Butik Kaluna

1321 Words
Kaluna membuat secangkir teh hangat untuk sang kakak yang baru saja tiba di rumahnya. Sudah biasa bagi Kaluna jika tiba-tiba sang kakak datang tanpa memberitahunya jika akan datang. Jika bukan untuk menitipkan Cici, maka akan numpang berbagi kesedihan atau bahkan kemarahan. "Jadi, lo beneran ngasih izin Bang Yoga buat nganterin Cici sekolah Mbak?" "Terpaksa," "Kenapa? Dia ngancem lo lagi?" "Udah jadi kebiasaannya dia kan? Emang suka ngancem. Sialan banget emang tuh orang. Gue masih dendam banget sama dia," Kaluna menyesap s**u hangat miliknya. Mendengarkan segala ocehan Milana sudah menjadi hal yang biasa untuk Kaluna. Tidak terkejut meski Milana berulang kali mengatakan hal yang sama. Walaupun ya tetap saja Kaluna terkadang bosan. Bahkan keputusannya untuk tidak pernah menikah menurutnya sudah benar, jika melihat seperti apa akhirnya pernikahan sang kakak. Se-problematic itulah sebuah hubungan yang dia lihat. "Tapi emang sudah semestinya sih Mbak, lo harus nurunin ego lo itu. Mau gimana pun, dia itu ayahnya Cici. Cici butuh sosok ayahnya. Kasihan kalau lo jauhin terus menerus." "Lo tuh nggak ngerti banget apa yang gue rasain Lun. Lo nggak tau apa-apa, jadi lebih baik diem aja deh." Kaluna terkekeh pelan. Setiap kali dia mengatakan sesuatu pasti dianggap sebagai sebuah kesalahan atau seolah tidak berperasaan karena tak mengerti perasaan kakaknya sendiri. "Lucu lo Mbak. Gue cuma ngutarain apa yang baik buat Cici, ponakan gue. Dia masih kecil dan butuh kasih sayang kedua orang tuanya. Lagian Bang Yoga kelihatan tulus kok sayangnya sama Cici. Udah waktunya lo nurunin ego lo demi kebaikan Cici Mbak." "Gue izinin dia kalau sendiri. Gue nggak mau sampai anak gue kenalan sama pacar barunya Yoga. Lo inget kan terakhir kali waktu Yoga dateng bawa pacar barunya? Cici nanyain terus kenapa cewek lain yang pelukan sama papanya? Kenapa bukan mamanya? Gue cuma nggak mau anak gue sedih kok, itu aja." Kaluna lantas diam tak menjawab. Karena dia tau, bahwa ada alasan lainnya juga. Kaluna tau seperti apa watak dari kakaknya itu. Namun, Kaluna sontak memancingnya. "Serius cuma itu alasannya Mbak? Bukan karena lo masih suka sama dia?" "Suka sama dia? Udah gila kali gue suka sama cowok redflag kayak si Yoga! Udahlah, gue mau cabut sekarang. Ngomong sama lo selalu aja berakhir bikin gue kesel!" "Ya," balas Kaluna sesingkat itu. Yang justru membuat Milana menghentakkan kakinya kesal. "Mbak?" "Apaan lagi?" sahut Milana sembari menoleh ke arah Kaluna. "Mau ngomong apa lagi coba lo?" "Tehnya nggak mau diminum dulu? Gue udah effort buatin minuman buat lo, Mbak." Milana sontak menganga mendengar ucapan Kaluna. Dia pikir, Kaluna akan kembali mengatakan hal yang menyinggung soal Yoga. Sebab dia sudah menyiapkan diri untuk menjawabnya kali ini. Tapi ternyata justru mengatakan hal yang menurutnya tidak penting sama sekali. Karena itulah, Milana hanya mendumal dan melanjutkan langkahnya meninggalkan rumah Kaluna. "Dikit-dikit emosi, dikit-dikit kesel, udah mirip banget kayak bapaknya." ujarnya seolah-olah tidak berkaca pada dirinya sendiri. +++ "Terimakasih sudah mempercayakan kami, Mbak Jelita. Semoga puas dengan hasil gaunnya ya," "Sangat puas, Mbak Luna. Sudah lama saya ngepoin hasil gaun buatan Mbak Luna di official i********: butik. Bagus-bagus banget Mbak. Jadi seneng banget waktu tiga bulan lalu dapat slot!" sahutnya dengan raut wajah penuh kesenangan. Wanita cantik yang bernama lengkap Kaluna Atmadja itu sontak tersenyum simpul. Ia senang jika kliennya ternyata puas dengan hasil yang diberikan. Siapa sih yang tidak kenal dengan Kaluna Atmadja? Meskipun bukan fashion designer terkenal di Indonesia, semua hasil gaun pengantin buatannya banyak sekali peminatnya. Pemilik butik D'Moon Boutique itu selalu sibuk, dan setiap kali membuka slot pembuatan gaun pengantin, pasti slot akan langsung penuh hanya dalam kurun waktu 1 jam. Kaluna tidak pernah mengambil job banyak, hanya mengambil sedikit, agar bisa fokus dan hasilnya maksimal serta memuaskan. Sebab waktunya tidak hanya dihabiskan untuk mengerjakan gaun pengantin saja. Kaluna juga sibuk membuat design untuk baju-baju yang ia jual di butiknya. "Ikut seneng kalau Mbak Jelita juga seneng. Semoga acara pernikahannya lancar ya Mbak. Sekali lagi, terimakasih sudah mempercayakan saya untuk membuat gaun pernikahan Mbak." "Iya Mbak Luna, sama-sama. Saya yang harusnya berterimakasih di sini, karena berkat Mbak Luna, saya jadi bisa mewujudkan gaun pengantin yang sesuai dengan impian saya.” “Sama-sama ya Mbak Jelita.” “Kalau begitu, saya pamit pulang sekarang ya Mbak Luna." Wanita berusia 29 tahun itu tersenyum ramah pada klien barunya tersebut. Kaluna memang terkenal sangat ramah jika berhadapan dengan para klien-kliennya, ataupun dengan para customer. Tapi begitu dingin dengan setiap orang yang sama sekali tidak dia kenal, dan tak memiliki kepentingan dengannya. "Sin, Erika ada ngabarin kamu nggak? Kok hari ini nggak masuk lagi dia?" Sinta—sang admin, langsung menggelengkan kepala dengan cepat. Benar-benar tidak tau mengenai kabar Erika sama sekali. "Nggak tau Mbak. Chat-ku dari kemarin nggak dibales juga tuh. Apa sakit ya Mbak?" Kaluna mengangkat bahunya tidak tau juga. "Nggak tau juga. Takutnya sih begitu, dia sakit tapi nggak bilang. Udah aku telepon juga nggak di angkat sama sekali. Padahal aku butuh bantuan dia biar cepat selesai gaun pesanannya Mbak Nina. Deadline bulan depan harus beres semua." "Mau aku bantuin Mbak? Tapi aku nggak ada basic sama sekali soal begituan." Kaluna lekas menggelengkan kepalanya. "Nggak perlu Sin, tugas kamu kan ngurusin klien. Kalau kamu bantuin aku, malah pekerjaan kamu yang keteteran." "Ya sudah kalau gitu. Semangat Mbak Luna! Tapi kalau butuh bantuan, panggil aku aja Mbak." Kaluna sontak menganggukkan kepalanya dan tersenyum tipis. Lalu ketika dia mengingat sesuatu, Kaluna kembali berucap, "oh iya hampir lupa, aku udah janji sama Mbak Mila buat jemput Cici. Jam berapa sih ini?" Kaluna memutar tubuhnya untuk melirik jam dinding yang ada di belakang. Wanita itu sontak memukul jidatnya sendiri karena waktu sudah menunjukkan pukul 10.30 pagi. "Cici pulangnya jam berapa emangnya Mbak Lun?" "Jam 11 Sin. Duh, aku keluar bentar ya. Mau jemput Cici. Sekalian deh, mau mampir beli makan siang. Kamu mau sekalian aku beliin nggak Sin?" "Ditraktir kan ini Mbak?" "Iya, ditraktir. Mau apa? Jangan suruh aku mikir ya, aku males mikir soalnya." "Mau beli makan siang di mana Mbak?" tanya Sinta, agar lebih mudah memutuskan ingin menu makan siang apa. "Nggak tau sih, belum kepikiran. Ya udah deh, ntar aja gampang. Aku telpon kamu nanti," "Oke deh kalau gitu Mbak." sahut Sinta dengan cepat. “Eh tapi bebas juga nggak apa-apa Mbak, terserah Mbak Luna aja mau beliin apa. Aku terima-terima aja karena gratis!” Tidak ada balasan dari Kaluna, sebab wanita itu buru-buru masuk ke ruangannya untuk mengambil tas dan juga ponselnya. Begitu keluar dari ruangan, Kaluna tampak berjalan sedikit lebih cepat. "Aku tinggal ya," Sinta sontak menoleh dan menyahut, "Iya, Mbak Luna. Hati-hati di jalan!" Selama di perjalanan, Kaluna memang sedikit mempercepat laju mobilnya. Sebab dia memang tidak mau sampai terlambat untuk menjemput Cici. Kaluna tau bagaimana tabiat sang kakak jika sampai dia telat menjemput Cici. Pasti urusannya akan sangat panjang. Bahkan terakhir kali karena masalah sepele pun, Kaluna dan sang kakak saling perang dingin sampai hampir 1 bulan lamanya. Memang mengerikan. Suara dering ponselnya mulai terdengar menginterupsi. Kaluna sontak melirik ponselnya yang memang dia letakkan di dashboard mobil. Kaluna hanya menghela napas saat nama sang kakak tertera di sana. Enggan menjawabnya, sebab dia tau pasti sang kakak akan mengomel dari A sampai ke Z. Dan Kaluna malas untuk mendengarnya. Hingga akhirnya sebuah notifikasi pesan muncul. Sang kakak ternyata hanya ingin memberitahunya jika Cici sudah dijemput. Dan memintanya untuk batal menjemput Cici, sebab Cici sudah pulang lebih awal. Hal itu tentu sedikit membuat Kaluna berdecak kesal. Sebab dia hampir saja sampai ke tempat di mana sang ponakan bersekolah. "Kebiasaan banget deh Mbak Mila ini. Serba mendadak. Kenapa nggak ngabarin dari awal? Mana udah mau sampai lokasi lagi, astaga. Puter balik lagi dong gue?" Kaluna hanya bisa mengoceh kesal saat ini. Dia sudah meluangkan waktunya yang super sibuk untuk mengiyakan permintaan sang kakak, yaitu menjemput Cici di sekolahnya. Moodnya hari ini juga kurang baik sebenarnya, sebab sang kekasih membatalkan pertemuan dengannya secara tiba-tiba. Padahal, sudah lama mereka tidak pernah makan siang bersama. "Cari makan siang sekalian deh kalau gitu," monolognya, sesaat setelah berhasil putar balik arah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD