Bab 6 ( Perasaan Yang Tidak Karuan )

1023 Words
Gadis kecil bernama Nafa itu ternyata pemikirannya sangat dewasa, walaupun dia masih duduk di bangku taman kanak-kanan, dia juga sangat perhatian pada ibunya.  “Coba kalau masih ada ayah, pasti nanti kita bertiga bisa berkeliling dunia dengan bahagia.” Nafa melihat pada ibunya yang juga melihatnya dengan tatapan sedih. “Ayah Nafa sudah bahagia dia sana, ayah pasti akan bahagia jika Nafa juga bahagia bersama dengan ibu di sini.” Nadia memeluk putri kecilnya itu. Dalam hati Nadia, dia sangat merasa bersalah karena mengatakan kebohongan kepada anaknya. Nadia mengatakan jika ayah Nafa sudah pergi ke surga saat Nafa baru lahir. Nadia tidak mau kalau sampai Nafa bertanya terus nanti mencari keberadaan ayahnya. “Iya, ayah pasti bahagia melihat kita bahagia ya, Bu? Bi Ima juga mengatakan hal itu sama aku, aku tidak boleh mendoakan ayah dan juga Ibu.” Nadia mengangguk perlahan. Setelah selesai membersi,hkan peralatan makannya, Nadia menyuruh Nafa untuk menata buku-buku yang akan dia bawa ke sekolah besok dan Nadia akan ke gudang sebentar untuk mencari sepatu lamanya. “Ini sepatu lamaku.” Nadia tampak bahagia. Dia langsung mencobanya dan ternyata sepatu itu sudah tidak muat dipakai oleh Nadia. Nadia keluar dari gudang dan berjalan lesu menuju ruang tamu di mana gadis kecilnya sedang sibuk dengan tugas prakaryanya. Nafa kecil melihat ke arah ibunya yang jalan dengan wajah lesu. “Ibu kenapa? Tidak menemukan sepatu milik Ibu?” “Ketemu, Sayang, tapi sudah tidak cukup sama kaki Ibu. Apa ibu begitu gendut, ya? Jadi sepatu milik teman ibu dan ibu sendiri sampai tidak muat?” Nadia duduk lesu pada sofa di ruang tamu. “Ibu tidak gendut, kok, hanya saja tubuh ibu agak besar, tapi Ibuku sangat cantik.” Nafa tersenyum lucu pada ibunya. “Huft! Sama saja itu.” Nadia menghela napasnya panjang. “Ibu, sepatu ibu kan yang rusak hanya salah satu haknya? Bagaimana kalau yang satu dipatahkan saja, jadi biar seimbangn nanti saat ibu pakai?” “Sudah ibu coba, tapi memang susah, hanya saja ibu tidak suka memakai sepatu model flat saat bekerja, rasanya agak aneh. Eh! Bagaimana kalau ibu lem saja sementara, jadi besok ke kantor ibu tidak kebingungan mencari sepatu?” “Ide yang bagus, tapi apa bisa bertahan lama, Bu?” “Dicoba saja. Sebentar ya kalau begitu, ibu mau mengambil lem dulu, nanti setelah sepatu ibu selesai, ibu akan membantu kamu.” Nadia beranjak dari tempatnya dan mencari sepatunya. Beberapa menit kemudian Nadia kembali ke ruang tamu dan dia duduk di karpet bawah membantu putrinya membuat prakaraya tugas sekolahnya. “Kamu sudah membuat apa, Sayang” tanya Nadia duduk di sebelah putrinya. “Ini, aku tempel dengan wajah ibu, hanya tingga membuat ayah, tapi aku tidak memiliki foto ayah, apa Ibu memilki foto ayah?” Nadia seketika menghentikan tangannya yang sedang menggunting kertas lipat. Wanita cantik itu menatap nanar ada putrinya, dia bingung harus mengatakan apa pada putrinya. “Nanti ibu akan mencarikan foto ayah kamu, biar ibu saja yang membuatkan bagian ayahnya dan nanti ibu periksa lagi hasil pekerjaan kamu.” “Aku juga ingin mengetahui foto ayahku, Bu. Apa dia mirip denganku?” Nadia kembali terdiam mendengar pertanyaan putrinya. Apa yang harus di katakan? Wajah Nafa sangat mirip sekali dengan ayahnya, yaitu, Fabio. Mulai dari bentuk wajah, hidung, bahkan matanya memiliki manik berwarna biru seperti ayahnya. Nadia takut sekali jika suatu hari Fabio akan bertemu dengan Nafa, hanya sekali lihat saja Fabio akan tau jika Nafa itu darah dagingnya. “Ibu kenapa diam saja? Apa wajah ayah tidak mirip denganku? Atau aku lebih mirip dengan Ibu?” “Kamu mirip dengan ayah kamu, Sayang, sangat mirip. Nafa, ini sudah malam, sebaiknya kamu tidur dan ibu akan menyelesaikan tugas kamu.” Nadia menggendong putrinya dan membawanya ke kamarnya. Nadia membaringkan putri kecilnya, menutupnya dengan selimut dan mengecup kening gadis kecilnya itu. “Ibu, apa boleh nanti foto ayah aku simpan? Aku ingin menyimpan foto ayah karena aku mau jika tidur nanti aku bisa bermimpi bertemu dengan ayah?” “Nanti ibu akan mencarikan foto ayah kamu. Sebenarnya ibu sudah lama tidak melihat foto-foto ayah kamu karena saat ayah kamu pergi meninggalkan kita, ibu sudah menyimpan rapat-rapat semua kenangan ayah kamu, Sayang. Setiap ibu melihat foto ayah kamu ibu akan merasa sedih jadi ibu memilih menyimpannya saja.” “Kalau hal itu membuat Ibu sedih, aku tidak akan memintanya, Ibu berikan saja foto artis kesukaan aku, nanti aku akan bilang sama bu guru.” “Ide kamu itu ada saja. Ya sudah nanti akan ibu pikirkan, sekarang tidur supaya besok kamu tidak telat bangun pagi.” “Selamat malam, Bu.” Nafa memejamkan kedua matanya. Nadia yang meliha wajah putrinya itu ingin sekali menangis. Kenapa putri kecilnya yang lucu dan tidak bersalah ini harus menerima nasib yang begitu buruk. Dia sangat ingin sekali memiliki keluarga yang utuh. Andai saja waktu itu Fabio tidak meninggalkan dia begitu saja di kamar pengantin mereka, pasti sekarang putri kecilnya itu memiliki sosok ayah yang bisa dia banggakan. Ingatan tentang masa lalunya kembali terbayang dalam pikiran Nadia.  Pagi itu adalah pagi yang sangat membahagiakan untuk Nadia. Dia tampil cantik dengan kebaya pengantinnya duduk di depan cermin. “Aku tidak menyangka jika hari ini aku akan menikah dengan pria yang entah kenapa aku bisa memilik perasaan nyaman dengannya walaupun aku baru mengenal dirinya,” Nadia berdialog sendiri di depan cermin. Tidak lama ponselnya berdering dan dia melihat nama Sasa pada layar ponselnya. Seketika senyum Nadia semakin lebar, dia langsung menjawab panggilan dari sahabatnya. “Nadia! Ya ampun! Kamu ke mana saja? Aku hubungi kamu berkali-kali, tapi kenapa baru dijawab? Kamu serius akan melangsungkan pernikahan hari ini dengan pria blasteran bernama Fabio itu?” “Iya, Sa, maaf ya kalau aku baru menjawab telepon kamu, aku sedang sibuk di sini, ini saja aku masih di kamar sedang dirias.” “Serius? Mana coba aku lihat, ganti video call sama aku.” Mereka kemudian melakukan video call. Tampak wajah sahabat Nadia di seberang telepon sangat terkejut melihat penampilan Nadia yang tampil sangat cantik dengan make up flawessnya. “Kamu ternyata serius akan menikah. Kenapa menikah buru-buru begitu? Aku kan tidak bisa hadir dan melihat kamu dengan Fabio,” ucap Sasa sedih.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD