Bab 14: Selamat Datang di Rumah, Pecundang

1033 Words
Fajar menyingsing di perbukitan Sisilia saat mobil jip terbuka yang dikendarai Dante menderu masuk ke halaman Vila Valenti. Elena turun dengan kondisi yang mengenaskan gaun sutranya robek hingga ke paha, rambutnya yang biasanya rapi kini berantakan bekas tertiup angin laut, dan ia masih memegang sepatu hak tingginya yang patah sebelah kiri. Berjalan lunglai di ikuti Dante, kondisi Dante juga tak jauh beda dengan Elena, celana sebelah kiri ya robek di bagian lututnya. Kemeja yang biasanya rapi berdasi dan di masukkan kedalam celana kini telihat seperti seorang yang baru saja di putus hubungan kerja, dan jas nya ia sampirkan di pundak sebelah kiri. ​Donna Sofia berdiri di teras, mengenakan jubah hitam sutra sambil memegang secangkir kopi kental. Ia tidak bergerak, hanya mengerutkan dahi dan matanya memindai setiap inchi kekacauan di depan matanya. Ada sedikit rasa khawatir melihat mereka berdua, tapi Donna Sofia ingat jika dua orang yang sedang berjalan ke arah nya bukan orang yang bisa di kalahkan dengan mudah. Terbukti mereka pulang dengan utuh, hanya tampilannya saja yang mengenaskan. Bisa di pastikan musuh menderita lebih parah dari ini. Apa lagi disini ada Elena 'sang CEO' yang anti untuk di kalahkan. ​"Dante," suara Donna Sofia tenang, namun mengandung getaran guntur. "Aku mengirimmu ke Roma untuk mengambil dokumen keluarga, bukan untuk mengikuti kompetisi gulat jalanan. Lihatlah kau membuat gaun sutra menantu ibu menjadi seperti itu." ​Dante mendekati ibu nya dengan kemeja yang kancingnya hilang tiga. "Ibu, ada sedikit... komplikasi dengan Alessandra." ​Donna Sofia mengalihkan pandangannya ke arah Elena mencari penjelasan. Elena, yang biasanya punya jawaban logis untuk segala hal, hanya bisa mengangkat bahu. "Secara teknis, Nyonya, kami berhasil. Saya mendapatkan dokumennya, melumpuhkan tiga agen The Board, dan merusak reputasi seorang Baroness dalam waktu kurang dari enam jam. Efisiensi operasionalnya sebenarnya cukup tinggi jika Anda mengabaikan biaya kerusakan pakaian." Elena menjawab dengan mengangkat ujung gaunnya. Donna Sofia semakin mengerutkan dahi nya, mencoba mencerna apa yang sebenarnya sudah terjadi. "Sudah lah, kalian berdua masuk dulu dan ceritakan semua di dalam." Donna Sofia masuk ke dalam rumah dengan di ikuti Elena dan Dante. ​Interogasi di Meja Sarapan ​Donna Sofia memberikan isyarat agar mereka masuk ke ruang makan. Di ruang makan, sebuah meja panjang sudah dipenuhi dengan roti segar, madu, dan keju. ​"Duduk," perintah Donna Sofia. "Ceritakan padaku bagian di mana Alessandra mencoba merebut putraku kembali." Donna Sofia memulai interogasi. ​"Dia mencoba menggunakan 'protokol masa lalu' untuk mengintimidasi saya, Nyonya," Elena bercerita sambil mengunyah roti dengan lapar. "Dia menganggap saya hanya teknisi. Jadi, saya meretas sistem keamanannya dan melaporkan koleksi seninya ke polisi." Elena mengadu dengan mulut masih sibuk mengunyah. "Siapa suruh dia menyebutkan teknisi, jadi ya aku melakukan nya sesuai dengan apa yang teknisi lakukan." Sambung Elena. ​Donna Sofia terdiam sejenak, lalu sebuah senyum tipis—hampir tak terlihat—muncul di wajahnya. "Kau melaporkannya ke polisi? Di Roma, itu sama saja dengan mengusirnya dari pergaulan sosial selama satu dekade. Sangat... berdarah dingin. Aku suka." ​Namun, ekspresi Donna Sofia kembali mengeras. "Tapi, Elena. Kau membiarkannya menyentuh Dante. Itu adalah kegagalan sistem." ​"Hati-hati, Ibu," Dante menyela sambil tertawa kecil. "Elena hampir menghancurkan Palazzo itu demi aku." Donna Sofia hampir menjatuhkan rahang nya mendengar ucapan Dante, tapi kembali lagi mengingat ini adalah Elena jadi Donna Sofia sudah tidak heran lagi. ​"Baiklah cukup soal Alessandra," Donna Sofia berdiri. "Masalah yang sebenarnya adalah ini." Ia menunjuk gaun yang dikenakan Elena. "Ini adalah sutra dari butik khusus di Milan. Dan kau merobeknya untuk apa? Untuk memanjat balkon?" ​"Tepatnya untuk melakukan tendangan memutar ke arah dagu seorang pria seberat 90 kilogram," Elena mengoreksi. "Sudut momentumnya mengharuskan saya merobek jahitan samping agar kaki saya bisa bergerak bebas." ​Donna Sofia memijat pelipisnya. "Dante, kau akan menikahi seorang prajurit atau seorang akuntan?" ​"Aku akan menikahi upgrade sistem, Ibu, atau mungkin keduanya." jawab Dante sambil mengedipkan mata pada Elena. ​Donna Sofia menghela napas panjang. "Franco! Bawa penjahit terbaik dari Palermo ke sini sekarang juga! Kita punya waktu tiga hari sebelum pernikahan, dan menantuku terlihat seperti baru saja selamat dari kecelakaan kapal. Dan Elena..." ​"Ya, Nyonya?" ​"Lain kali kau bertemu mantan kekasih suamimu, jangan gunakan komputer. Gunakan pisau dapur. Lebih sedikit jejak digitalnya, dan lebih memuaskan secara psikologis." ​ Pembalasan ala Donna Sofia ​Sore harinya, Elena melihat Donna Sofia sedang berbicara di telepon antik di ruang kerjanya. Suaranya rendah dan penuh otoritas. ​"Ya, ini Sofia Valenti... Sampaikan pada keluarga Alessandra di Roma, bahwa mahar yang mereka harapkan dari properti di Sisilia telah... diaudit ulang. Harganya sekarang nol. Dan katakan pada Baroness, jika dia berani menapakkan kakinya di selatan Napoli, dia tidak akan hanya berurusan dengan polisi, tapi dengan aku." ​Donna Sofia menutup telepon dan melihat Elena berdiri di pintu. ​"Itu disebut 'Firewall Manual', Elena," ucap Donna Sofia sambil tersenyum tenang. "Tidak butuh listrik, hanya butuh nama besar keluarga." ​Elena terpukau. "Nyonya Valenti itu bahkan jauh lebih efisien dari tendangan memutar yang aku lakukan kemarin, dan bolehkah saya mencatat struktur perintah Anda tadi? Itu adalah contoh negosiasi win-lose yang sangat efisien." ​"Masuklah, Elena. Mari kita bicarakan tentang daftar tamu. Aku dengar kau ingin menggunakan sistem RSVP berbasis kode QR?" ​"Ya, itu akan memangkas waktu registrasi sebesar—" ​"Lupakan. Di Sisilia, orang datang karena mereka diundang, atau mereka datang karena mereka ingin menantangku. Kita tidak butuh kode QR. Kita butuh lebih banyak amunisi di balik altar." "Tapi nyonya..." "Sudah lah bukankah baru saja kau melihat bagaimana efisien nya sebuah nama keluarga?"​ Elena terdiam dan mengangguk menyetujui ucapan Donna Sofia, ibu mertua nya benar, terkadang tidak semua hal perlu aturan sistem. Mempersiapkan Altar ​Malam itu, Elena duduk di balkon, melihat Dante yang sedang berlatih menembak di kejauhan. Ia menyadari bahwa masuk ke dalam keluarga Valenti bukan hanya soal mencintai Dante, tapi soal menjadi bagian dari sebuah sistem operasi kuno yang sangat kuat. ​"Dante benar," gumam Elena. "Ini bukan lagi soal angka. Ini soal keluarga." ​Ia membuka laptopnya satu terakhir kali sebelum hari besar. Ia menghapus semua data tentang Alessandra. Bukan karena ia takut, tapi karena Alessandra sudah tidak lagi relevan dalam algoritma hidupnya yang baru. ​Status: Sistem Stabil. Ancaman di Roma: Tereliminasi. Target Selanjutnya: Pernikahan Tanpa Celah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD