Hugo masih menyeringai dan terlihat sangat menikmati rintihan Melia. Ia maju dengan lapar dan menghampiri wanita yang masih kesakitan setelah menghantam tembok itu. Lalu Hugo menyambar tubuh ramping Melia dan kembali melumat bibirnya.
Sementara tangannya kembali menyerang Melia. Mempermainkan dadanya dan meremas-remas bagian tubuh lainnya dengan kasar hingga wanita itu mengerang keras.
“Arrrghh, Hugo!” teriak Melia yang merasa nyeri pada tubuhnya. Hugo memiliki kecenderungan berhubungan dengan kasar, dan ia akan lebih senang saat wanitanya berteriak kesakitan. Sebaliknya Melia tidak pernah merasakan nikmat bersama Hugo, yang ia rasakan hanya rasa sakit. Memar di tubuhnya dan terlebih sakit di hatinya.
“Kau sangat seksi, Melia. Ayo lakukan gerakan seksi seperti biasanya," pinta Hugo yang terus menciumi wajah dan leher Melia sambil kedua tangannya terus mempermainkan d**a wanita itu dan sesekali meremas bokongnya.
Melia pun menurut walaupun dengan hati yang panas. Ia meletakkan kedua tangannya pada bahu pria itu dengan gemetar lalu mulai menggerakkan tubuhnya sambil menempelkannya di tubuh pria itu. Kegiatan yang wajib dilakukannya setiap malam. Dan pria itu akan semakin b*******h merasakan tubuh polos Melia yang meliuk-liuk menempel di tubuhnya.
Hugo mengerang, “Argh, Melia, Melia. Aku sangat menginginkanmu.”
Dengan cepat, Hugo mencium Melia lagi dan melumat bibir wanita itu dengan buas, menggigit bibirnya dan memaksakan lidahnya menjelajah ke mulut wanita itu.
Sementara itu, kedua tangan Hugo yang bebas itu mulai membuka kancing kemejanya sendiri dengan cepat. Dengan sekali hentak, kemeja itu terlepas dengan beberapa kancing yang jatuh dan berdenting pelan saat mengenai lantai. Lalu pria itu secepat kilat membuka dan menurunkan celananya.
Setelah semua bajunya terlepas, Hugo kembali menyentuh Melia. Tangan kiri Hugo menjambak rambut wanita dengan kasar hingga kepala Melia mendongak dan Hugo mulai menciumi lehernya lagi. Sedangkan tangan kanan pria itu dengan bebas menyentuh paha mulusnya. Tangan kanan Hugo bergerak terus menuju pangkal paha wanita itu, membukanya, dan dengan kasar mengangkat satu kaki wanita itu.
Melia menahan napasnya saat Hugo menyatukan tubuh mereka dengan cepat. Kepalanya masih mendongak akibat eratnya tangan Hugo menggenggam rambutnya.
Pria itu terus menggerakkan tubuhnya dengan cepat, dan tarikan di rambut Melia pun semakin mengerat sejalan dengan gerakan tubuh Hugo di dalamnya.
“Arrgh, Hugo, sakit….” Melia meringis menahan sakit. Kepalanya mulai terasa sakit karena rambutnya terus ditarik, dan pangkal pahanya terasa perih dengan percintaan kasar ini.
Hugo masih menyeringai, lalu dengan cepat ia mengganti posisinya. Ia menghentakkan tubuh Melia sampai berbalik menghadap dinding. Ia menghimpit wanita itu, mengangkat kaki kanan wanita itu lalu dengan cepat melesatkan tubuhnya kembali memasuki tubuh wanita itu.
Hugo mengguncang dengan cepat, dan Melia menahan sakit saat tubuh bagian depannya tergesek dinding. Seolah belum cukup menyiksanya, tangan kiri Hugo bergerak mencekik leher Melia dan memaksa kepala wanita itu mendongak. Sedangkan tangan kanan Hugo ditekankan tepat di bawah d**a Melia dan iapun mempercepat gerakannya.
Melia membuka mulutnya, berusaha mengambil oksigen sebanyak-banyaknya. “Akh…hakh… Hug…gooo.” Melia tercekik dan tidak bisa bernapas. Air matapun jatuh membasahi pipinya. Tapi Hugo tidak peduli dengan rintihannya dan terus mempercepat gerakan tubuhnya.
Lalu dengan tubuh yang masih menyatu, Hugo menggeser tubuh Melia ke samping meja kecil itu dan menekan punggungnya hingga membungkuk ke depan.
Plak
Satu tamparan keras mendarat di b****g Melia, meninggalkan bekas lima jari Hugo yang besar di sana. Melia meringis menahan perih dan sakitnya tamparan itu. Melia berpegangan erat pada meja itu saat Hugo kembali menggerakkan tubuhnya tanpa ampun.
Plak
Tamparan kedua di b****g Melia.
“Melia, sayangku….” erang Hugo.
Plak
Tamparan ketiga di b****g yang sama.
Hugo terus bergerak sambil mengerang nikmat dan menghujani tubuh Melia dengan remasan-remasan kasar di pinggang dan dadanya.
Seluruh tubuh Melia terasa sakit dan matanya pun tidak berhenti mengalir. Hugo benar-benar bercinta seperti binatang. Tubuh Melia sudah kesakitan dan pangkal pahanya sudah terasa perih. Tapi pria itu tetap menjejalnya tanpa ampun.
Ia mendengar Hugo mengerang keras, Melia berpikir bahwa percintaan ini akan segera berakhir. Tapi tiba-tiba pria itu menghentikan gerakannya, seolah menahan dirinya mencapai puncaknya. Ia belum rela menyelesaikan percintaan mengerikan ini.
Pria itu menarik dan menegakkan tubuh Melia lalu menghempaskannya lagi dengan kasar hingga tubuh polos itu terpental ke ranjang besar di hadapannya. Melia membuka mulutnya dan bernapas dengan susah. Melihat tubuh besar Hugo yang bergerak ke arahnya membuat ia ketakutan.
“Aku masih belum ingin mengakhirinya, Melia. Kau sangat nikmat. Aku bisa bercinta denganmu sampai pagi,” ucap Hugo sambil melangkah mendekati Melia yang sudah terbaring di ranjangnya.
Melia melirik ke samping kanannya, ia menggerakkan tangannya untuk masuk ke bawah bantal, tempat benda penyelamatnya disembunyikan.
Tapi tubuh besar Hugo telah lebih dulu menindihnya. Hugo meletakkan tangannya di samping tubuh Melia dan menguncinya di sana sehingga memaksa Melia menatap mata tajam itu. Hugo menunduk dan menciumi tubuh Melia. Ia menyapukan pipi dinginnya di wajah Melia, lalu turun ke dadanya, bermain-main di sana. Hugo menggigit dan meremas tubuh Melia dan membuat sekujur tubuh wanita itu bergetar akibat nyeri dan ketakutannya.
Namun sepertinya pria itu tidak peduli karena matanya masih menggelap dipenuhi gairah.
Wajah Melia memanas dan air matanya meluncur semakin deras.
Setiap malam ia akan selalu merasakan siksaan ini. Semakin Hugo b*******h, pria itu akan semakin gila. Ia akan menyiksa tubuh Melia tanpa ampun dengan percintaan yang sangat kasar dan menyakitkan. Dan Melia sudah tidak tahan lagi menjadi b***k seks pria ini bahkan sejak Melia sedang hamil besar saat itu.
Dulu hidupnya sangat bahagia. Walaupun hanya menjadi pekerja rendahan di perkebunan, tapi ia hidup bahagia bersama Jack, pria yang sudah menjadi kekasihnya selama 6 tahun terakhir. Bahkan Melia hamil dan mereka begitu bahagia menantikan kelahiran putri mereka.
Tapi kebahagiaan mereka tiba-tiba berubah menjadi mimpi buruk saat Hugo menemukan Melia dan menginginkannya. Hugo bahkan b*******h melihat Melia dengan perut hamilnya yang saat itu menginjak usia tujuh bulan. Melia diambil paksa dari Jack. Dan semua orang sudah mengetahui bahwa peraturan Hugo adalah peraturan yang berlaku. Ia akan mengambil siapa saja untuk menjadi budaknya atau membunuh siapa saja yang ia Inginkan. Dan semua itu sah-sah saja dilakukan dalam pemerintahan Hugo.
Sejak saat itu hidupnya berubah. Hidup bahagianya berubah menjadi neraka baginya. Pria itu menghajarnya dengan percintaan kasar tanpa ampun. Hingga bayinya pun lahir prematur. Dan Melia pun mulai disuntik bermacam-macam obat agar segera memulihkan kondisinya pasca melahirkan, agar tetap bisa memuaskan hasrat sang penguasa.
Melia sudah tidak sanggup lagi. Namun apa yang bisa dilakukan oleh pekerja rendahan sepertinya? Ia hanya beruntung bahwa pria berkuasa itu menginginkannya dan mengangkat derajatnya dari pekerja rendahan menjadi simpanan penguasa. Dan hanya ada dua pilihan di tempat ini, menurut atau mati. Namun hari ini, tekadnya sudah bulat. Sekalipun harus mati, Melia harus mengakhiri siksaan ini.
Hugo menyeringai dan membuka paha Melia. Ia memposisikan dirinya untuk kembali memasukinya saat Melia dengan gelap mata menyambar pisau di bawah bantal itu dan menusuknya asal dan mengenai perut kiri pria itu.
“Akkhhh…” teriak Hugo saat merasakan benda tajam itu menusuk perutnya.
“Mari kita akhiri semua ini, Hugo!” teriak Melia sambil berderai air mata saat ia menekan pisau itu menancap lebih dalam ke perut Hugo.