Cinta itu bukan hanya prihal kata, tapi juga perbuatan. Sekeras apa kita memberikan dan melalukan yang terbaik untuk seseorang yang kita cintai, meski ia bahkan tidak pernah mengetahuinya. Seperti apa yang di lakukan seorang lelaki tampan pagi ini, demi seseorang yang ia cintai, ia rela meluangkan waktunya untuk menyelesaikan masalah yang telah dibuat wanitanya itu.
“Selamat pagi, Pak “ sambut seorang perempuan paruh baya, saat Radith memasuki ruangan yang bernuansa classic itu.
“Ya pagi saya Dr. Radithya . Saya datang karna ini” Radith menunjukan surat panggilan orangtua yang ia dapat dari atas meja Tiara, lancang memang. Namun Radith tidak ingin melihat wanita yang ia cintai terlihat murung saat harus menerima surat tersebut yang entah sudah ke berapa kalinya di terima oleh Tiara. Mungkin dengan memenuhi panggilan ini, Tiara tidak perlu lagi menerima surat itu lagi.
“Apa dokter ini wali dari Tiara?silahkan duduk.”Radith duduk berhadapan dengan kepala prodi Tiara.
“Bisa di katakan seperti itu. “ Radith tersenyum
“Baik ,dr.Radith sebetulnya saya sudah lama sekali ingin bertemu dengan wali dari Tiara, tapi selalu tidak bisa karna orangtuanya selalu sibuk.”
“Memang nya ada masalah apa dengan Tiara ? apa nilai dia buruk atau “ Tanya Radhtya
“Oh , tidak dok. Tidak sama sekali justru nilai-nilai Tiara sangat bagus, karna itu saya ingin bertemu dengan wali Tiara untuk membicarakan hal ini.” Dahi Radith berkerut mendengar penjelasan kepala prodi tersebut. Jika nilai Tiara baik-baik saja mengapa sampai ingin bertemu dengan orangtua Tiara?.
“Dok. Apa Tiara tidak punya permasalahan di rumahnya?”
“Maksudnya ?” Radith masih belum memahami masalah apa yang Tiara hadapi, malah di buat lebih bingung dengan pertanyaan yang baru saja di lontarkan.
“Ya dok. Tiara ini anak yang pintar dan baik, sering membantu teman-temannya. Tapi dia juga memiliki pribadi yang cenderung diam, dari keterangan beberapa temannya Tiara memang sosok yang ramah dan ceria, tapi dia juga memberi jarak untuk teman-temanya, hanya Reina satu-satunya teman yang akrab dengan Tiara dan saya heran karna dia juga sering membuat masalah. Terakhir dia berkelahi dengan temannya dan merusak fasilitas lab”terangnya sambil menginagat beberapa kekacauan yang Tiara buat kala itu.
“Mungkin Tiara punya permasalahan dengan temannya itu “ uajar Radith mencoba memahami situasi tiara saat itu.
“Ya betul dok. Tapi Tiara sudah keterlaluan,Tiara juga pernah membuat kekacauan ketika sedang praktek Anatomi, ketika acara camping fakultas dan banyak lagi, dia seolah mencari perhatian,”
“Itu sebabnya, jauh sebelum Tiara Koas, saya ingin sekali bertemu dengan orangtua nya. Berbica dengan mereka agar bisa memberikan Tiara sedikit perhatian dan pengertian, karna ketika Koas nanti dia adalah seorang dokter bukan lagi mahasiswa yang bisa membuat masalah. “ ucap kelapa prodi itu, ia sanagat hawatir jika perangai Tiara tidak bisa berubah, maka itu akan menjadi kendala tersendiri bagi Tiara nantinya, belum lagi nama universitas juga pasti akan terkena imbasnya, sebab di anggap tak mampu mendidik calon dokter dengan baik.
“Tapi dari yang saya tau Tiara baik-baik saja di tempat koas nya. Tidak ada masalah”
“Ya syukurlah kalau begitu . Memang saya pun tidak menerima laporan yang tidak baik ,hanya saja saya inginkan agar orangtua Tiara lebih memperhatikannya lagi, meskipun dia sudah dewasa namun perhatian orangtua haruslah tetap tercurah” tuturnya dengan nada prihatin, mungkin sebagai orangtua ia juga bisa menilai bahwa Tiara memang memerlukan perhatian orang tuanya karna selama ini, jika di kampus ada masalah maka yang datang adalah sekertaris atau asistent orangtunya saja.
“Baik,saya akan menyampaikannya pada orang tua Tiara” ucap Radith meyakinkan, padahal ia sendiri ragu apakah bias menyampaikan hal ini pada orangtua Tiara.
Menyampaikannya pada orang tua Tiara,??bagai mana caranya .?? itu di luar kapasitas saya. saya hanya bisa menjaganya saja , ucap Radith . Ia tidak pernah bertemu dengan orang tua Tiara dan bagai mana jadinya kalau ia tiba-tiba datang dan menyampaikan semua hal yang baru di bicarakan oleh kaprog tadi.
Entah apa yang membuat Radith tertarik dengan semua hal yang berkaitan dengan Tiara, ia sangat ingin melindungi wanita itu, Cinta? Apa ia masih berhak untuk mencintai seseorang? Sedang ia tahu bahwa kisah cinta mereka nantinya hanya akan berujung pilu, dan akan memberikan kenangan menyakitkan, biarlah ia saja yang merasakan sakitnya.
Selesai dengan semua urusan Tiara di kampus, Radith pun melanjutkan perjalanan menuju rumah sakit. Sesampainya di sana, Radith melihat Tiara yang berjalan bersama Reina, gadis itu terlihat ceria, seolah tak ada beban di hidupnya. Lantas apa yang membuat orang berasumsi bahwa ia memiiki masalah ? sehingga selalu menghadirkan masalah untuk orang di sekitanya.
Terkadang ingin rasanya ia bersikap egois, melupakan sejenak apa yang menjadi ketakutannya. Lalu mendekati wanitanya, Radith ingin merasakan berada di sampingnya, menemani dan berbagi keluh kesah. Indah sekali rasanya, namun lagi-lagi ia harus mengubur semua angan itu. Radith tidak ingin seegois itu, setalah mendapatkan kebahagiaan lalu meninggalkan pujaan hatinya begitu saja.
Biarlah seperti ini, mencintainya dalam diam karna baginya akan lebih berat jika sang pujaan mengetahui isi hatinya, Radith tak ingin Tiara mengetahui fakta bahwa mereka saling mencintai. Akan sulit baginya untuk melepas Tiara jika saat itu tiba
Tiara, aku sangat mencintai mu, hingga tak tahu harus bagaimana aku bersikap. Ucap Radith sembari menatap punggung Tiara yang kini mulai menjauh.