CEO - 5

1161 Words
Pagi-pagi Eka merasa pusing. Saat seperti ini, ia butuh dekapan d**a mama montoknya. Bisnis Ena-Ena miliknya dan Ryan mulai sibuk. Beberapa minggu ini ia disibukkan dengan kegiatan memberi pelatihan pada warga desa Ryan, kemudian negosiasi pasokan bahan baku, serta mengurusi mesin produksi yang terbilang masih minim. Baru dua hari kegiatan produksi berjalan. Hasil produksi juga tak seberapa. Tapi semangat Eka dan Ryan tetap seterong dan membara. Karena terlalu memforsir diri, tubuh Eka diserang virus minta kawin. Eh, virus demam. Selama di desa Ryan, ia tinggal di rumah sahabatnya. Kedua orang tua Ryan tidak tinggal di Kediri, melainkan jadi TKI di Hongkong. Dan Ryan tinggal bersama sang nenek. "Yan, gimana soal distribusinya? Lo kan orang sini, bisa lah cari partner dagang." Ryan mengangguk. Tugasnya mencari partner bisnis berupa toko yang akan ia titipi keripik Ena-Ena, lumayan membuahkan hasil. "Aman lah. Temenku banyak di sini. Aku juga udah dapet tempat juga buat kita nitip dagangan." Rasa pusing kembali menyerang. Melihat gelagat tak beres, Ryan langsung tanggap bencana. "Kon ngelu ta?" "Hem. Badan gue meriang nih. Gue mau istirahat bentar. Lo urusin ibu-ibu deh ya. Mereka dah pada pinter kok. Rasanya juga dah mirip kayak yang produksi di Surabaya." Eka pamit masuk kamar lagi. Ia ingin tiduran saja. Baru akan membaringkan tubuh, ponselnya berbunyi. Sepertinya dari aplikasi WA. Rupanya dari sang adik yang suka memorotinya. Entah untuk apa saja uang yang ia beri itu. Buntelan Rendang Mas Eka curiga. Setiap adiknya berlaku manis padanya, pasti ada maunya. Ap? Gk usah kash cipok. Ggi lo kudisan! Buntelan Rendang Duit dong, Mas. Bwt ap lgi. Lo bli mi ayam sama gerbknya apa sih? Mint duit mulu. Pst bwt bli gerobk buat lo telen lgi kan? Buntelan Rendang Gak mas. Gue gak nafs lgi sam mi ayam aplg gerbknya. Gue lagi nafsu sma apel nih. Duit gue kurg buat beli. Kasih ya... ya.... Lo beli apel sma phonx? Lo lagi nfsu sama yg asem2, jgn2 pert lo lagi berisi. Buntelan Rendang Isi nasi, rendang, bakso, siomay, sama bubur. Keren kan? Dasar lo dif. Mkan mulu kerjaan. Untg lo pinter. Ntr gue tf. Gue skit nih, bilgn mama. Butuh kelon. Buntelan Rendang Bilg aja sndri. Makash kakakq sayang. Eka meletakkan gawai di dekat bantal. Adik pertamanya, Difa selalu saja merecoki isi dompet. Apalagi akhir-akhir ini. Entah alasan buat les, beli buku, dan terakhir beli apel. Sejak kuliah, Eka memang sering memberi uang jajan Difa. Adik ceweknya itu, memang lebih subur dibanding saudara lainnya. Doyan makan apa saja, tapi paling favorit adalah rendang. *** Mama Kamu sakit beb? Uluh... anak mama atit apah? Mala rindu mam. Pngen nyusu sama kelon. Mama Beb, inget beb. Jgn khilaf nyusu ciwi lain selain mama ya. Kamu jgn menggauli yg blm sah. Iya ma. Pgn s**u coklat anget yg dibikinin mama. Kangn Mama Kmu gk pulng lgi beb? Adekmu les mulu, jrg di rumh. Duo kurcaci jg bkin mama pusing. Belum bisa ma. Lagi rintis usaha nih. Cri nafkah halal buat mantu mama ntr. Mama Emang udah ada? Belum ma. Sabar dlu napa. Butuh usha jug daptn cewek. Benerin dlu ini kerjaan. Ibu2 mash btuh bimbingan. Mama Kmu kapan bimbing perawannya kalo yg diurusin ibu2 terus. Ntr ma. Kalo dompet udh tebel. Mama Mama doain aja biar sukses usha kmu. Jgn lp minum obt beb. Jgn skit2an terus. Mama jadi gak bsa bobok mkirin kamu Ya ma. Aku mau nenen ke bukibuk dlu ya ma Mama BEBEB! Iya ma. Duh galak bner. **** Mita menguncir rambutnya sedikit lebih kencang habis berlari. Sebelum menuju kelas, ia akan menitipkan kue ke kantin kampus. Kue yang ia buat sendiri dengan alat sederhana dan bahan yang mudah didapat. Meski untungnya tak seberapa, ia senang melakukannya. Bukan uang semata yang ia dapat ketika melakukan banyak pekerjaan. Tapi juga kenalan, rasa saling berbagi, meluas jaringan dan tentu saja ... peluang besar jika suatu saat ia tengah membutuhkan sesuatu. "Mit, kacang coklatnya tumben dikit. Kenapa?" "Lagi banyak makalah, Buk. Sempet bikinnya cuma segitu." Memang benar, ia sedang dikejar tugas makalah. "Oh, kirain kenapa. Ini uang yang laku kemarin." Bu kantin kenalannya menyerahkan lembaran uang dalam kantong plastik. Sembari menunggu dihitung, mata Mita tak sengaja menangkap sebuah produk baru yang berjejer di etalase. Diambil kemudian ia baca. "Ini baru ya, Buk?" Si ibu mengangkat kepala sejenak dan mengangguk. Penasaran karena nama produknya bikin gagal fokus, Mita mengambil satu. Segera ia buka kemasannya dengan gunting yang tak jauh dari jangkauan. Mencomot satu keping, merasakan manis, asam dan renyahnya yang beradu di mulut, membuat senyum Mita terbit. "Enak juga nih." "Ini, Mit." Mita segera mengambil uang jualannya. Tak lupa ia ambil lagi untuk membayar kripik mangga Ena-Ena. Melihat kursi panjang dekat parkiran kosong, Mita menghampiri. Duduk santai, dan ia memilih melanjutkan mengetik makalahnya. Sebuah laptop ia keluarkan. Beberapa menit kemudian ia tenggelam pada tugas makalah. Sambil mengetik, tangannya sesekali mencomot keripik yang baru ia beli. "Keripiknya enak?" "Hem. Lumayan enak kok." Ada suara yang bertanya pada Mita, tapi gadis itu enggan melihat. Ia hanya merasakan ada orang yang duduk di sampingnya, dan tiba-tiba bertanya soal keripik. "Ena-ena sama gue yuk!" Sontak kepala Mita yang tadinya menunduk langsung terangkat. Menoleh pada pemilik suara yang mengagetkan sisi kegadisannya. Matanya membelalak begitu berhadapan dengan senyum sinis di sampingnya. "Kampret! Ngapain kamu di sini!" murka Mita. Segera ia melihat sekeliling. Tidak ada kandidat lain yang tadi mengatakan ingin mengajak ena-ena. Sungguh, Mita yang polos pun mengerti arti kiasan dari kata tersebut. Tentu saja karena Mita salah satu korban aplikasi Makpad yang tenar, dengan buku telah dibaca jutaan pasang mata. "Eh, gue juga mau nanya. Ngapain lo di sini? Di kampus sono ketemu lo. Di kampus sini juga ketemu lo. Jangan bilang besok gue ke PAUD dan masih ketemu lo." Alih-alih tersanjung, Mita malah melongo dengan ucapan laki-laki yang ia ingat sebagai sopir gadungan tersebut. "Mas, ini kampus aku ya. Ada hak dong kalau aku bertengger di sini? Lah, situ siapa pakek bertengger juga di sini?" "Lo kate gue burung, pakek bertengger? Burung gue anteng aja dalam sempak, kenapa lo suka amat ngomongin dia?" "Kampret!" Mita kesal bukan main. Ia sudah mendapat pelecehan verbal. Ia tak terima. Dari awal pertemuan mereka, harusnya Mita lebih mawas diri agar tak terlibat adu pedang. Eh, adu mulut. Dengan cepat ia memberesi laptop serta buku-bukunya. Mita ingin lekas pergi jauh dari manuk emprit di dekatnya ini. "Eh, woy! Mau pergi aja. Gue kan mau wawancara sama survei pembeli Ena-Ena. Malah kabur aja." Eka melambaikan tangan sembari terus memanggil Mita. Lamat-lamat ia mengingat nama gadis tukang jual foto itu. Tapi ia lupa namanya. "Woy, Rambut kuda!" Tak menoleh. "Keripik lo ketinggalan nih, Tukang foto!" Masih belum menoleh. Eka memutuskan berlari mengejar gadis tersebut. Hingga ditepuklah pundak Raisa KW itu sampai menoleh. "Hadeeehhh. Telinga lo kesumpelan lontong balap apa tempe penyet sih. Gue panggilin juga. Nih, keripik lo ketinggalan." Eka menyerahkan keripik Mita yang tertinggal. Seakan sudah salah sangka mengira akan berbuat yang tidak-tidak, Mita pun menerima sodoran keripiknya. "Oh, thanks." Sambil terus mengatur napasnya. "Jadi, kapan kita ena-enanya?" PLAAKKK! *Kamu pusing ya? _______________
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD