Keesokan harinya Tivania datang ke sekolah dengan mengenakan masker untuk menutupi bibirnya. Daffa yang melihat kedatangan Tivania yang sedang berjalan tak jauh darinya, berlari kecil menghampiri gadis itu.
"Pagi Van," sapa Daffa. Ia terlihat tampan semakin tampan dengan potongan rambut terbarunya.
"Pagi Kak," sahut Tivania.
"Kamu sakit?" Refleks Tivania menoleh dengan pandangan bingung.
Daffa yang seakan mengerti akan kebingungan gadis itu menunjuk bibirnya sendiri. Sadar apa maksud Daffa, Tivania membuka maskernya.
"Oh..masker ini bukan?" tanyanya.
"Iya. Kamu sedang flu?"
Tivania menggelengkan kepalanya cepat. "Tidak kak. Aku sehat-sehat saja. Masker ini hanya aku gunakan untuk mencegah virus yang tidak diinginkan," jelasnya diiringi tawa kakunya.
Tentu saja virus yang dimaksudnya adalah laki-laki bernama Frans Perdana. Berandal yang baru saja menciumnya kemarin. Dalam hati Tivania sudah berjanji pada dirinya sendiri jika ia tidak akan membiarkan kejadian seperti kemarin terulang kembali. Not gonna happen in anymore! Jika perlu ia akan belajar karate.
"Virus? Memangnya di sekolah kita sedang ada virus?"
"Tidak kok kak, aku hanya bercanda," ujar Tivania. "Bagaimana keadaan Gavin, kak?" tanya Tivania mengalihkan pembicaraan.
Menurut penjelasan Daffa, ternyata Gavin seangkatan dengan Tivania. Ia berasal dari kelas sebelah, kelas yang sama hanya saja laki-laki itu baru masuk kemarin pagi. Entah apa alasannya. Dan sampai sekarang tidak ada seorang pun yang tahu penyebab perkelahian diantara Frans dan Gavin.
"Gavin sudah lebih baik. Untung memar di perutnya tidak sampai merusak organ dalamnya. Jadi ia hanya perlu beristirahat beberapa hari lagi dan bisa kembali masuk sekolah," ujar Daffa.
Kepala Tivania beberapa kali mengangguk. "Syukurlah. Sayang sekali aku nggak bisa menjenguknya." Ada nada sesal dalam suaranya.
Sebenarnya Tivania ingin sekali menjenguk Gavin. Tapi gara-gara kejadian kemarin yang telah diperbuat oleh si berandal itu membuat Tivania langsung pulang ke rumah. Untungnya mami belum pulang sehingga ia bisa mengurung diri di dalam kamar mandi selama sejam. Berulang kali ia membersihkan bibirnya dengan sikat gigi sebanyak-banyaknya, dilanjutkan dengan kumur-kumur pembersih mulut, dan sampai menyabuni bibirnya dengan sabun. Tapi rasanya jejak itu tidak hilang. Seolah-olah bibir laki-laki itu masih terasa menempel di bibirnya.
"Bagaimana jika nanti sepulang sekolah kita menengok Gavin bersama?" usul Daffa yang membuat Tivania kembali dari ingatannya.
Tivania menghentikan langkahnya dan menolehkan kepalanya menatap Daffa, "Serius nih kak?"
"Tentu saja. Asalkan kamu mau menunggu aku pulang sekolah nanti. Soalnya ada yang harus aku lakukan bersama para anggota OSIS."
"Okay. Nggak masalah," jawabnya bersemangat. Ia sangat antusias mengunjungi Gavin. Teman baru yang babak belur dihajar berandal yang tidak waras itu.
***
Sepulang sekolah, Tivania memutuskan menunggu Daffa di kantin yang mulai sepi. Bahkan guru-guru pun sudah ada beberapa yang telah pulang. Yang tersisa hanyalah para anggota OSIS.
Tiba-tiba seseorang mengisi kursi kosong di seberang meja. Dan di sanalah laki-laki yang masuk dalam daftar teratas sebagai 'makhluk paling tidak ingin ditemui oleh Tivania' sedang duduk tanpa rasa bersalah. Bersama-sama dengan para piaraannya yang ikut duduk di sekitar Tivania sehingga sekarang kursi yang mengelilingi meja itu sekarang telah penuh. Mungkin aku harus meminta mami pindah sekolah, batinnya mengingatkan.
Tatapan mata Frans terkunci pada wajah Tivania. Gadis itu pun dengan berani menatap wajah Frans tanpa takut. Walaupun dalam hati Tivania menyesali perbuatannya karena melepaskan maskernya. Ia terpaksa harus melepasnya karena Bu Purwanti, wali kelasnya, bertanya apakah ia sakit sehingga mengenakan masker. Lalu dengan bodohnya Tivania menjawab tidak. Alhasil Bu Purwanti memintanya melepaskan masker tersebut. Padahal siapa sih yang paling merasa dirugikan jika ia menggunakan masker? Well, tanpa Tivania ketahui tentu saja jawabannya adalah Frans.
"Frans ngapain sih kita di sini?" Jose memecah keheningan diantara mereka.
"Jos, lo nggak liat kalau Frans lagi puas-puasin ngeliat ceweknya?" ledek Kevin.
"Diem lo berdua kalau lo berdua masih mau pulang tanpa eyeshadow di sebelah mata kalian masing-masing," sahut Frans dengan pandangan matanya masih melekat pada kedua mata Tivania.
"Gue cari makan dulu, dari pada gue jadi nyamuk di sini." Kevin bangkit berdiri, lalu melarikan diri. Itu lebih baik daripada matanya berubah jadi biru. Tak lama Putra pun ikut menyusul, "Tunggu Vin, gue ikut. Mendadak perut gue ikut laper!"
Frans memutuskan kontak matanya dengan Tivania, lalu menoleh ke arah Ben dan Jose. Menatap tajam kepada mereka. Ridwan sedang tidak berada bersama mereka, bokapnya meminta dia pulang lebih awal hari ini. Sehingga mau tidak mau laki-laki berbadan besar itu menuruti perintah pak tuanya.
"Oke. Gue ngerti." Ben bangkit dari duduknya dan menepuk pundak Jose. Lelaki itu pun nurut dan iku bangkit. Kalau dari awal memang ingin berdua sama itu cewek. Kenapa pake acara ajak kita-kita? s**l nih si Frans! rutuk Jose dalam hati.
Suara decitan kursi membuat Frans berteriak, "Siapa yang suruh lo untuk bangun dari kursi itu?"
Tivania berdecak kesal tidak mempercayai pendengarannya, "Terserah aku dong. Apa hak kamu larang-larang aku?" seru Tivania.
"Duduk!"
Tapi bukannya duduk, Tivania malahan melanjutkan kegiatannya.
"Gue bilang duduk ya duduk!" Sentakkan Frans kali ini sukses membuat gadis itu kembali duduk dihadapannya.
"Mau kamu apa sih?" gerutu Tivania.
"Nama lo?" tanya Frans mengabaikan pertanyaan Tivania.
Yang ditanya hanya menjawab, "Hah?"
Dan jawabannya sukses membuat Frans kesal, "Jawab atau lo mau gue cium kayak kemarin?"
Sial! Berandal ini tahu kelemahannya! umpat Tivania dalam hati.
"Tivania," jawabnya singkat.
"Okay. Tivania, mulai hari ini status lo adalah pacar gue," ucap Frans mantap. Tapi kali ini perkataannya sukses membuat gadis dihadapannya tertegun dan mendadak mematung dengan bibir separuh terbuka.
***