Sam merasa sedikit kesepian karena tidak ada yang mendatanginya selama beberapa hari. Rafael biasanya akan menyusup ke apartemennya untuk sekedar beristirahat atau memintanya untuk membelikan keripik kesukaannya. Bukan berarti dia suka jika atasannya itu datang dan menyuruhnya hal sepele terus menerus, tapi malaikat itu bisa memberi saran pada situasinya sekarang.
Setelah percakapannya dengan Julius, ada banyak hal yang menjadi pikirannya sekarang, terutama soal cowok itu yang tetap diam meskipun sudah diperlakukan sedemikian rupa oleh ketiga orang itu dan bahkan menganggap perlakuan mereka sebagai hal yang wajar.
Sam harus mencari tahu hal yang menyebabkan Julius seperti itu, tapi tidak tahu harus memulai dari mana. Dia bisa saja mulai bertanya dari Casey maupun Paul, tapi keduanya terlalu dekat dengan cowok itu sehingga bisa saja mereka memberitahu Julius tanpa sengaja.
Cewek itu akhirnya memutuskan untuk mengawasi keadaan lebih dulu dan melihat apa saja informasi yang bisa dia dapatkan mengenai situasi yang harus dia hadapi, tapi… tidak ada.
“Oh, tumben kamu ke sini? Peringkat atas kita yang terhormat.”
Sam hanya menghela napas dan duduk, mengabaikan pujian seseorang di hadapannya yang terdengar menyindir. “Aku pesan yang seperti biasa.”
“Kali ini tubuhmu lebih muda, memang tidak apa-apa? Aku tidak ingin mengacaukan pekerjaan orang lain karena aku mengharapkan hal yang sama dari semua orang yang datang ke sini.”
“Aku hanya akan minum satu gelas, tidak lebih.”
Sam tidak berminat menanggapi ucapan dari orang itu dengan berlebihan sehingga menjawab apa adanya. Mengingat kalau seseorang di hadapannya itu adalah referensi untuk keberisikannya, dia jadi bisa bersimpati dengan Julius saat awal-awal mereka bertemu.
“Baiklah.” Seseorang itu akhirnya mengangguk setelah memperhatikannya lebih lama. Dia sepertinya sudah menilai kalau Sam memang membutuhkan minuman dan segera meraciknya. “Ini.”
“Terima kasih.”
“Jadi, ada apa? Kamu kan hanya ke sini kalau benar-benar sudah buntu.”
Cewek itu menghela napas. “Aku mendapat seseorang yang sangat tertutup. Aku memang sudah mengetahui segala hal yang tercatat mengenai kelakuannya, tapi tidak ada catatan mengenai apa yang dirasakannya selama ini.”
“Yang terakhir memang akan menjadi perjalanan yang lebih sulit.”
“Aku tahu.” Sam menyesap sedikit minumannya lalu memutar gelasnya sambil termenung. “Aku hanya ingin dia lebih terbuka karena semua orang yang kuawasi sebelumnya selalu lebih mudah untuk membuka diri.”
“Mungkin saja dia hanya butuh waktu. Kalau melihat penampilanmu sekarang, pasti dia juga seusia dengan tubuhmu. Masa-masa menuju kedewasaan.”
Sam hanya diam. Setelah memperhatikan Julius selama ini, dia jadi mengetahui kalau cowok itu sudah bertahan dengan sebaik mungkin, tapi cowok itu juga terlihat seperti seseorang yang belum melepaskan sesuatu dari masa lalunya sehingga belum mampu untuk melangkah maju.
Cewek itu menjadi terburu-buru karena ingin segera membebaskannya, tapi dia jelas tidak boleh melakukannya seperti itu.
Sam kembali menghela napas dan menangkup wajahnya. Minumannya sepertinya sudah memberikannya pengaruh sehingga Sam secara perlahan menjadi lebih rileks dan kepalanya terasa ringan, seperti melayang.
“Kamu sudah mabuk.”
Cewek itu tidak menyangkalnya. “Aku minta air lemon, aku harus segera pulang karena besok masih ada jadwal kuliah.”
“Mau aku antar?” tanyanya sambil meletakkan minuman yang baru dipesan Sam. “Ini sudah tengah malam.”
Sam tersenyum miring, menghabiskan air lemon itu dalam beberapa teguk sebelum berdiri. “Jangan ikut terpesona dengan tampilan luarku, aku sangat mampu menjaga diri.”
“Baiklah, aku hanya berkata begitu supaya kamu bisa menghemat ongkos,” ujarnya terdengar cuek. “Tempat tinggalmu sekarang jauh dari sini kan?”
Cewek itu tiba-tiba terdiam dan mengubah pikirannya. “Tolong antarkan aku.”
“Oke.”
.
Berkat air lemon yang sempat diminum tadi malam, pagi hari Sam tidak terlalu buruk. Dia hanya perlu minum air sebanyak mungkin dan sarapan seperti biasa sebelum bersiap ke kampus bersama Julius.
Selama beberapa hari terakhir, mereka tidak pernah melewatkan waktu untuk berangkat dan pulang bersama. Cowok itu juga tidak pernah menolak kehadirannya walaupun kadang terlihat ingin mengusirnya saat mereka sedang berjalan berdua di luar kelas, seakan takut ada yang menangkap basah mereka bersama.
Julius tahu-tahu saja mengajaknya untuk mendaftar ke klub jurnalistik dan akhirnya dia mengikuti wawancara tanpa persiapan sama sekali, sekarang mereka hanya perlu menunggu keputusan mengenai penerimaannya di klub jurnalistik. Sam merasa terkejut dengan betapa cepatnya cowok itu melaksanakan keinginannya.
“Kira-kira kapan Louisa memberitahu mengenai penerimaan anggota baru?”
“Paling lama seminggu, tapi karena dia sepertinya menyukaimu, mungkin besok kita bisa mengetahuinya.”
Sam menatap cowok itu, berusaha mencari tahu hubungan apa yang sebenarnya dimiliki mereka sehingga dia bisa mengenal cewek itu dengan baik. “Kalian sepertinya pernah dekat.”
“Siapa?”
“Kamu dan Louisa. Bagaimana kamu bisa tahu kalau dia menyukaiku?”
Cowok itu terlihat ingin menyembunyikan sesuatu darinya, tapi nyaris gagal karena kegugupan yang terlihat dari raut wajahnya. “Kamu bisa membuat siapa saja menyukaimu, kamu kan yang paling mengetahui hal itu.”
“Hm, aku memang tahu…”
Sam berharap kalau dia tidak melihat ekspresi Julius saat dia mengatakan itu.
.
“Halo, Sam.”
Sam membalas senyum Louisa yang mendatanginya ke kelas. Dia sedikit terkejut hingga tidak perlu berpura-pura menghadapi cewek itu. “Halo, Louisa! Kalau kamu datang ke sini… apa berarti aku sudah diterima?”
Gadis itu mengangguk bersemangat. "Tapi kami akan mengetes kinerjamu dulu selama seminggu untuk menentukan bagianmu. Tidak masalah 'kan?"
“Tidak masalah, aku akan memanfaatkan waktu dengan baik.”
Louisa menyetujuinya. Mereka menoleh ke arah Julius yang masih memperhatikan buku catatannya dan mengerjakan sesuatu. “Aku pinjam dia sebentar ya.”
“Iya, selamat bersenang-senang,” ujarnya tanpa menoleh.
Sam ingin mengatakan sesuatu pada cowok itu, tapi mengurungkan niatnya begitu Julius memasang headphone dan Louisa mulai menariknya menuju ruang jurnalistik. Di dalam, ruangan itu masih terlihat sepi dan berantakan dengan tumpukan kertas dan berbagai alat tulis. Di sebelahnya terdapat halaman dinding yang dipenuhi kertas warna-warni yang ditempeli dengan pin, beberapa garis dan keterangan juga terlihat menghiasi halaman dinding hingga terlihat sangat penuh coretan.
“Aku harap kamu memaklumi kondisi ruangan kami yang berantakan, akhir-akhir ini kami sibuk sekali sehingga tidak sempat membereskan,” ujar Louisa terdengar menyesal dan mengajaknya ke meja yang menjadi tempat wawancaranya kemarin. ”Kamu mau minum?"
Sam mengangguk, tatapannya masih terpaku pada tulisan acak-acakan yang tersaji di hadapannya. "Apa ini salah satu artikel untuk buletin kalian?"
"Iya, yang kamu lihat sekarang adalah artikel yang belum diperiksa. Kalau sudah biasanya sudah akan diurus oleh tim yang mencetak buletin."
Cewek itu mengangguk, tampak kagum dengan kerja keras mereka dalam mengumpulkan informasi. Tatapannya kemudian beralih pada papan lain yang ditempeli beberapa foto, diantaranya sudah terlihat agak menguning dan melebur dengan potongan artikel koran.
"Ini." Louisa tiba-tiba saja sudah berada di sebelahnya dan menyerahkan kaleng coca-cola dingin. "Sepertinya kamu tampak menikmati untuk melihat-lihat tempat ini."
"Kelihatan ya? Tempat ini memang menarik, seperti yang kamu bilang."
Dengan berada di sini, mungkin saja dia bisa mendapatkan lebih banyak informasi mengenai orang-orang itu dan sedikit jarak dari Julius. Sam tidak boleh membiarkan dirinya terseret dalam masalah cowok itu dan mempertahankan kenetralannya sebagai pihak ketiga.
Walaupun akan sulit, cewek itu merasa akan menikmati arah pergerakannya yang agak berbeda.
“Aku senang karena bisa menerima anggota baru lagi di klub ini," ujar Louisa, raut wajahnya terlihat tulus. "Mahasiswa lain di angkatanmu sepertinya sudah mundur duluan karena tahu beban pekerjaan klub yang tidak sepenuhnya bersenang-senang, mereka lebih suka bergabung di klub kesenian atau pemandu sorak meskipun sebenarnya kedua klub itu tidak jauh berbeda dengan di sini.”
Sam mengangguk mengerti. “Mungkin mereka menganggap kalau di sini tidak ada bedanya dengan mengerjakan tugas kuliah.”
“Bisa jadi,” ujarnya tertawa. “Tapi… kamu tidak usah khawatir. Kami tidak akan memberikanmu bagian yang sulit atau harus mengerjakannya sendirian, pasti akan ada senior yang membantu jika kamu kesulitan, termasuk aku.”
“Terima kasih, ucapanmu membuatku lega.”
Mereka kembali mengobrol sambil membicarakan tugas pertama yang akan diambil oleh Sam selama masa percobaannya. Dia sudah menantikannya.