BAB 1. KAPAL SELAM PESIAR PARI (Bagian 2)

1802 Words
Status Penumpang : Sangat Istemewa, khusus, keamanan tingkat tinggi “Sebuah Rumah Sakit yang superlengkap-supercanggih- telah menanti anda. Sebuah balon surga yang menjanjikan. Dengan managemen yang sangat rahasia, dan berhasil memenuhi segala keperluan rahasia para tamunya dengan cara rahasia yang menjamin keamanan rahasiaannya." "Termasuk kebutuhan organ tubuh orisinil." "Masih segar dan bernyawa!" "Jadi kenapa anda hanya diam menunggu malaikat maut menjemput anda, sementara anda bisa menggapai sebuah kehidupan yang nikmat di sebuah surga dunia. " " Mari kita menuju ke sana, ke...." "Pari Pesiar" *** Tayangan iklan itu diproyeksikan di dinding kamar mewah dari sebuah smartphone di samping ranjang standard seorang pasien VIP. Seseorang, entah siapa, mengirimkan iklan itu dan membuat smartphone yang tergeletak di meja kecil itu, bergerak otomatis dengan sensornya mencari dinding untuk melakukan proyeksi gambarnya, lebih besar. Seorang tua melihat tayangan itu dari balik selimut suteranya. Sejenak di matanya berkelebat sinar kehidupan setelah sekian lama sinar mata itu redup, menanti pejaman selamanya. Berbagai selang menempel di tubuhnya. Oksigen, infus makanan, cardiograph, ventilator, mesin hidrolisis yang sangat membantu kerja sebuah ginjalnya. Tak ketinggalan selang Kateter yang berujung di kantung pasrah menerima semua buangannya. Selang warna-warni itu lebih menyerupai karya seni instalasi dibanding gambaran –alat penunda kematian-. “Hgrrrr…Pari Pesiar?” tanya Ratsuya Wongso, si tua itu setengah percaya. Suaranya adalah paduan dari lenguhan geram dan lemah. Matanya yang diimplant selembar lensa kontak berusaha keras focus pada dinding ruang yang menayangkan sebuah fasilitas super canggih. Lengkap dengan aneka terapi dan aneka bedah. dan tentu saja dengan tarifnya –yang 100%- dibayar di muka. Konsumen tinggal memilihnya. “Ya ayah, Semua akan kembali seperti semula. Organisasi sedang mengurusnya.” Tasha putrinya duduk di sampingnya, menahan tangan Ratsuya yang akan menggapai smartphonenya. Tanpa perintah ayahnya, Tasha melakukan perintah zoom pada smartphonenya, hingga gambaran di dinding menjadi lebih jelas. Seperti biasa, Tasha putri sulungnya itu, mendampingi Ratsuya sang ayah dengan penuh kasih sayang. Tangannya yang hangat oleh kehidupan, menggenggam tangan Ratsuya yang dingin, berkeringat, bergetar setiap saat, seolah tangan itu sedang tak sabar, dan berlatih mengeruk tanah kubur bagi dirinya. “Ayah lupa dengan rencana ayah terhadap Juno?” Tanya Tasha mencoba memancing gelora kehidupan lewat nama putra tunggalnya, sang cucu mahkota. “Oh, Juno, cucuku, lalu Dokter ... Chandra?” Tanya si tua Ratsuya ditengah tarikan nafasnya yang payah. “Ya Ayah, Ini semua inisiatif dokter Chandra. Organisasi belum siap bila ayah pergi. Terlalu banyak pekerjaan yang ayah tinggalkan.” Bisik Tasha memompa denyut kehidupan di jantung pendengarnya. “Ohh… sialan…” lenguh lelaki tua dalam batas hidup itu. Betapa beratnya menjadi seorang tetua ketua organisasi untuk mati dengan tenang saja rasanya hampir tak mungkin. Apa yang Tasha katakan? mereka belum siap? jadi bila siap mereka akan memberikan sebuah upacara perpisahan denganku dengan cara memotong semua untaian selang sialan ini? Haasshhhaahhh. “Ingatkah ayah, harapan Juno ada di sana.” Tasha membisikkan nama putra tunggalnya. Menghembuskan semangat hidup bagi ayahnya. “Kita juga akan mengadakan perjalanan, inspeksi langsung ke Indo.Co yang ada di Pari Pesiar. Bukankah ini menarik.” bujukan Tasha tepat pada sasaran. “Oooh… Pari Pesiar...” lenguhan halus dari mulut Ratsuya menyebutkan sebuah nama tempat yang bagi kebanyakan orang seperti tempat yang tak tergapai. Ratsuya kesulitan menyentuh layar smartphonenya. Tasha mencoba membantunya lagi, tapi dengan gagah, tangan bergetar Ratsuya mengibaskannya. Ratsuya memberi tanda bahwa ia ingin melakukan pekerjaan itu sendiri. Transaksi berjalan. Senyum Tasha terkembang, menatap mata tanpa kata itu. Keduanya menatap gairah di tayangan yang terpantul di dinding kamar. Para penari berseragam perawat superseksi berdandanan super menor menari diiringi jinggle Pari Pesiar. *** " Apa yang lebih nikmat selain badai adrenalin yang menyembur ke dalam aliran darah saat kita berjudi? Badai biokimia yang menjadi candu. Kali ini kami menjanjikan badai yang lebih dahsyat di..." Pari Pesiar “Yaa…aku sudah baca Alek.” Sang penerima pesan, Zaki telah menyalakan remote control smartTVnya. Dia melihatnya dari atas tempat tidur. Dia bicara dengan temannya yang menyelinapkan gambar wajahnya ke dalam sekotak kecil di ujung kanan atas monitor. “Jadi ?” Alek terlihat penasaran menunggu pendapat temannya. “Aku tak akan mampu membayarnya.” Zaki membayangkan berapa rupiah yang harus disediakan untuk pemesanan. “Bisa dibayar dengan apa saja.” Alek mencoba meyakinkan Zaki. “Apa saja?” tanya Zaki. “Gerakan kursornya ke menu transaksi.” Perintah Alek. Zaki menggerakan remotenya. Kursorpun bergerak. Menu Transaksi memberikan beberapa pilihan. Matanya menari-nari redup gelisah. Lalu matanya perlahan membuka dan membaca ketakjuban. “Haaaaaaaaaaa…….?!” Ia tak percaya dengan apa yang telah ia baca. “Jadi…?” yang diseberang sana terlihat sangat tidak sabar. “Kau?” Tanya Zaki juga dengan segala perasaan yang kacau. “Yah… tentu saja menu orang yang berhutang banyak… hueheheheheh…” tawanya terdengar sinis. “Kalau kau ikut, Aku pun ikut!” transaksi pun dilakukan dengan mata terpejam. Sebuah transaksi teraneh dan tergila yang pernah ia lakukan. Di dunia maya, administrator PARI PESIAR mengetikan : Status Penumpang : Komoditas terbatas. *** David Constanav, pengusaha muda lunglai, saat melihat berita Tsunami yang meratakan sejumlah kota-kota pelabuhan. gedung Apartemen tepi lautnya, tak bisa menghindar dari Tsunami. Gedung apartemen megah itu runtuh oleh gempa, tersapu oleh Tsunami. Selain gedung Apartemen, David Constanov juga memiliki beberapa resort yang bertebaran di sepanjang pantai Indonesia. Genpa yang diikuti Tsunami itu telah membuatnya bangkrut –secara mendadak- tak terduga, tanpa persiapan apapun. Memang menurut ramalan cuaca dari SADEWA akan ada gerakan badai di sepanjang lautan selatan Indonesia. Beberapa kilometer dari pinggir pantai. Tapi nyatanya, badai itu menyapu bersih sepanjang pantai selatan Indonesia. Badai itu adalah badai kesedihan dan keputusasaan. David membayangkan semua hutangnya. Hutangnya pada sindikat bank kelas kakap. Selain itu David telah menjanjikan asuransi bencana alam pada para pelanggannya, padahal dana asuransi itu hanya fiktif belaka. Belum lagi pesangon para pegawainya yang akan PHK mendadak, juga tagihan para kontraktor bangunan. Lalu bagaimana dengan keluarga besarnya yang menggantungkan hidup padanya? Ayahnya, Adik-adiknya, Ipar-iparnya, sepupu-sepupunya, Lalu terdengar jinggel PARI PESIAR bernyanyi di SmartTV yang sedang menyala, mengganti berita badai yang meratakan resor-resornya sepanjang pantai selatan Jawa, Sumatra, Bali, Lombok, Papua. “Untuk anda yang dilanda badai kesedihan, rasa ingin bunuh diri karena dunia tak menyisakan kehidupan apa-apa? Bila dunia atas tak menjanjikan apa-apa, bagaimana bila dibawah sini?" "Di Pari Pesiar." "Dengan aneka fasilitas…" "Aneka harapan, karena di sini anda akan menemukan sebuah impian yang nyata. Sangat nyata. Senyata bila anda melakukan transaksi melalui smartphone anda.” Iklan itu seolah terhubung dengan nasib seseorang. Algoritma mesin yang sungguh luar biasa! David melakukan –pouse- untuk sebuah tayangan menu pilihan fasilitas-tarif-dan janji yang akan ia dapatkan. Bila di atas sini aku telah terhempas, maka dibawah sana mungkin ada kesempatan lain. Yang pasti aku dapat menikmati hidup sambil melayang. “Tulinut! Tulinut!” Smartphonenya berbunyi. “Oh, putraku… bunda (tirimu) sudah melahirkan adikmu… datanglah ke sini!... dia manis sekali... hidungnya hidungmu… matanya, bibirnya… semuanya... adalah fotocopy dirimu.” Suara bergetar dari seorang tua terdengar bahagia. Lewat layar smartphonenya, David melihat wajah ayahnya, dan Ibu tirinya. Lalu David dapat melihat bayi perempuan yang baru dilahirkan ibutirinya . David hanya bisa tersenyum masgul. Bagaimana mungkin bayi itu sepertiku, dia itu anakmu, bukan anakku. Kini ada satu mulut lagi yang harus aku ‘penuhi’ dengan makanan dan kesenangan dunia. Tega sekali ayahnya menghubunginya disaat seperti ini. Di saat badai itu menerpa habis-habisan alam pesisir dan juga keuangannya. Tidak tahukah ayah, bahwa aku sedang jatuh ke dalam jurang? Atau ayah pikir, kelahiran adik tiriku dapat menghiburku? “Maukah kau mendapat kehormatan untuk memberikan nama bagi adik barumu?” tanya ayahnya gemetar karena tua. David menarik nafas lama, tangannya mengepal, menahan gejolak rasa kacaunya. “Beri dia nama …Kijati.” Jawab David pendek. Hatinya bergolak tak karuan, oh ayah, apakah ayah lupa akan umur ayah? Apa ayah tak bisa mendengar suara gemetar ayah yang memancing malaikat maut. Ayah, kenapa kau warisi aku dengan adik tiri baru? “Kijati? Adakah artinya, David ?” tanya gemetar ayahnya. “ Beri dia nama Kijati, agar ia menjadi manusia dengan hati yang kuat menahan badai apapun! Seperti pohon Jati.” Kata David. “Oh Kijati? hati yang kuat menahan badai? ya, Kijati Constanov nama yang bagus.” tanya wanita muda itu senyum cerahnya senyum yang tak dapat menyembunyikan rasa lelahnya. Bagus! Aku berhasil mendapatkan nama keluarga besar ini. Constanov, untuk nama putriku. Constanov adalah nama dinasti salah satu trah tinggi Wangsa Sebelas. “Kapan kau ke sini? Pihak klinik memberitahukan kami, bahwa ada masalah dengan asuransi’kami’.” Tanya si Ayah berwajah sendu. “ Jangan khawathir, Ayah, aku segera ke sana!” kata David mantap. Haasssaahh! Mereka pasti langsung memblokir semua akses uangku. Maaf Ayah, aku harus segera menghilang dari semuanya, untuk sementara. David menatap kembali Smartphonenya. Lalu dia dengan mantap memijit remote control smartTV. Dia melakukan transaksi, untuk ikut dalam PARI PESIAR. Tanpa sepengetahuan David Constanov, datanya secara otomotis tercetak data pendaftar: Status Penumpang : Komoditi terbatas. *** Bengkel PARI PESIAR, adalah tempat kerja dibalik layar, sebuah manajeman Pari Pesiar. Sekelompok orang sedang nampak berlatih di aquarium raksasa yang sengaja dibuat untuk melakukan pelatuhan khusus ini. “No! no! no!…ulang move-move…yes…pose…! Angel-Dewi-Intan-Yes… memutar… right! Good, good,… oh… ulang-ulang-ulang!” jelas sekali Gigih, si pengarah gaya, itu gemas, tangannya bertepuk-tepuk terus. Gigih harus maklum karena peragawati-peragawati itu memang hanya untuk diatas cat walk bukan untuk di bawah air sana. Dia belum juga melihat ide koreografinya terwujud dengan gerakan para peragawati itu. Aquarium raksasa yang dilengkapi dengan binatang laut melengkapi latihan peragaan kostum selam di dalam air. Para peragawati berenang ke permukaan, lalu membuka snorkelnya. Menghirup oksigen langsung. Gigih berlari menaiki tangga menuju lantai atas, dimana ia bisa melihat para peragawatinya secara langsung. “Bagaimana?” Jatnika sang desainer bersidekap. Ia telah menunggu di sana. Wajahnya tenang. Sangat berbeda dengan para krunya yang mulai lelah. Angel salah satu peragawatinya melambaikan tangannya, lalu berenang menepi. “Aku menyerah…” katanya, lalu keluar dari aquarium raksasa itu. “Bagaimana Kostumnya?” Tanya Jatnika jongkok di tepi kolam dan menyentuh pelindung kepala hasil karyanya. “Oh! Seperti biasa, bajunya 100% sempurna! Tapi aku terlalu capai.” Angel tergolek di tepi kolam. Tangannya menggapai botol minuman yang diacungkan asisten Jatnika. Kru Gigih yang lain menyambut Devilia dan Intan yang menyusul menepi. “Saya sudah pesan tempat untuk kalian semua. Di sana berkumpul semua orang yang siap membeli produk kita. Jadi jangan kecewakan saya.” Jatnika ngeloyor pergi. “Tenang Bos, aku janji semua pasti beres sesuai jadwal.” Angel mencium dua jarinya tanda sebagai janji. “Kenalkan ini Roro, dia akan ikut perjalanan ini. Dia sangat berpengalaman dengan air, dia akan membantu, melatih dan mengarahkan gaya kalian di dalam air.” Gigih mendorong gadis yang terlihat paling muda diantara mereka. “Aaah.. ini bukan penghinaan bukan?” Devilia memandang rendah gadis mungil yang bergaya canggung di depannya. “Dia? Melatih kita?” Intan melirik Roro dengan pandangan merendahkan. “Saya Roro. atlit selam indah.” kata gadis berkulit sawo itu. “Oooooooooooooooo” ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD