Part 19

1023 Words
Bisikan demi bisikan menggema di seantero Sekolah Sebum kala melihat ayahnya Kila yang juga merupakan pemilik gedung sekolah datang. Biasanya pria paruhbaya itu tak pernah berkunjung sama sekali kecuali, saat penerimaan rapot semua murid. Dengan langkah buru-buru, rahang yang mengeras serta wajah sangar Edwin memasuki kelas tempat di mana Abian berada di sana. Dia sangat kesal ketika mendengar anak putrinya dipukuli. Apa hak anak laki-laki itu sampai berani berbuat seperti itu? Edwin sangat tidak terima. Dirinya saja tidak pernah memukul kedua anaknya sama sekali. Edwin mendidik Alden dan Kila dengan perkataan tegas. Itu saja. Dia tidak pernah melayangkan pukulan sama sekali. "PUNYA HAK APA KAMU SAMPAI-SAMPAI KAYA GITU KE ANAK SAYA!" demi apapun, Edwin tidak bisa mengontrol emosinya saat berada tepat di depan Abian. Braak Meja dipukul keras oleh tangan pria paruhbaya tersebut. Sebagian murid yang ada di sana terlonjat karena kaget. "Saya sudah panggil orangtua kamu. Saya pastikan akan mengeluarkan kamu dari sekolah ini." mata yang penuh kebencian sekaligus berapi-api tersirat dari kedua netra Edwin. Abian menunduk dengan penuh penyesalan di dalam hatinya. Dia telah membuat ibu serta ayah angkatnya kecewa. Tapi, bagaimanapun juga, dia sama sekali tidak merasa bersalah. Kenapa Gadis bernama Kila itu ikut campur ke dalam urusannya dengan Dasha? Namun, untuk saat ini dia harus mengalah terlebih dahulu agar keadaan tidak memburuk. "Ma-" Plakk Satu tamparan membuat kedua mata Abian mulai berkaca-kaca. Cowok cengeng. Mungkin itulah kata yang pantas untuk Abian saat ini. "Maaf ke anak saya. SEKARANG!" suara berat sekali lagi menggelegar membuat seisi kelas merinding tatkala mendengarnya. Plakk "Tamparan itu buat luka lebam anak saya. Masih tersisa tiga tamparan lagi." Dan setelah mengatakan itu, Edwin memukul Abian sesuai apa yang dikatakannya barusan. Tidak ingin kena lampiasan, seisi kelas duduk terdiam sembari melipat tangannya di meja. Tak ada yang berani membela Abian. Ada pula merasa ngilu menyaksikannya. Keadaan Abian sama persis dengan kondisi Kila masa itu. "Ayah!" sergah Kila. Ia berlari cepat mendekati Ayahnya. "Jangan begitu, Yah. Biar orangtua dia yang ngasih pelajaran." lanjutnya memohon. Edwin sontak terhenti. "Reputasi Ayah bisa hancur kalau Ayah kaya gini." ujar Kila. Edwin jadi teringat akan hal itu. Perlahan dia bangun sembari dituntun oleh anak pertamanya tersebut. Kila menggandeng Ayahnya keluar dari kelas. Baru kali ini dia melihat sisi lain yang ada pada dalam diri Ayahnya itu. Merasa sudah aman, Dasha manghampiri Kekasihnya tentunya dengan kedua mata yang basah. "Sa-sayang..." Abian mendecih seakan-akan jijik mendengar kata yang diucapkan oleh Dasha. Ia menepis tangan Dasha yang hendak menyentuh pipi yang kini mungkin sudah berwarna keungu-unguan. Walaupun sudah diberi tatapan tajam, Dasha tetap tidak beranjak dari dekat Abian. Ia justru tersenyum simpul. "Kita ke UKS yuk," "Gak! Gue bisa sendiri." "Yakin? Dasha lihat tulang kering Abian tadi ditendang sama Om Edwin. Sekarang udah nggak sakit lagi?" "Nggak." jawab Abian memalingkan muka. Dasha berdiri. Banyak mata yang sedang menyaksikannya saat ini. Ia tidak mau dipermalukan di depan umum. Tanpa berkata apapun lagi, Dasha pergi dari tempat tersebut. Kini Abian harus berjuang sendiri untuk duduk di kursi miliknya. Seketika ia meringis kesakitan. Kaki kanannya terasa amat nyeri. Tangan kanannya sekarang memegang erat meja untuk menjadi tumpuan tubuhnya. Sekali lagi Abian mencoba berdiri, namun tetap rasa nyeri mendera. Bukannya menolong, seisi kelas malah meninggalkan Abian sendirian. "s**l!" umpat Abian. "Butuh bantuan?" *** "Mana mungkin anak saya ngelakuin hal seperti itu, Pak?" "Kami sudah mendidik Abian dengan penuh kasih sayang sejak kami adopsi dia dari panti asuhan," Begitulah perkataan orangtua angkat Abian. Kenyataan seperti ini sangat tidak bisa diterima oleh Mereka berdua. "Lihat luka lebam di pipi anak saya?" tanya Edwin sekilas melirik Kila yang duduk di sebelahnya. "Ya, tapi..." "Anak kalian sikapnya memang seperti itu. Jika kalian mengira saya berbohong, silahkan tanya ke murid-murid yang ada di sekolah ini." jelas Edwin dengan nada tenang padahal hatinya sedang panas. "Kalau anak anda meminta maaf secara langsung pada anak saya, maka putra kalian tidak akan dikeluarkan dari sekolah ini." "Baiklah. Abian akan meminta maaf pada anak Anda sekarang," Damar beranjak dari tempat duduknya. Kebencian yang ada di dalam hatinya sejak Abian kecil kini bertambah. Helmi mengikuti suaminya untuk berjaga-jaga agar Abian tidak dipukuĺ. *** "MINTA MAAF KE ANAK ITU!" Plakk "Mas, udah mas. Aku mohon. Kasihan Abian," pinta Helmi yang sama sekali tidak dihiraukan oleh Damar. "Aku nggak akan minta maaf sama anak itu." Abian tetap kekeh pada perkataannya walaupun sudah berkali-kali digampar ayah angkatnya. Plakk "Saya menyesal udah ngadopsi kamu. Andaikan waktu itu kami punya anak, saya nggak bakal ngadopsi anak brandal kaya kamu." ujar Damar penuh penekanan. "Ayah selalu ngomong begitu. Ayah nggak tau kejadian sebenarnya. Cewek itu terlalu ikut campur dalam urusan aku sama Dasha. Abian nggak suka. Jadi Abian terpaksa bermain kasar biar dia kapok." Plakk "Jangan panggil saya ayah! Saya udah tau kalau kamu main kasar juga ke Dasha. Kamu tau apa akibat dari kejadian ini, huh? Perusahaan saya jadi terancam!" kata Damar tanpa ada rasa kasihan sedikitpun pada Abian. "Mas, yuk kita pulang, Mas. Ada beberapa murid yang mengintip kita dari tadi." Helmi menilik ke arah murid yang sedang asik menyaksikan pertengkaran suami dan anaknya tersebut. Walaupun Mereka sekarang berada di halaman belakang sekolah, tapi tetap saja. "Diam." Tegas Damar. Helmi sukses dibuat tak bisa berkata-kata. "Sekarang kamu harus minta maaf ke anak itu. Kalau nggak, jangan pulang ke rumah saya!" ancam Damar. Setelah mengatakan itu, ia berlalu begitu saja. Sedangkan Helmi menghampiri Abian, kemudian membawa anak angkatnya ke dalam dekapannya. "Kamu nggakpapa, nak?" tanya Helmi. Abian menggeleng pelan. Helmi melepaskan pelukan. "Pipi kamu..." hatinya merasa teriris kala melihat wajah Abian yang penuh luka lebam. "Kamu cepat minta maaf ke anak itu, nak. Sebelum ayah kamu memukulimu lagi." saran Helmi. *** "Gue minta maaf." Abian menunduk. Edwin yang menyaksikannya lega, tapi kebenciannya masih utuh. Kedua netra cokelat Damar tak lepas mengamati Abian. Perasaan Helmi menjadi tenang. "I-iya. Gue maafin." Kila gugup. Rasa trauma masih ada. Terlebih lagi, rasa linu terasa ketika ia tersenyum dan berbicara. *** Bel istirahat berbunyi. Kila menuju ke perpustakaan, tempat yang biasa digunakan Naufal untuk mengajarnya. Namun, masalahnya adalah sejak pagi satu helai rambut Laki-laki itu tidak kelihatan sama sekali. "Dia di mana ya?" gumam Kila. "Naufal nggak masuk."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD