“Sekarang Luna yang aneh.” Jari telunjuk Jagat langsung menempel tepat dibibir Kaluna. Menghentikan sang puan yang hendak menyahuti apa yang Jagat ucapkan barusan. Dan detik itu juga, Kaluna merasa jika sisi dominan Jagat barusan muncul. Untuk pertama kalinya, dia melihat bagaimana ekspresi Jagat yang nampak serius. Tidak bercandaan atau cengengesan seperti biasanya. Bahkan dari tatapan matanya pun juga membuat Kaluna langsung diam. Sekuat itu tatapan Jagat padanya. Sekuat itu aura Jagat saat ini. “Mas nggak pernah merasa sempurna secara keseluruhan. Mas ini banyak buruknya, Luna. Tapi kalau soal wajah, Mas akui sih kalau wajah Mas emang ganteng banget.” Jagat tersenyum di akhir kalimatnya. Seperti biasa, selalu ada canda tiap kali Jagat bicara. “Kata siapa Mas Jagat ganteng banget? E

