"Anak nggak tahu diri. Anak orang woy! Kamu apain dia, Beb!" Emil berdiri sambil menenteng selang air yang masih menyala, di depan jendela kamar Eka. Dengan mata berkobar, Emil murka luar biasa. Anak kesayangannya, malah sayang-sayangan dengan perempuan di dalam kamar. Untung saja Emil lewat depan jendela Eka yang tembus pandang. Ia jadi bisa mengintip aktivitas panas di dalamnya. Mengetuk jendela yang terkunci tak ada respons, Emil pun mengarahkan air dari selang lewat ventilasi udara di atas jendela. Eka yang kebasahan rambutnya, baru sadar jika sang Mama rupanya sudah berkacak pinggang. Sontak ia berhenti, menarik Mita agar bangun, dan bergegas membuka jendela atas perintah mamanya. Alamat mati berdiri kalau Mama Emil sudah mengamuk. "Eh, Ma, anu ... gue bisa jelasin sih Ma." Em

