Chapter 11

882 Words
Setiap lembar napas yang ditiupkan ke ruh seorang bayi, kehidupan sudah dimulai baginya. *** Sudah pukul setengah dua malam, sudah terlalu larut untuk pulang. Kayonna memilih untuk istirahat di rumah sakit saja. Dia ingat akan ancaman Saga, tetapi gadis itu memilih mengabaikan.  Lagipula, dia tak pernah suka pulang ke rumah. Rumah itu, bukanlah rumahnya. Pun begitu, dia tak ingat di mana rumahnya. Kayonna baru saja selesai mengisi data riwayat penyakit pasien di meja perawat ketika seorang wanita muda datang ke meja perawat. Wajahnya berantakan dengan air mata, begitu juga rambutnya yang terlihat kusut. Kayonna merasa aneh dengn penampilan si wanita muda. Jika wanita itu tak menangis dan rambut tertata apik, melihat pakaiannya, siapa pun akan berkesimpulan yang sama dengan Kayonna, bahwa wanita itu baru dari tempat hiburan malam. "Saya mau Dokter Ilham. Dia dokter anak saya. Saya gak mau yang lain. Cepat hubungi dia!" perintah si wanita dengan suara nyaring, menuntut, dan napas tersengal. "Dokter Ilham sedang cuti, Ibu. Tapi dokter jaga sudah menangani putra Ibu." Seorang perawat mencoba menenangkannya. "Tidak! Saya cuma mau anak saya diurus Dokter Ilham." "Tidak bisa, Ibu. Putra Ibu sudah ditangani dokter terbaik." "Tidak mau! Kamu dengar gak, sih? Saya mau anak saya ditangani Dokter Ilham. Cepat hubungi dia!" Si wanita mulai memukul-mukul meja. Wajahnya semakin menyeramkan. Kedua bola matanya berputra-putar liar, kebingungan juga amarah. Kayonna yang berdiri tepat di sebalah si wanita, menepuk lembut lengan wanita tersebut. "Kenapa harus Dokter Ilham?" Wanita itu menoleh. Dia melihat seorang dokter yang baginya terlalu cantik untuk menjadi dokter. Tatapan sang dokter yang begitu tajam dan nada yang intimidatif, membuatnya senewen. "Karena dia, dokter anak saya." "Kenapa anaknya?" "Dia..., dia..., tadi terserang sesak napas." Si wanita ragu juga bingung. Dirinya merasa sedang ditekan untuk menjawab. Padahal dokter jaga dan perawat tadi bertanya ini itu, dia enggan menjawab, sedang di hadapan dokter cantik itu, si wanita tak bisa berkutik. "Di mana anaknya sekarang?" Bagai dihipnotis, wanita itu menunjuk ke arah bangsal IGD. "Antarkan saya." Si wanita tanpa pamit, tanpa berkata-kata lagi, mulai melangkah dan diikuti Kayonna. Sedangkan beberapa perawat jaga, geleng-geleng kepala. "Tidak ada yang bisa mengalahkan Dokter Kayonna," ujar salah satu perawat. "Julukannya saja Ratu Es. Ratu lho. Siapa yang bisa menaklukan?" sahut perawat lainnya. "Hanya kekasihnya yang bisa." Jawaban salah satu perawat membuat rekan-rekan sejawatnya tertawa kecil. "Masalahnya, dokter dingin itu belum punya kekasih." "Masalahnya lagi, ada gak yang berani dekatin dia? Baru dilirik Dokter Kayonna aja, cowok-cowok udah membeku." Kembali tawa segar mengalir di bibir para perawat yang tadinya mulai diserang kantuk. Perumpaan yang dilontarkan untuk Kayonna memang ada benarnya. Kayonna hampir tidak pernah tersenyum kecuali pada pasien, itu pun masih pilih-pilih. Kayonna lebih sering menatap lawan bicaranya dengan tatapan yang tajam.  Seperti pada wanita tadi. Kayonna dan si wanita sudah berada di bangsal anak. Segera Kayonna menghampiri putra si wanita dan dokter jaga. "Bagaimana?" tanya Kayonna. Dokter jaga menyodorkan papan riwayat pasien yang segera diterima dan dibaca Kayonna. Pasien adalah batita laki-laki, usia sebelas bulan. Memiliki riwayat penyakit asma dan epilepsi. "Pasien sudah tidak apa-apa. Hanya saja...." Dokter jaga lebih mendekat ke arah Kayonna dan berbisik, "Ada yang aneh." Kayonna diam saja. Tapi tangannya bergerak meraba dan memeriksa anggota tubuh batita laki-laki yang bernama Joshua. Ada bekas biru di leher, seperti huruf 'V'. "Joshua mengalami sesak napas saat di mana, Bu Cintia?" tanya Kayonna, masih tetap memerika tubuh Joshua. Dia tahu nama si wanita dari data riwayat pasien. "Di rumah," jawab Cintia masih dengan nada gelisah yang aneh. "Di?" Kayonna menegakkan tubuhnya dan menghadap Cintia. "Di? Ya..., di rumah." "Di kamar?" "I...iya." "Di tempat tidurnya?" "I...iya. Iya begitu." Kayonna mendekat. Matanya tajam mengamati pupil wanita si wanita. Hidungnya menangkap jelas aroma yang tadi masih samar. Jelas kalau keadaan si wanita sedang tidak benar. Kemungkinan besar Cintia minum-minuman beralkohol dan  ditemani obat-obatan terlarang. "Periksa ibunya," ujar Kayonna tegas. "A...apa-apaan?" Terlihat nyata Cintia semakin panik dan sangat terasa kepanikannya bukan untuk Joshua, putranya. Melainkan untuk dirinya sendiri. "Mana Dokter Ilham? Saya mau Dokter Ilham!" Sikap histeris Cintia tak ayal menarik perhatian lainnya. Salah seorang dokter bergerak cepat memanggil sekuriti. Cintia mendorong tubuh Kayonna dan mendekati Joshua. "Jangan biarkan!" perintah tegas Kayonna. Dokter yang tadi merawat Joshua, segera menghalangi Cintia. Sebagai laki-laki, dia lebih tanggguh. Sedangkan sang perawat, menjaga di sisi tempat tidur Joshua. Dua orang sekuriti segera memegang Cintia yang semakin histeris dan terus menjerit. "Bawa ke ruang tindakan. Kalau perlu diikat. Lakukan pemeriksaan darah dan urin. Pastikan bersih. Karena kalau tidak...." Kayonna memberikan tatapan sangat tajam, yang kembali membuat Cintia nyiut. "Berarti dia tidak boleh memegang Joshua." "Apa! b******k! Kurang ajar! Dokter gila! Sinting!" Cintia meronta, tetapi dua sekuriti mengabaikan dan membawanya pergi menuju ruang tindakan. "Sus, kamu panggilkan juga psikiater buat dia." Perawat mengangguk dan berlalu. Kayonna mendekati Joshua. Ditatapnya bocah kecil itu dengan sendu. "Coba kamu terlpon Dokter Ilham. Cari tahu apakah dia menyadari kejanggalan ini." "Iya, Dok," jawab dokter jaga. "Tapi aneh juga. Jika Joshua sering ditangani Dokter Ilham, kok beliau gak menyadari biru-biru ini." "Tadi datang apakah Joshua mengalami konbulasi?" "Iya, Dok." "Dibiarkan dengan sengaja." "Tujuannya, Dok?" kening dokter jaga mengernyit dalam. "Menarik perhatian." Kayonna membelai kepala kecil Joshua yang tertidur lelap. Kedamaiannya membuat Kayonna sedih. Ada yang salah dengan sang ibu dan anak yang menjadi korban. "Maksudnya, Ibu Cintia mencoba menarik perhatian Dokter Ilham dengan selalu membuat Joshua sakit?" "Kita lihat apa kata psikiater." Kayonna menatap dokter jaga. "Coba cari keluarganya. Terutama ayahnya. Jika si ibu positif, jauhkan dia dari Joshua." "Baik, Dok." Kembali Kayonna membelai lembut kening Joshua. Ia tak mengerti kenapa setiap orang tua punya keegoisannya sendiri. Mengabaikan kenyataan bahwa mereka bukan alat pemuas. Menjadikan anak sebagai suatu pencapaian. Joshua serupa dirinya dalam kasus yang berbeda. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD