Fahri menunggu seseorang membukakan pintu. Ia menjadi ciut nyali karena tahu di dalam rumahnya ada orang tua dari Khodijah.
Jawaban yang sudah ia susun rapih ketika di perjalanan, mendadak lenyap. Ia tidak tahu harus menjelaskan apa perihal sertifikat rumah yang ia gadaikan ke bank.
"Assalamualaikum, Bun aku pulang," panggil Fahri, sudah kali ia mengucap salam namun belum terlihat orang yang membukakan pintu. Saat mengucap salam yang ke empat barulah terdengar sahutan dari dalam. Umi, yang menyahut. Beliau juga yang membukakan pintu untuk anak menantunya itu.
"Fahri. Sudah pulang kamu? Ayo masuk, Abi dan Hana sudah menunggumu." Tanya Umi Latifah, sesaat setelah pintu dibuka.
Fahri mencium tangan mertuanya namun, ia tidak menjawab pertanyaan Umi. Lidahnya kelu, kata susah terucap dari bibirnya. Dalam hati ia tak henti berdoa, semoga Abi tidak memberinya bogem mentah.
Abi yang sudah selesai menunaikan sholat magrib, segera keluar dari kamarnya. Ia masih menggunakan baju gamis putih, peci putih lengkap dengan sorban. Beliau menghampiri Fahri yang baru saja akan memasuki kamarnya.
"Fahri. Jangan masuk dulu. Abi mau bicara denganmu!" Bentak Abi. Beliau bahkan menepis tangan Fahri yang ingin bersalaman dengannya.
Mendengar Abi membentak suaminya membuatnya Khodijah keluar dari kamar. Ia segera melepas mukenanya, dan keluar menemui suaminya.
"Mas Fahri. Tega kamu Mas!" Teriak Khodijah. Ia memukuli lengan suaminya. Khodijah juga menarik kerah kemeja yang dikenakan Fahri untuk meluapkan emosinya.
"Sudah Hana. Sekarang semuanya duduk dulu, biar Abi yang bicara dengan suamimu. Fahri, duduk!"
"I-iya, Abi."
Fahri, Abi dan Umi duduk di sofa, sementara Khodijah duduk di bangku kecil yang ia ambil dari ruang keluarga.
"Untuk apa kamu meminjam uang di bank dalam jumlah besar?" Tanya Abi.
"Fahri ...Fahri mencoba bisnis dengan teman, Abi." Jawab Fahri. Wajahnya tidak berani menatap ayah mertuanya.
"Bisnis apa? Jangan jangan kamu judi atau main perempuan ya! Brugggg ..." Abi menggebrak meja, membuat semua yang ada di sana terperanjat, terutama Fahri.
"Sumpah, Abi. Uangnya Fahri pakai untuk berinvestasi. Awalnya, selama tiga bulan berjalan lancar, namun, di bulan ke empat hingga saat ini Fahri tidak mendapat keuntungan yang biasanya didapat. Bahkan, Fahri tidak bisa menghubunginya, nomor teleponnya sudah tidak aktif."
"Bohong kamu, Mas. Semuanya bohong! Jadi, selama ini kamu hanya berpura pura baik. Sebenarnya tujuanmu hanya untuk mengambil sertifikat rumah kita kan mas!"
"Gak gitu , Sayang. Mas tidak pernah pura pura, mas sayang kamu."
"Bohong. Ini semua pasti demi gundikmu itu!" Teriak Khodijah. Abi dan Umi tidak mengerti apa yang Khodijah katakan, keduanya saling tatap untuk mencari jawaban.
"Kamu keterlaluan Mas. Susah payah aku mengikhlaskan diri berbagi suami, tapi kamu malah semena mena!"
"Tunggu, ini Kalian bicara apa? Apa kamu punya istri lagi, Fahri?" Tanya Abi.
Umi menghampiri Khodijah dan memeluk putri bungsunya itu. Beliau menangis, rasanya tidak rela bila anak kesayangannya dimadu.
"Jawab Fahri!" Bentak Abi. Fahri tidak berani menatap siapa pun di ruangan itu. Pandangannya tertuju ke lantai, jari jarinya memainkan kancing kemejanya paling bawah.
"I-iya Abi," ujar Fahri. Ia masih tidak berani memandangi wajah Abi yang sedang berdiri sembari bertolak pinggang.
"Kurang ajar kamu. Kurang apa putri Abi selama ini!" Abi mendekat, mencengkram kerah kemeja Fahri dan menariknya hingga Fahri berdiri. Abi menampar wajah menantunya namun tidak melepas cengkaramannya. Puas menampar, beliau menyeret menantunya ke kamar mandi lalu mengguyur tubuhnya dengan air.
Fahri hanya bisa pasrah. Dia bersimpuh di lantai kamar mandi, menerima guyuran air yang tak henti membahasi dari ujung rambut hingga kaki.
"Laki laki kurang ajar. Tega kamu menduakan anak Abi!" Beliau terus menerus menguyur menantunya menggunakan gayung untuk menyiduk air di bak mandi.
"Ampun Bi, Fahri juga tidak tahu kenapa bisa begini." Fahri mencoba menggapai betis mertuanya namun, beliau mundur ke belakang. Karena terlalu kesal, Abi memukuli Fahri dengan gayung di tangannya hingga gayung itu terlepas dari tangannya dan terpental.
Khodijah dan Umi tidak berani mendekat. Kedua wanita itu hanya bisa menangis saling berangkulan erat. Khodijah memang kesal, namun ia tak sampai hati melihat pria yang masih dicintainya itu dipukuli oleh Abinya.
"Kamu ceraikan anak Abi. Saya masih sanggup menghidupi Hana dan juga anaknya!"
"Tidak Abi. Fahri masih sangat mencintai Khodijah. Fahri mohon maafkan Fahri. Kedepannya Fahri janji, tidak akan mengecewakannya lagi," ujar Fahri sembari mengatupkan kedua tangannya, memohon ampunan.
"Pergi kamu dari rumah ini!"
"Ampun Abi, Fahri mohon ampun." Fahri meraih kaki Abi, sujud di kaki beliau meminta maaf dan berjanji tidak akan mengulangi kesalahan.
"Bangun kamu, Fahri. Telepon ayahmu. Suruh dia kemari. Biar ayahmu tahu kelakuan anaknya seperti apa!"
Abi pergi meninggalkan Fahri yang masih bersimpuh di lantai kamar mandi. Khodijah menghampiri Fahri dan memintanya masuk ke kamar mereka untuk berganti pakaian.
Khodijah memang kesal dan teramat kecewa. Namun, melihat Fahri dimarahi Abi, ia merasa iba. Di dalam kamar, Khodijah mempertanyakan kembali soal sertifikat rumah yang Fahri gadaikan. Khodijah tidak habis pikir, mengapa sampai hati Fahri melakukan hal itu.
Abi berdiam diri di kamarnya, napasnya naik turun karena emosi. Beliau beristighfar untuk meredakan emosi yang sedang meningkat saat ini. Kalau tidak memikirkan putrinya, ingin rasanya beliau memenggal kepala Fahri dengan sebilah pedang yang sangat tajam.
Setengah jam kemudian setelah Abi bisa menguasai emosinya, beliau keluar kamar. Menggebrak pintu kamar putrinya sembari meneriakkan nama Fahri.
Fahri tidak berani keluar kamar, ia meminta Khodijah yang menghadapi Abinya.
"Mana Fahri!" Bentak Abi kepada Khodijah.
"Ada di dalam, Abi."
"Apa dia sudah menelepon ayahnya? Kalau belum, biar Abi yang telepon."
"Nanti Mas Fahri telepon, Abi. Tunggu saja sampai ia berani menelepon ayahnya."
"Sekarang. Abi minta sekarang juga!" Abi membuka lebar pintu kamar, seketika Khodijah mundur ke belakang saking terkejutnya.
Abi menerobos masuk. Mencari Fahri di kamarnya. Setibanya di dalam, Abi berhadapan dengan Fahri yang sedang duduk di tepian tempat tidur. Melihat wajah menantunya itu membuat emosi Abi meninggi.
Ia memukuli tubuh Fahri. Abi juga menampar wajah menantunya beberapa kali tanpa perlawanan sedikit pun dari Fahri. Melihat suaminya dipukuli, Khodijah menangis pilu, ia rela bersimpuh di kaki Abi memohon supaya Abi-nya menyudahi.
"Abi, sudah Abi. Jangan pukul lagi. Kasihan Mas Fahri." Pinta Khodijah.
"Bangun kamu Hana. Masih mau kamu membela laki laki laknat seperti ini!"
"Hana mau bangun, asal Abi tidak memukul Mas Fahri lagi."
"Astaghfirullah hal azim. Abi kecewa berat sama kamu Fahri!" Abi menatap Fahri dengan geram karena telah menduakan putri kesayangannya.
"Maafkan Mas Fahri, Abi. Hana mohon." Khodijah bersujud di kaki Abinya. Demi seorang Fahri Hamzah, ia rela mencium kaki Abi demi mendapat maaf untuk suaminya.
Fahri yang semula duduk di tepian ranjang ikut bersujud di kaki mertuanya bersisian dengan istrinya yang lebih dulu bersujud, memohon ampunan.
"Kamu telepon ayahmu, suruh dia datang sekarang juga. Kita selesaikan urusan rumah tangga kalian!"
"Iya Abi. Fahri telepon ayah dan ibu sekarang juga, tapi Fahri mohon, jangan pisahkan kami."
"Jangan banyak bicara. Cepat telepon!"
Umi hanya bisa pasrah dan berdoa. Sebagai ibu, tentu hatinya terenyuh sekaligus sakit. Ingin rasanya beliau ikut bersujud di kaki suaminya, namun kala mengingat kelakukan menantunya ia jadi kesal dan mendukung apa yang dilakukan suaminya.
Fahri tidak punya pilihan. Ia menelepon kedua orangtuanya, meminta mereka untuk datang ke rumahnya saat ini juga. Ayah Fahri merasa suara anaknya bergetar saat berkata di telepon. Beliau mempunyai firasat sepertinya Fahri sedang dalam masalah.
Tak peduli hari sudah gelap, mereka berdua bergegas pergi ke rumah Fahri menggunakan taksi online. Jarak yang ditempuh memakan waktu 1.5 jam lamanya. Mereka juga harus merogoh kocek lumayan besar untuk ongkos taksi, namun itu bukanlah kendala utama. Orang tua Fahri lebih mengkhawatirkan keadaan anaknya yang terdengar ketakutan saat menelepon.