius seketika memburuk walaupun sarapan paginya tidak tampak seperti hidangan rumah sakit, rasanya tidak hambar maupun pahit karena kebanyakan obat, bahkan terlihat cukup enak, tapi sebagai gantinya pipinya terasa kebas saat dipakai untuk mengunyah. Dia sempat bertanya-tanya apa cewek itu sebenarnya punya dendam padanya sehingga membangunkannya seperti itu. “Ayo cepat habiskan makanannya, aku akan menemanimu jalan-jalan. Pasti kamu sudah sangat bosan karena harus berbaring seharian di tempat tidur dan menonton Nat Geo Wild dari dua hari lalu. Aku akan menunjukkan area rumah sakit yang nyaman untuk menghabiskan waktu.” Cowok itu menggeleng. “Aku tidak suka jalan-jalan, kamu saja.” “Aku memaksa,” ujar Sam tersenyum penuh arti. “Lagipula dokter yang mengurusmu juga menyarankan agar kamu latihan jalan sebelum pulang besok.” “Aku bisa berjalan, tidak perlu latihan lagi.” Sam terdiam, menatap Julius yang secara perlahan menghabiskan makanan dan minum obat lalu menghela napas, mengabaikan gadis itu yang tidak mengatakan apapun—tidak seperti biasanya. “Nah, sudah selesai kan?” ujar cewek itu. “Ayo coba bangun dan jalan dari tempat tidurmu ke arah pintu keluar tanpa bantuanku. Sekarang.” “Tentu.” Julius mendengus pelan, dia lebih suka menghabiskan waktu di kamarnya untuk menonton para hewan liar berburu hewan lain dibandingkan berjalan-jalan dengan hawa panas dan banyak orang di luar. “Kalau aku bisa, jangan menggangguku lagi dan pergilah sampai besok.” “Sepakat.” Sam segera memindahkan meja khusus untuk dia makan dari tempat tidur lalu memperhatikannya menyiapkan diri untuk menggerakkan tubuhnya yang terasa kaku. Julius melakukannya secara perlahan, beberapa kali meringis ketika memar di tubuhnya membatasi gerakannya hingga akhirnya bisa duduk dengan kedua kaki sedikit menggantung di tepian tempat tidur. Cowok itu menarik napas sebelum memantapkan diri untuk berdiri, berpegangan pada tempat tidur hingga berdiri sepenuhnya. Dia tersenyum puas sambil menatap Sam yang sedikit cemberut, tinggal beberapa langkah saja untuk menunjukkan bahwa dia bisa berjalan seperti biasa. “Jules!” teriakan itu tiba-tiba terdengar saat cowok itu melangkah dan merasakan dirinya limbung, terjatuh dengan posisi bagian tubuhnya yang memar dalam keadaan tidak menguntungkan. Cowok itu terengah kesakitan, sesuatu yang empuk menahan jatuhnya hingga tidak semenyakitkan yang dibayangkan sebelumnya. “Sam.” Cowok itu terkejut saat melihat apa yang sudah menahannya dan segera menyingkir ketika melihat gadis itu juga meringis pelan. “Aku tidak apa-apa, hanya kaget.” Gadis itu tersenyum seakan tidak terjadi apa-apa dan malah menatapnya dengan pandangan cemas, memperhatikan seluruh tubuhnya yang terbalut baju rumah sakit. “Apa ada yang terasa sakit?” Julius tidak menjawab, tangan cowok itu bergerak untuk menyentuh lengan kanan Sam yang langsung bergidik setelah dia pegang. “Kamu terluka.” Cewek itu menyingkirkan tangannya dengan lembut lalu menggerak-gerakkan tangannya yang terluka tadi dengan semangat. “Lihat, aku tidak apa-apa. Percayalah.” “Tapi ta—” “Tidak apa-apa,” ucap Sam memotong sanggahan cowok itu. “Lagipula kamu tidak bisa memenuhi tantanganku tadi kan? jadi sekarang ayo jalan-jalan denganku. Aku akan membantumu berjalan.” Cowok itu menghela napas pasrah, merasa kalah hanya dengan sedikit berdebat dengannya. Dia yakin sekali jika Sam sempat terlihat kesakitan saat dia menyentuh lengan gadis itu, tidak mungkin kalau beberapa saat kemudian cewek itu menggerakkan salah satu anggota tubuh yang menahan jatuh mereka seakan tidak pernah terjadi apa-apa. “Ayo.” Mereka berjalan berdampingan menuju lift rumah sakit. Dia tanpa sadar memperhatikan cewek itu yang aktif menyapa beberapa perawat dan dokter yang lewat di koridor selama mereka menuju ke halaman rumah sakit yang kemudian disapa balik. Sam sudah jelas sangat mudah bergaul dari tindakannya itu, sangat berbeda dengan dirinya yang sekarang. Ketika mereka tiba di tempat yang diarahkan oleh gadis itu, Julius terlihat terkesan dengan taman yang cukup luas dan terasa sejuk itu, dengan berbagai pohon dan tanaman, juga tempat duduk panjang di sejumlah tempat. Beberapa pasien bersama perawat maupun pendamping mereka juga terlihat berada di sana, membuat taman itu ramai dengan kehidupan. Sam menuntunnya ke sebuah pohon besar yang rindang. Dia dapat melihat sebuah kain kotak-kotak yang biasa dipakai untuk piknik diletakkan di sana dengan batu-batu di setiap sudut untuk menahan kain itu dari terpaan angin. Ada sebuah selimut dan plastik kecil berisi kudapan di atasnya. Tidak perlu bertanya-tanya lagi karena Julius sudah tahu kalau itu adalah tempat yang diinginkan gadis itu untuk menghabiskan waktu. “Akhirnya ... sampai!” seru cewek itu dengan suara lega yang tidak disembunyikan. “Kamu ternyata lumayan berat untuk ukuran cowok kurus.” Julius tidak menjawab dan hanya menyandarkan tubuhnya ke pohon yang berada di belakangnya, menikmati semilir angin yang berhembus dan cahaya matahari yang sedikit merembes dari celah dahan. Dia merasa cukup lelah dengan berjalan ke taman ini meskipun sudah dibantu oleh cewek itu dan tidak ingin melakukan apapun kecuali berdiam di sana untuk selama beberapa saat. “Area ini benar-benar nyaman kan?” tanya Sam, ikut bersandar di pohon itu dan menatap ke arah orang-orang lain dengan sedikit menerawang. “Aku suka ke sini ketika kamu sedang tidur atau saat kamu beberapa kali menyuruhku minggat karena terlalu berisik. Di sini sangat tenang, sejuk dan bahkan aku masih bisa mengawasimu dari sini, perawat yang masuk kamar lebih tepatnya, jadi aku bisa tahu kapan bisa kembali ke kamar di waktu yang pas. Melihat pasien-pasien lain tampak menikmati suasana di sini juga sangat menyenangkan, mereka terlihat bahagia walaupun menderita penyakit.” Cowok itu sedikit membuka matanya untuk melihat arah pandang Sam. Seorang kakek dengan kepala botak duduk di kursi roda dengan seorang perempuan dewasa mendorong kursi roda itu mengelilingi taman secara perlahan. Wajah kakek itu tidak terlihat terlalu jelas, tapi sekilas Julius dapat melihat senyuman kakek itu ketika perempuan itu berbicara kepadanya. “Kakek itu buta karena suatu penyakit, aku lupa nama persisnya, tapi dia sangat senang ketika anaknya—perempuan yang mendorong kursi roda itu—mengajaknya berjalan-jalan dan menceritakan pemandangan yang ada di taman untuk bisa dinikmati juga. Sederhana ya? cara kakek itu merasa bahagia sekaligus hidup dengan kekurangan yang dimilikinya. Aku iri padanya.” “Apa maksudmu?” tanya cowok itu ketika mendengar suara Sam yang semakin lirih di kalimat terakhir. Sam tersenyum lalu mengangkat bahunya. “Aku hanya iri padanya, memang tidak boleh?” Julius merapatkan mulutnya tidak suka, dia hanya merasa sedikit penasaran dengan cewek itu, tapi cewek itu malah terang-terangan mengelak dari pertanyaannya. “Kenapa kamu menjawab pertanyaanku dengan pertanyaan?” “Kenapa kau bertanya?” tanya cewek itu lagi. Cowok itu mulai kesal. “Apa kamu sedang bercanda?” “Aku suka bercanda denganmu.” Julius tidak menjawab dan cewek itu langsung tertawa keras melihat ekspresi menahan kekesalan yang terlihat sangat jelas pada wajah Julius. “Astaga, kamu lucu sekali,” ujarnya masih tertawa sebelum berdehem beberapa kali. “Jangan terlalu serius begitu, aku jadi suka mengisengimu seperti ini nanti.” “Jadi begini sifat aslimu.“ “Huh?” Sam tampak bingung saat mendengar ucapan cowok itu sebelum melihat wajah Julius yang sudah mengganti ekspresi yang tidak diduganya. “Tunggu, apa kamu sedang merajuk padaku? Astaga, kamu jadi lebih jujur dibandingkan saat kita pertama kali bertemu.” “Kamu salah paham. Aku hanya....” Julius menghentikan ucapannya, tidak tahu harus mengatakan apa untuk melengkapi kalimat yang diucapkannya tadi. Cewek itu menatapnya lekat dengan pandangan bertanya yang membuatnya kebingungan lagi. “Lupakan saja,” ujar cowok itu akhirnya, memejamkan mata untuk menghindari tatapan Sam yang masih penasaran. Dia mendengar helaan napas ringan Sam dan sebuah selimut yang terhampar di tubuhnya. Walaupun tidak sedang menatapnya, cowok itu tahu kalau Sam sedang tersenyum melihatnya, entah karena apa. “Tidurlah, Jules. Aku akan membangunkanmu lagi nanti supaya kita bisa berjalan-jalan lebih jauh dari tadi. Kamu bisa menantikannya.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD