REVAN Semenjak pulang dari Bandung, entah kenapa pekerjaanku menjadi banyak. Aku bahkan tidak punya waktu untuk bernapas karena kesibukanku itu. Sampai saat ini, aku belum menceritakan mengenai perjodohanku kepada Demi. Saat kami punya kesempatan untuk berkomunikasi, aku lebih memilih membahas hal lain yang lebih ringan daripada membahas hal tersebut. Hal sepenting ini tidak mungkin aku sampaikan melalui telepon. Aku harus mengatakannya langsung pada Demi. Namun, aku belum punya waktu untuk bertemu dengannya. Tanpa terasa, hari Sabtu di mana aku akan bertemu dengan wanita yang dijodohkan denganku pun datang. Seandainya bisa, aku tidak ingin menampakkan wajahku di restoran malam ini, tapi karena Ayah terus menerus menelepon, mau tidak mau aku harus muncul. Sebelum Ayah mengeluarkan ulti

