DEMETRA "Berhentilah menatapku!” kataku jengah dengan tatapan Revan sejak tadi yang tidak juga berhenti. “Aku bisa meleleh kalau kamu menatapku terus seperti itu.” “Meleleh karena panasnya tatapan cintaku?” tanya Revan dengan sangat gombalnya. “Aku hanya ingin menatap wajah istriku yang cantik. Nggak salah, ‘kan?” “Memangnya belum puas selama sepuluh tahun ini?” Revan menggeleng pelan dan tetap tersenyum. Dia menarik tanganku lembut agar aku duduk di dekatnya. Padahal sudah jam dua pagi, tapi tidak satu pun dari kami yang berniat untuk tidur. Sejak tadi seperti tidak ada habisnya hal yang kami bicarakan. Dari masalah anak-anak, pekerjaannya, kehidupanku selama ini, bahkan hingga berita-berita hangat di masyarakat. Hanya satu yang belum kami bicarakan, yaitu alasanku kembali. Revan me

