"Terlalu percaya diri sekali kamu," Cetus Melly sedikit mendorong Ivan, agar tubuhnya yang berada dalam rengkuhan lelaki itu terlepas.
Ivan tertawa kecil. Tiba-tiba dia mendekat lagi, menyibakkan rambut Melly, lalu menyentuh pipi perempuan itu.
"Kamu cantik juga, kalau dilihat dari dekat kayak gini."
Melly tersenyum kaku. Jantungnya serasa ingin keluar dari tempatnya karena debaran itu kembali tak beraturan. Dan seakan-akan merasa detak itu akan berhenti sendiri saat Ivan kembali mengecup lembut bibirnya.
Mata Melly membulat, tapi dia hanya bisa diam terbuai, oleh rasa dan sentuhan yang begitu lembut menyiratkan akan ketulusan perasaan lelaki itu. Melly tersadar, dengan cepat dia mendorong d**a bidang Ivan.
"Mau kamu apa sih?" Sentak Melly dengan mata yang menyalak tajam.
Bukannya takut, Ivan justru terkekeh. "Makin galak ternyata. Tapi tetap manis. Aku suka,-"
"Cukup, Van. Aku minta kamu bisa bersikap profesional, kita udah nggak punya hubungan apapun. Dan tentang perasaanku, cukup aku yang tahu. Kamu tidak perlu memikirkan itu. Anggap saja kemarin itu adalah kebodohanku."
"Nggak bisa gitu, dong..."
Dahi Melly menyernyit, bingung, dengan tingkah lelaki yang ada di hadapannya itu.
"Kamu harus jadi kekasihku,"
"Dasar lelaki aneh! Pemaksa!"
Umpat Melly hanya dia dengungkan di dalam hatinya saja, sembari terus menatap wajah lelaki yang ada dihadapannya itu. Apa dia sedang membuat lelucon? Melly tersentak kaget saat bahunya di sentuh oleh Ivan, yang membuyarkan sedikit lamunannya.
"Jangan mengumpatku. Aku mau kita seperti kemarin,-"
"Maksud kamu?" potong Melly dengan pertanyaan. Jujur saja, saat ini dia terlalu bingung akan perasaannya. Entah mengapa hatinya menjadi gamang?
Terdengar decakan kecil dari bibir Ivan. "Gitu aja masih tanya. Aku mau kamu jadi pacarku. Kamu nggak boleh nolak dan mangabaikan aku.
"Aku nggak mau? Kenapa maksa? Dasar manusia aneh."
"Ini bukan paksaan. Tapi ini lebih kepada...." Ivan menjeda kata-katanya, dia berpikir sejenak sebelum melanjutkan ucapannya itu. "Seperti sebuah peraturan yang harus kamu terima dan kamu jalani."
"Sama saja, kamu maksa aku."
Ivan hanya mengedikkan bahunya. "Terserah apapun itu." Lelaki itu kembali duduk di bangku kebesarannya menelisik ditiap lembaran kertas yang ada pada map.
Melly masih tak bergeming, dia masih berdiri di posisi semula dengan tatapan bingungnya. Ada apa dengan perasaannya?
Melirik sekilas pada Melly."Ada apa?" Tanya Ivan, yang tidak ada sahutan dari melly. "Mel, apa kamu nggak cape berdiri terus?" Sambungnya yang belum direspon oleh perempuan itu. "Atau kamu mau duduk dipangkuanku?" Menaik turunkan alisnya ke arah Melly, sembari memberikan senyum tipisnya.
"Dasar bos mesum."
***
Hari minggu adalah hari santai untuk perempuan bermata sipit pemilik nama Melly Kemala Deviyanty. Bangun siang, minum kopi, sarapan. Kembali bermalas-malasan dan rebahan, sembari membaca novel online lewat aplikasi berbayar, hingga menjelang malam sebelum keesokan harinya dia kembali disibukkan dengan rutinitas kantor.
My bos Is Calling....
Suara benda pipih yang berada di atas nakas berdering tanda panggilan masuk, seiring dengan getaran pada ponsel itu terus bergerak meminta sang pemilik untuk segera mengangkatnya.
Melly mendesah, sudah di pastikan itu adalah atasannya yang tak lain adaah Ivan. Karena dia telah menyetel nada dering itu berbeda dengan suara panggilan yang lain.
Melly abaikan suara itu, hingga berhenti sendiri. Hari ini dia tidak mau di ganggu oleh siapa pun. Tapi, kembali suara itu berbunyi membuat si empunya ponsel itu berdecak sebal.
"Halo..."
"Mel, kamu ke apartment aku secepatnya,-"
"Nggak bisa, Pak. Kan ini hari libur saya." Potong Melly ucapan atasannya itu. Dia sudah sangat lelah bekerja dalam seminggu. Jadi, boleh kan, di hari minggu ini dia bebas berleha-leha di rumah.
"Saya tidak mau ada bantahan, kamu harus datang ke apartment aku sekarang juga."
Panggilan itu terputus begitu saja oleh orang disebrang sana, yang membuat Melly kesal.
"Ya Tuhan... begini banget cari uang...." Teriak melly menatap langit-langit kamar, tak lama kepalanya dia gelengkan dengan cepat. "Dasar bos ngeselin...." Teriaknya kembali dengan kesal, sembari memukul dan menghentakkan kaki juga tangan ke atas kasur, karena posisi dia saat itu tengah tidur terlentang.
Cukup dua puluh menit bagi Melly bersiap. Memakai pakaian santai dia bergegas meraih kunci mobil juga tas selempangnya yang berada di atas nakas.
Melly keluar dari dalam rumah, tak lama pintu itu dia kunci langsung menuju rumah Tati yang berada di depan rumah peninggalan sang ayah.
"Mbak, Tati... mbak..." panggil Melly seiring ketukan tangan yang menyentuh daun pintu.
Beberapa kali di ketuk, terdengar sahutan dari dalam, seiring menyembulnya perempuan yang tengah memakai daster bermotif bunga-bunga.
"Eh mbak, Melly.... ada apa, Mbak? Mbak Melly mau pargi?"
"Iya, saya titip kunci!" Memberikan kunci pada Tati, yang langsung diterima sekaligus anggukan kepala. Melly bergegas pergi manuju apartment Ivan dengan mengendarai mobil miliknya sendiri.
Jalanan cukup lenggang, karena ini bukan di jam kantor. Setengah jam mobil yang dikendarai Melly sampai di basemant gedung apartment. Melly keluar dari dalam mobil menuju lift untuk naik ke lantai sembilan gedung tersebut.
Berdiri di depan unit apartment, Melly menekan bel, tidak lama pemilik itu keluar dan menitah Melly untuk masuk ke dalamnya.
"Cepat sekali kamu datang. Pasti udah nggak sabar mau ketemu aku." Ucap Ivan percaya diri sembari berlalu masuk ke dalamnya.
"Terlalu percaya diri." Gumam Melly menutup pintu, sembari mencebikkan bibirnya. "Kebetulan jalanan nggak terlalu macet di jam libur seperti ini." Terangnya kemudian.
"Saya ingin masakan kamu,"
"Hah!"
"Saya rindu masakan kamu. Udang asam manis, sepertinya enak. Kamu bisa kan membuatkannya untukku."
Melly mendesah, sungguh dia sangat sebal dengan lelaki yang ada di hadapannya dia sekarang ini. Apa tidak bisa, lelaki itu membiarkan dia menikmati hari liburnya, barang sehari saja.
"Kok kamu diam saja? Apa kamu keberatan membuatkannya untukku?"
"Eh, nggak kok." Jawab Melly cepat.
"Jadi gue disuruh datang cuma buat masak, padaha bisa kan dia beli online." Rutuk Melly di dalam hati.
"Ya sudah, kamu buat kan sekarang."
Lelaki itu berbalik badan, berlalu meninggalkan Melly yang tengah berdiri dengan muka masamnya. Ivan menyunggingkan senyum tipis, melangkah menuju kamar.
Musnah sudah harapan dan niat hati ingin membenci juga melupakan lelaki itu. Nyatanya, dia malah terjebak dengan keadaan yang semakin hari membuat dia semakin lebih dekat dengan Ivan.
Melly memulai dan menyiapkan bahan masakan. Terlebih dahulu dia memasak nasi secukupnya. Dia pun akan memasak udang asam manis kesukaan lelaki itu. Menambahkan tumisan tempe dicampur dengan kacang panjang, sebagai pelengkap makan siang Ivan kali ini. Biarlah, setelah selesai dia akan kembali pulang ke rumah.
Masakannya telah selesai, semua sudah dia hidangkan di atas meja. Tinggal menunggu beberapa menit lagi, nasi yang dia masak tadi akan segera matang. Melly membuka kulkas, lalu mengambil botol berisi air dingin. Menuangnya pada gelas yang sudah dia ambil tadi, lalu dia minum.
Melly menegang kala tangan kokoh itu merengkuh tubuhnya dari arah belakang. Dia merasa kembali dejavu dengan posisi seperti ini. Kesadarannya kini kembali pada saat ini. Melly menaruh gelas yang telah kosong di atas meja Pantry mencoba melepas tangan yang sejak tadi dia biarkan berada pada perutnya.
"Van, lepas."
"Hanya sebentar..." bisik Ivan di telingan Melly dengan suara parau.
"Van..." Dalam pejaman mata, Melly kembali memanggil Ivan.
"Kamu tidak merindukanku, hemm?" bisik Ivan ditelinga Melly, yang kemudian dia hadiahi dengan sebuah kecupan di sana.
Seketika pori-pori di tubuh Melly meremang. Kecupan itu bagai sengatan listrik berdaya ribuan volt. Kedua kalinya mata Melly terpejam. Susah payah dia melawan keinginan tubuhnya yang menghianati hati ingin menolak. Ingin dia maki tubuh itu yang malah menikmati sentuhan lelaki itu. Entah kenapa, Melly merasakan kenyamanan saat dalam pelukan ini.
Bukannya melepas, Ivan malah semakin merekatkan pelukannya. Dia tumpukan dagu di bahu mulus yang tertutup kaos yang dipakai Melly.
Susah payah Melly seret selavinanya untuk turun. Hangatnya napas bercampur aroma mint dari mulut Ivan menggelitik leher jenjangnya. Bagaimana sapuan bibir itu saat mengecup di sana dengan begitu lembut. Mata sipit itu kembali terpejam menikmati sensasi memabukkan. Darahnya berdesir, dengan jantung yang berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya.
Saat itu juga Melly tersadar, teringat bagaimana sikap Ivan pada malam itu.
"Lepaskan aku, Van."