Tentang Rindu, Hujan dan Senyuman

1319 Words
“Adalah rindu ini  yang terus melekat dalam relung hati, penuh gusar juga bimbang. Dan tentang pertanyaan yang terus datang menerjang di setiap langkah, aku pun tak tau, kemana dan siapa yang hendak menjawab tentang semua kerinduan ini”          Pagi ini hujan turun lebat , membuatku malas untuk berakivitas dan  untungnya hari ini tidak terlalu banyak kerjaan, agenda hari ini hanya ada satu oprasi selepas jam makan siang nanti.         Rumah sakit pagi ini cukup ramai, setelah visit dan mendengarkan arahan dari dr. Hans, aku kembali ke ruang dokter, sedangkan Reina pergi membeli kopi bersama beberapa teman yang lain.         Mata ku terpejam, menikmati wangi lavender blosoom yang menguar dari sudut ruangan. Namun, sekelebat bayangan tentangnya kembali hadir dalam ingatan ku, membuat hati ini gusar tak tentu arah.         Gelegar bunyi petir menyambar, disertai hujan yang semakin lebat pagi ini.  Semua hal ini mengingatkan ku, pada sekelumit kisah manis bersama Radithya. Lelaki yang ku cintai.         Hari itu, menjelang sore hujan kembali lebat saat aku duduk santai di dalam ruangan yang terasa hening, sebab para dokter yang berjaga memilih  beristirahat di ruangan lain.  Pandangan ku beralih ke arah pintu yang berderit, melihat siapa yang hendak masuk kedalam, terlihat lelaki berjas putih dengan potongan rambut yang tertata rapih, berhidung mancung dengan tinggi sekitar 175 cm dengan tubuh tegab dan berwibawa. Pandanganku terpaku padanya yang kini berjalan mendekat, semakin dekat, semakin kencang jantung ku berdebar.           Ialah Radith, seseorang yang telah membuat hidup ku lebih berwarna sekaligus memberi luka.  Langkahnya semakin mendekat, bersamaan dengan itu tercium aroma coffe latte, yang ku yakin berasal dari cup yang di bawa oleh Radithya, dengan tangan kanannya membawa sebuah plastic berlogo J.co, langkahnya berhenti tepat di depan meja kerja ku, ia meletakan satu cup coffe di atas meja, dekat dengan tangan ku.         Aku yang masih bingung atas tingkahnya masih diam saja, sambil memperhatikan gerak lelaki itu. Ini  kopi buat gw?ah masa iya. Tapi dia naroh cup nya di meja gw.  Berbagai pertanyaan hinggap di kepala ku,  tak lama setelah itu, ia berjalan kembali kearah ku, kali ini membawa sebuah kursi  dan meletakanya sebrang meja, lalu kami duduk berhadapan dan membuka sebuah kotak yang tadi ia bawa dalam plasic.         Pikiran ku masih mencerna semua tingkah nya saat ia menyodorkan kotak berisi enam donat dengan varian topping favorite ku, kacang almont, oreo dan tiramisu .” Ra, ayo makan  ini makanan favorite kamu kan?” aku terperangah dengan ucapanya.  What… ini mimpikan ? dia ngomong ama gw? oh no, kalo mimpi tolong jangan cepet ilang mimpinya 0 ” Oh ya dok. Terimaksih” dengan canggung ku ambil satu donat dengan topping Oreo “Gimana , enak?.” tanyanya santai, namun membuat jantung ku bedetak luar biasa. “Hehe ya dok, maksih banget ya.” aku tertawa menutupi rasa cangung yang melanda di antara kami. ”Btw, dokter ko tau ya makanan favorite aku, apa Cuma kebetulan?.” aku bertanya agar tidak penasaran lagi “Oh itu, aku pernah lihat Reina bawain makanan dan minuman ini untuk kamu.” ucapnya. Demi apapun, ucapan Radith  membuat aku merasa terbang di udara. Double what,?  apa itu artinya Radith perhatiin gw . Oh no, langsung ku tepis semua pemikiran itu mungkin hanya kebetulan, ya kebetulan. Aku tak ingin terlalu berharap banyak pada lelaki di hadapan ku ini. “Oh, gitu dok” sebenarnya masih penasaran, pengen banget gw Tanya .Kenapa dokter ngasih saya makanan ini ?, ah, tapi biar lah waktu kan menjawbnya nanti.             Sore itu tak banyak yang kami bicarakan , Radith hanya berbicara dan beratanya tentang pelajaran dan masalah KOAS aja. Jam menunjukan pukul 16:55, aku membuka kontak w******p, mengirim chat ke teman-teman  menanyakan apa ada yang bisa  mejemputku sore ini. Tak lama iphone ku berdering, Reina menelfon ku “Halo,Ra. Lo udah ada yang nganter pulang?” Tanya Reina “Belum nih, kenapa ? lo gak bisa jemput gw ya?” “Ya , sorry. Gw masih di rumah Haris” “Ok, no problem. Gw balik pake taksi aja” Obrolan singkat tadi sepertinya di dengar oleh Radit, dan mengetahui kalau aku tidak ada yang menjemput. Setelah mengemas barang-barangnya ia berjalan mendekat. “Hari ini aku anter kamu pulang”  “Haa.. tapi dok“ “Saya tidak mau dengat kata’Tapi’,  kamu ikut ,saya antar kamu pulang.  Kamu tidak mau ikut, ya kamu akan pulang lambat” Radith melangkah meninggalkan ruangan Nih orang kenapa ya?bentar baik bentar galak. Bingung gw “Eh,, dok, dok.. aku ikut..” aku mengejar Radith yang sudah mendahuluiku “Hehehe.. dok ,aku ikut deh ya” “Ok. “ jawabnya singkat. Eh, buset nih orang kalo sama gw judes banget kayanya.  Ucap ku dalam hati. Kita tak banyak bicara di perjalanan menuju rumah, tapi di pertengahan jalan Radith berhenti di pedagang ketoprak kaki lima. “Saya lapar, kita makan dulu di sini” “Hmm, oh ya dok” “Gak perlu panggil dokter ini udah bukan jam kerja. Kamu bisa panggil aku apa aja. “ Radith membuka seatbelt nya “Ya . Mas Radith” ,ucapan ku membuat Radith mengurungkan niatnya untuk  keluar dari mobil, dan menatapku lekat. “Hmm,, ya kan katanya boleh panggil apa aja. So ,can I call you Mas Radith ?” aku meminta persetujuannya Radith masih termenung memandang ku, entah apa yang dia pikirkan” Mas, Mas, kamu dengar aku gak sih?.” Radith menghela nafas sejenak “Andai aku punya pilihan untuk merubah panggilan ‘Mas’ menjadi panggilan lainnya” ujarnya. Aku yang bingung dengan ucapan Radith, mencoba meneka isi pikirannya “Banyak pilihan ko. Kalau dokter gak mau di panggil ‘Mas’kan ada panggilan lain. Kakak, Abang. Kan gak mungkin juga kalo aku manggil nama aja “ cerocos ku, membuat sudut bibir Radith terangkat. Radith senyum, wah.. moment langkah “Panggil Sayang, gimana?” ujarnya sambil menatap lekat wajahku. “Whatttt…?” Mataku melotot mendengar pernyataanya. “Bukan apa-apa, you can call me ‘Mas, Mas Radith. Turun aku laper” Bingung gw ama nih orang, katanya pengen ada pilihan. Giliran gw Tanya mau di panggil apa , eh dia bilang panggil sayang, sumpah demi apapun jantung gw mau copot tadi. Gw kira dia mau nembak, eh ternyata di php in. Hufftt… what ever lah, yang jelas gw bahagia banget malem ini. Gw berharap dan berdo’a, semoga Radith gak lagi linglung karna dia baik banget sama gw malem ini.         Dari sini lah aku mengetahui jika Radith ternyata mempunyai cara makan ketoprak yang unik, ia menghabiskan lebih dulu bihunnya, setelah itu baru lontong dan telur rebus. Saat aku bertanya kenapa ia makan seperti itu, Radith menjawab waktu kecil ia sering berbagi makan ketoprak dengan sepupunya, dan sepupunya itu hanya suka lontongnya saja, jadi Radith hanya makan bihun dan kalau lontongnya tidak habis barulah ia makan. jadi ia sudah terbiasa dengan makan seperti itu.         Pertama kalinya aku mendengar Radith panjang lebar saat berbicara dengan ku, bahkan mau berbagi kisah masa kecilnya. Padahal bisanya dia hanya menjawab singkat saat aku berntanya. Radith, sebenarnya seperti apa kah diri mu ?         Seusai menghabiskan ketoprak yang sungguh lezat, kami melanjutkan perjalanan. Kali inii perjalanan tak sehening sebelumnya, karna kecanggungan yang ku rasakan mulai terkikis saat mendengar setiap respon baik yang Radith berikan.  "Disini?" Tanyanya saat berhenti tepat di depan gerbang rumahku "Ya, betul. Makasih ya Mas" ucap ku disertai senyuman terbaik. "Sama-sama, besok berangkat jam berapa?"  "Hmm... Pagi, jam 7-an" "Jangan pesan taksi atau minta di jemput Reina" "Haaa...."  "Udah malam, sana cepet masuk," ucap Radith yang ku balas dengan anggukan kecil, setelah mobil Radith melaju, aku masih bengong mencerna ucapan Radith. Namun tak lama kemudian aku tersenyum lebar. Aku berlari kecil masuk kedalam rumah dengan diiringi senyum terindah yang selama ini tidak pernah ku rasakan. Reina harus tau. Harus... Malam itu, langit terasa cerah meski terhalang oleh awan gelap. bahkan air hujan pun tak mampu menghapus jejak cerita yang ia tinggalkan di hatiku hingga saat ini. Rasanya ingin ku umumkan pada seluruh dunia bahwa malam itu adalah hal yang terindah dalam hidupku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD