Nostalgia

1081 Words

Penerbangan panjang akhirnya berakhir di Jakarta. Ivan dan mertuanya, Cedric White, menjejakkan kaki di bandara dengan wajah lelah tapi lega. Setelah beristirahat sebentar di hotel, keduanya sepakat keluar untuk mengisi perut yang mulai protes. “Pa, gimana kalau kita makan di warung aja, bukan di restoran?” ujar Ivan sambil melirik wajah mertuanya. Cedric sempat mengernyit, lalu tertawa kecil. “Sure, kenapa nggak? Papa udah lapar banget, asal makanannya enak.” Suaranya mantap tapi santai. Udara sore Jakarta lembap tapi ramah, membawa campuran aroma rempah, bensin, dan gorengan dari pinggir jalan. Suasana yang agak asing bagi Cedric, tapi entah kenapa terasa menyenangkan. Dua pria beda generasi itu melangkah masuk ke sebuah warung nasi ayam penyet di pinggir jalan. Tak ada rasa kikuk me

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD