Hazel berlari keluar dari kerumunan, langkahnya cepat dan tak terarah. Ia mencari ruang, tempat yang cukup sunyi untuk bernapas. Dinding kastil tua menjadi sandaran tubuhnya yang gemetar. Telapak tangannya menekan d**a, mencoba menenangkan detak jantung yang terasa seperti dipukul dari dalam. Wajahnya pucat. Matanya menatap lurus, tapi pikirannya mundur bertahun-tahun ke belakang. Seseorang yang seharusnya hanya tinggal dalam kenangan, kini berdiri nyata di hadapannya, membawa semua yang belum selesai. “Kenapa dia ada di sini? Siapa yang mengundangnya? Ivan?” gumam Hazel, suaranya nyaris tak terdengar. Tapi sebelum rasa kagetnya sempat hilang, suara itu datang lagi “Apakah kehadiran aku membuatmu ketakutan, Hazel?” Hazel menoleh. Refleks. Napasnya tercekat. “Ka-kamu… Kamu ngikutin aku

