"Cari dia sampai ketemu, Tom! Aku tidak mau sesuatu terjadi padanya!" seru Samuel pada sang pengawal pribadi. Pria yang semalam tidur bersama Meisya itu terus saja uring-uringan semenjak mendapati kamarnya telah kosong, begitu dia kembali ke sana pagi tadi.
Ya, semalam Samuel tidak langsung kembali ke hotel, tetapi pergi ke suatu tempat untuk menenangkan diri. Dia juga menyempatkan ke dokter untuk mengobati luka di bibir dan lebam di wajahnya, akibat perkelahian dengan kekasih gelap dari sang calon istri. Hal itu membuat Samuel sangat menyesal dan terus menyalahkan diri, kenapa tak langsung balik ke hotel saja agar dia tidak kehilangan jejak gadis yang semalam bersamanya.
Samuel seharian ini sudah mencari-cari keberadaan Meisya dengan petunjuk yang dia dapatkan. Namun, dia sama sekali tidak mendapatkan hasil seperti yang diinginkan. Bahkan, ketika Samuel dan sang pengawal mendatangi sekolah Meisya, berbekal seragam identitas sekolah gadis itu yang masih dia ingat dengan baik, pria itu pun tidak mendapatkan keterangan seperti yang diharapkan.
"Maaf, Mas. Kami tidak dapat memberikan identitas siswa-siswi kami kepada sembarang orang," jawab bagian kesiswaan ketika Samuel menanyakan tentang seorang siswi bernama Icha, sesuai nama yang dia dengar dari bibir gadis belia yang tidur bersamanya semalam.
Pria berahang tegas itu tak mau menyerah. Dia sodorkan kartu nama ke hadapan pria paruh baya yang bekerja di bagian kesiswaan di sekolah bonafide tersebut. Pria berkacamata itu menatap sekilas kartu nama yang diberikan oleh Samuel, lalu tersenyum.
"Nama saya sebagai jaminannya, Pak. Saya benar-benar tidak memiliki niat buruk pada siswi Bapak," kata Samuel meyakinkan.
"Maaf, Mas. Kami tetap tidak dapat mengabulkan permintaan Anda. Kecuali, jika pihak kepolisian yang meminta, dan itu untuk keperluan penyelidikan, baru akan kami berikan," tolaknya tegas, membuat Samuel menghela napas berat.
Satu harapannya telah pupus. Masih adakah harapan lain untuknya bisa menemukan Meisya? Hati Samuel tercubit kala mengingat jika gadis yang semalam dia manfaatkan untuk melampiaskan kemarahan, ternyata masih perawan.
Samuel yang mengantongi gambar Meisya, yang dia dapatkan dari potongan rekaman CCTV ketika semalam dia membawa gadis itu ke hotel, lalu menanyakan pada beberapa siswa di sana. Akan tetapi, tak ada satupun yang dapat memberikan keterangan seperti yang dia harapkan.
"Kami tidak yakin gadis itu teman kami di sekolah ini, Om. Seragamnya memang seragam sekolah sini, tapi wajahnya tidak kelihatan," jawab salah seorang siswi ketika Samuel menunjukkan gambar tersebut.
Ya, dari sekian banyak gambar yang berhasil terekam oleh CCTV di hotel tersebut, satu pun tidak ada yang menampakkan wajah Meisya. Ketika pagi tadi gadis itu keluar dari hotel, Meisya berjalan sambil menunduk, dan seperti sengaja membiarkan rambut panjangnya menutupi sebagian wajah. Sementara CCTV yang berada di bagian depan hotel, sedang dalam perbaikan, sehingga ke mana arah Meisya pergi, dan menaiki apa, tidak dapat terlacak. Samuel pun meninggalkan sekolah tersebut dengan tangan hampa.
"Ke mana lagi saya harus mencari gadis itu, Tuan Muda? Bahkan semua tempat sudah kita datangi." Suara Tom, menyeret Samuel dari lamunan panjangnya.
"Aku tidak mau tahu bagaimana caranya, Tom! Pokoknya, kamu harus bisa segera menemukan gadis yang bernama Icha itu!"
"Ba-baik, Tuan Muda. Akan saya usahakan." Tom membungkuk hormat, kemudian segera berlalu dari kamar hotel sang tuan karena tidak ingin membuat Samuel semakin marah padanya.
Wajah pengawal pribadi Samuel itu, terlihat putus asa ketika keluar dari kamar sang tuan. Sebab, sedari pagi dia dan tuan mudanya sudah berkeliling kota untuk mencari Meisya. Tempat-tempat sarana umum juga sudah mereka datangi, barangkali saja jejak Meisya bisa mereka dapatkan, tetapi tak ada satu pun petunjuk di sana. Termasuk stasiun, tempat Meisya tadi pagi membeli tiket, dan naik kereta api dari sana.
"Ke mana kamu pergi, Cha? Kenapa tidak menungguku dan meminta pertanggungjawaban dariku? Aku pasti akan bertanggungjawab, Cha, karena aku bukan pengecut!" Samuel menyugar rambutnya frustrasi lalu berteriak dengan kencang, setelah pintu kamarnya ditutup oleh sang pengawal dari luar.
'Sepertinya, dia bukan gadis dari keluarga biasa. Jika dia dari keluarga yang biasa saja, tidak mungkin dia bersekolah di sekolah bonafide yang terkenal sangat mahal itu. Lalu, apalagi yang harus aku lakukan sekarang? Haruskah aku melapor pada polisi dan meminta bantuan mereka untuk melacak, siapa gadis itu sebenarnya?' Samuel bermonolog dalam diam.
"Tidak-tidak! Jika aku membuat laporan, otomatis polisi akan mencari tahu banyak hal, kenapa gadis itu bisa bersamaku. Lebih baik, aku meneruskan pencarian sendiri. Aku tidak mau masalah hidupku menjadi konsumsi publik karena para awak media pasti akan menyorotku jika melibatkan polisi." Samuel menggelengkan kepala.
Pria berambut ikal sebahu itu lalu membanting tubuh lelahnya ke atas pembaringan, mencoba memejamkan mata untuk mengistirahatkan jiwa dan raga. Berharap ketika terbangun nanti, Meisya sudah kembali ke kamarnya.
Keesokan harinya, Meisya mendatangi toko kue yang letaknya tidak jauh dari stasiun. Hanya butuh waktu sepuluh menit berjalan kaki dari kontrakan rumah petak yang dia tempati, Meisya sudah tiba di toko yang lumayan besar tersebut. Meisya lalu menemui pemiliknya langsung yang kebetulan saat itu sedang berada di toko.
"I-ini beneran, saya diterima bekerja di sini, Bu?" tanya Meisya dengan tatapan tidak percaya. Sebab, di awal wawancara pemilik kue seperti kurang sreg terhadap Meisya. Mungkin karena usia gadis itu yang masih sangat belia dan dianggap tidak mampu untuk bekerja dengan baik.
"Iya, kamu saya terima, tetapi menjadi pramuniaga. Bekerjalah yang rajin dan jangan sungkan bertanya pada seniormu jika kamu tidak tahu."
Ya, Meisya diterima sebagai pramuniaga. Sebenarnya bagian dapur yang membutuhkan karyawan. Berhubung Meisya tidak pandai membuat kue dan tidak paham dengan bahan-bahan yang digunakan untuk membuat kue, gadis itu akhirnya ditempatkan di bagian depan.
"Terima kasih banyak, Bu. Saya akan bekerja dengan sebaik-baiknya," kata Meisya dengan netra berbinar bahagia.
Pagi itu juga, Meisya mulai bekerja menjadi pramuniaga di toko tersebut. Dia banyak belajar dari karyawan lain yang sudah lama bekerja di sana. Meisya yang supel, kehadiran gadis itu tentu saja mudah diterima oleh para seniornya.
Dia bekerja dengan sangat rajin. Kerjanya juga sangat cekatan. Sama sekali tidak menunjukkan jika dia adalah putri seorang pengusaha yang biasanya hanya bisa bermanja-manja saja. Sebab, selama ini dia sudah biasa melakukan pekerjaan rumah atas suruhan sang ibu sambung, jika papanya sedang ke luar kota.
"Sya. Yuk, berkemas! Sudah jam empat," ajak salah seorang temannya. Mereka lalu merapikan etalase karena sudah waktunya bagi mereka untuk pulang.
Setelah memastikan semua rapi, mereka semua menuju ruangan samping untuk sekadar sharing, membahas apa-apa saja yang kurang atau perlu diperbaiki agar esok mereka bisa memberikan pelayanan kepada pelanggan dengan lebih baik lagi. Begitulah kebiasaan di toko tersebut, sebelum semua karyawan pulang. Sehingga toko kue itu mengalami kemajuan pesat dalam waktu singkat karena pemilik mendengarkan masukan dari para karyawan.
"Mam, ada barang baru, ya?" celetuk seorang pemuda yang baru saja datang, seraya menatap Meisya dengan tatapan yang sulit ditebak.
bersambung ...