Chapter 19

911 Words
Kenangan yang indah, akan membawa hal indah di masa sekarang. Kenangan yang indah, akan memaafkan duka yang pernah ada. Kenangan yang indah. *** Tadinya Kayonna yang terlalu kesal juga marah atas kelancangan Saga karena tiba-tiba masuk dan melihat ke sekeliling, memutuskan untuk mengabaikan pria berjas cokelat itu. Ia ingin menenangkan diri karena emosi yang terkuras. Tubuhnya sudah dihempaskan di atas tempat tidur. Hatinya pedih, tidak suka gua kecilnya diketahui orang lain, terlebih Saga. Ini seperti privasinya diterobos begitu saja. Begitu marahnya, ia tak bisa memejamkan mata dan tak bisa mengabaikan permintaan Saga. Ia bangkit dan berdiri. Perlahan melangkah menuju jendela kaca. Saat mengintip keluar, Kayonna tak mendapati sosok Saga. Seketika perasaan Kayonna campur aduk. Satu sisinya lega, artinya dia tak perlu berurusan dengan lelaki yang semena-mena melihat isi kamarnya. Namun, di sisi lain ada perasaan kecewa yang entah disebabkan apa. Kayonna tidak tahu. Kayonna kemudian duduk di sofa dengan kepala menoleh ke arah luar jendela kaca. Kedua mata cokelatnya beredar memandangi sekitar. Tiba-tiba, pandangannya tertuju pada rumah kayu. Dari tempatnya, ia bisa melihat Saga yang duduk di dek dengan kaki panjang menjuntai. Tatapan Saga lurus ke arah lain, wajahnya terlihat kaku. Kayonna teringat sesuatu. *** Kayonna kecil, dengan rambut dikuncir ke atas, berkaos kuning cerah, celana jenas pendek, berdiri diam di bawah pohon besar. Tatapannya selalu kagum akan rumah di atas pohon. Tapi dia tidak ada keberanian naik. Sering Emil mengajaknya, bahkan memaksa, tapi Kayonna terlalu takut. "Naik, yuk." Sebuah sapaan membuat Kayonna kecil menjingkat dan menoleh. "Kak Saga." "Ayo, naik," ajak Saga lagi. Kayonna menggeleng lemah. "Takut?" Kayonna mengangguk. "Kan ada saya. Apa yang ditakutin?" "Jatuh," jawab singkat Kayonna. "Gak akan jatuh. Saya jagain kamu. Ayo." Saga memegang salah satu jari mungil Kayonna. Seolah kekuatan baru mengalir pada sentuhan itu, Kayonna yang memang penasaran, menjadi sedikit berani. Ia menurut dan mengikuti Saga sampai pada tangga kayu yang disusun spiral. Kayonna kecil beringsut mundur. Tubuhnya bergidik. Saga mempererat genggamannya. "Yonna. Jangan takut. Kita akan naik sama-sama. Kamu duluan naik, saya di bawahmu tepat." Yonna mendongak menatap rumah kayu yang terasa baginya begitu tinggi, sampai seolah menabrak langit biru. Nyalinya ciut. "Yonna. Lihat saya," pinta Saga yang dituruti Kayonna kecil. Mata bulatnya yang cokelat, menatap tepat ke manik hitam mata Saga. Begitu jernih, begitu indah. Saga terdiam pada kecantikan mata Kayonna. "Yonna. Gak boleh takut apa pun. Apalagi kalau ada saya. Yonna harus berani. Saya akan jagain Yonna. Saya gak akan biarkan Yonna jatuh dan kesakitan. Yonna percaya, 'kan?" *** "Saya percaya," gumam Kayonna lirih. Sebuah kenangan yang muncul tanpa diminta, membuat Kayonna sendu. Perlahan ia bangkit dan menuju lemari pakaian. Dibukanya semua pintu lemari dan tercenung menatapi pakaian-pakaiannya yang dirasa sederhana. Hampir semua pakaian Kayonna adalah pakaian yang teramat santai. Celana panjang berbahan jeans, celana training, kaos, kemeja, sweater, dan juga jaket. Ia merasa tidak pantas mengenakan pakaian-pakaian itu. Saga menggunakan kemeja cokelat gelap dan jas cokelat, sungguh formal. Setelah memilah-milah dan hampir kesal pada diri sendiri yang tak memiliki pakaian yang pantas, mata Kayonna menangkap gaun terusan warna marron, dengan motif polkadot. Diambilnya blus itu dari gantungan. Gaun santai itu, panjangnya sampai di atas lutut sedikit. Detailnya feminin juga lembut. Garis leher yang bulat, membuat gaun santai itu terkesan manis. Kayonna mematutkan di depan cermin dan memutuskan menggunakan gaun itu. Bergegas ia menuju kamar mandi. Tampilannya tidak boleh kalah dari Saga. Setidaknya harus sama. Salah satunya kebersihan. *** Pintu dibuka. Saga yang tadinya bersandar di tembok, sisi pintu, segera menegapkan tubuh dan berganti posisi berdiri di depan pintu. Saga terdiam, terpana menatap Kayonna yang feminim. Gaun marron-nya jatuh pas di tubuh Kayonna, membuat gadis itu terlihat lembut. Rambut yang biasa diikat, dibiarkan terurai jatuh menutupi kedua bahu, membingkai wajah kecil Kayonna dengan sempurna. Yang lebih memukau Saga adalah, wajah Kayonna yang jauh lebih cantik dan hidup. Ini karena Kayonna berias. Gadis itu membubuhkan perona pipi dan memoles lipstik warna merah muda di bibirnya. "Kenapa?" tanya Kayonna yang menjadi salah tingkah diamati Saga sedemikian rupa. Ia jadi tidak nyaman, seolah penampilannya aneh. Kayonna memutar tubuhnya, berniat untuk merubah penampilannya. Namun, tangan Saga sigap menangkap tangan Kayonna, mencegah gadis itu masuk lagi. "Mau ke mana?" tanya Saga. "Ganti baju." "Kenapa?" "Kayaknya salah kostum." "Kata siapa?" Kayonna terdiam. Tidak ada lontaran kata salah kostum dari mulut Saga, tetapi cara Saga memandang, membuatnya bingung sendiri. "Kamu cantik. Teramat cantik." Seketika wajah Kayonna memerah. Kedua matanya berkedip. Kembali Kayonna salah tingkah. Ini aneh. Kayonna menjadi aneh. Biasanya ia bersikap datar saja saat ada yang memujinya cantik. Apalagi jika ada pria yang menatapnya intens, Kayonna akan menjadi sangat dingin dan menatap tajam pria itu. Tapi, ini tidak berlaku pada Saga. Lelaki itu, adalah satu-satunya yang bisa membuat Kayonna jungkir balik. Saga mendekat. Salah satu tangannya yang tadi memegang pergelangan tangan Kayonna, perlahan turun dan menggenggam lembut jemari sang dokter bedah. Sedangkan tangan satunya, merapikan sedikit rambut hitam Kayonna. Sesuatu yang tidak perlu, tapi terasa perlu bagi Saga. Jemarinya yang memperbaiki bingkai rambut Kayonna, bersentuhan juga dengan pipi Kayonna. Saga terkejut merasakan bagaimana lembutnya pipi Kayonna. Hasratnya menuntut untuk membelai berulang pipi Kayonna, tetapi akalnya mencegah. Jika fokus Saga pada bingkai rambut dan pipi Kayonna, maka gadis itu justru tidak punya fokus. Kedua matanya membelalak dan berdenyut. Tangan Saga yang terasa di rambut dan pipinya, membuat Kayonna tidak bisa berkutik. Antara menikmati dan penasaran. Saga menelan liurnya dan menarik tangannya yang mulai aneh-aneh. Tapi tangan yang menggenggam jemari Kayonna, tak sudi dilepaskannya. "Tidak ada yang perlu diubah. Kamu secantik bunga lili." "Ha?" Kayonna mengernyit dalam hingga kedua alisnya hampir bertautan. Apa-apaan, sih. Kenapa malah ngegombal gak jelas begini. Sial! Bikin malu aja, batin Saga malu. "Udah, ayo." Saga menarik tangan Kayonna. Setelah mengunci pintu, keduanya melangkah bersisian menuju ke parkir mobil. Saga masih menguasai jemari Kayonna dan gadis itu membiarkan karena sebagian dari dirinya menikmati. Di kejauhan, Salim menatap keduanya dengan ekspresi dingin.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD